Kita hidup di zaman ketika manusia modern merasa hampa di dalam dirinya, lalu mengambil kesimpulan yang sangat luar biasa: mungkin suara Tuhan sedang putus-putus karena dosa mengganggu sinyal surgawi.
Bukan karena kurang tidur. Bukan karena delapan jam sehari menatap layar. Bukan karena pekerjaan membuatmu ingin melempar laptop ke laut. Bukan pula karena hidup memang kadang membosankan.
Tidak. Penyebabnya jauh lebih metafisik.
Sang Pencipta Alam Semesta sedang tantrum.
Maka obatnya pun sederhana: lebih banyak ibadah, lebih banyak doa, lebih banyak membaca kitab, dan kalau masih terasa hampa, mungkin imanmu kurang asupan ceramah. Kalau semua itu sudah dilakukan tapi masih kosong juga, ya berarti kurang banyak sedekah dan ibadah.
Logikanya indah. Sedikit mirip teknisi internet yang ketika Wi-Fi mati menyimpulkan bahwa pelanggan tidak percaya kepada operator.
Mari kita uji sebentar.
Kalau rasa haru, kosong, merinding, menangis, atau merasa “tuhan hadir” ketika sedang beribadah adalah bukti keberadaan tuhan, maka notifikasi promo cashback 99% juga layak dipertimbangkan menjadi wahyu.
Sebab, ada yang pernah merinding ketika checkout berhasil. Entah malaikat mana yang bertugas saat itu, tetapi efek spiritualnya sangat meyakinkan.
Masalahnya, merinding bukanlah alat ukur keberadaan Tuhan. Merinding hanya membuktikan satu hal: tubuh kita punya kemampuan luar biasa untuk menghasilkan sensasi yang terasa sangat bermakna.
Dan justru di sinilah pertanyaan yang lebih menarik muncul.
Kalau bukan Tuhan, lalu sebenarnya apa yang sedang kita rasakan?
Kalau bukan suara dari langit, mengapa manusia bisa merasa seolah-olah ada sesuatu yang lebih besar sedang berbicara dari dalam dirinya?
Dan kalau rasa itu nyata, apakah kita benar-benar perlu menambahkan tuhan sebagai penjelasnya?
Nah, ketika ceramah mulai tidak mempan, manusia biasanya melakukan sesuatu yang jauh lebih berbahaya bagi dogma: membaca.
Bukan membaca untuk mencari pembenaran. Tapi membaca untuk mencari tahu mengapa kita bisa merasa seperti itu. Dan di sinilah masalah mulai menjadi tidak sopan. Karena ketika kamu mulai membaca sosiologi dan filsafat, kamu bisa menemukan dua kemungkinan yang jauh lebih mengganggu timbang “tuhan sedang menjauhi dirimu”.
Mungkin yang selama ini kamu sebut jiwa bukanlah sesuatu yang jatuh dari langit. Dan jangan-jangan yang kamu sebut kehadiran tuhan bukan suara dari alam gaib, melainkan sesuatu yang sangat manusiawi. Dengan kata lain:
Mungkin selama ini kita terlalu cepat menyebut sesuatu itu sebagai tuhan, hanya karena kita belum sempat bertanya bagaimana tubuh manusia bekerja.
Jiwamu Bukan Titipan Ilahi. Bisa Jadi Itu Sel Tahanan.
Dalam cerita keagamaan, jiwa biasanya ditempatkan sebagai sesuatu yang sangat istimewa.
Ia berasal dari Tuhan. Ia suci. Ia harus dijaga.
Tubuh hanya semacam kendaraan sementara, sedangkan jiwa adalah penumpang penting dalam tubuh yang sementara ini, yang suatu hari akan dipanggil pulang untuk mempertanggung jawabkan hidupnya.
Menariknya, jika tubuh kita patuh, maka setelah mati kita dijanjikan akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Silakan baca ulang kalimat ini pelan-pelan: setelah mati, mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Kalau dipikir-pikir, ini memang konsep bisnis yang luar biasa. Produk utamanya baru dikirim setelah pelanggan meninggal.
Tetapi kemudian datanglah Michel Foucault dan membuat persoalannya menjadi jauh lebih tidak nyaman.
Dalam Discipline and Punish, Foucault menulis kalimat yang terkenal:
“The soul is the prison of the body.” Jiwalah yang menjadi penjara tubuh.
Bukan tubuh yang memenjarakan jiwa. Terbalik.
Bagi Foucault, “jiwa” bukan sesuatu yang berada di dalam tubuh. Ia merupakan hasil dari mekanisme sosial yang membuat manusia bisa saling mengawasi, menilai, mengoreksi, dan mendisiplinkan dirinya sendiri.
Dan tiba-tiba kalimat “jagalah jiwamu” terdengar sedikit berbeda. Karena sejak kecil kita memang sudah dilatih untuk mengawasi diri sendiri.
Umur enam tahun: duduk yang manis.
Berbaris ketika bel berbunyi.
Minta izin ketika ingin buang air kecil.
Jangan bicara. Jangan bergerak.
Duduk rapi. Dinilai.
Diabsen, Diranking. Dievaluasi.
Lalu lulus sekolah.
Dan sebuah sistem kepatuhan akan berkata:
“Selamat! Sekarang kamu naik ke level yang lebih tinggi.”
Namanya dunia kerja.
Sekarang bukan lagi guru yang menilai.
Ada KPI. Ada evaluasi.
Ada target. Ada appraisal. Ada spreadsheet. Ada atasan yang berkata, “Kita anggap ini sebagai kesempatan untuk berkembang.”
Kalimat yang secara historis terbukti jauh lebih menakutkan daripada kutukan.
Yang berubah hanya satu: dulu kita dikontrol tanpa gaji, sekarang kita digaji untuk dikontrol.
Maka ketika seseorang merasa hampa pada pukul sebelas malam, mungkin itu tidak berarti tuhan sedang merindukannya. Itu cuma tubuh yang lelah hidup di bawah pengawasan yang tidak pernah benar-benar mati.
Tatapan guru. Orang tua. Pasangan. Atasan. Tetangga. Masyarakat.
Dan akhirnya, yang paling efektif:
tatapan kita sendiri kepada diri kita sendiri.
Kita tidak perlu lagi sipir penjara. Kita sudah membawa sipir ke dalam kepala. Itulah bagian paling jenius dari disiplin. Bagian paling penting dari agama dan tuhan.
Penjara terbaik adalah penjara yang membuat narapidana ikut menjaga pintunya.
Jadi ketika kita mencari ketenangan jiwa melalui sistem yang sejak awal mengajari kita untuk terus mengawasi jiwa, kita mungkin sedang melakukan sesuatu yang agak lucu.
Kita meminta kunci kebebasan kepada sipir, lalu terkejut ketika jawabannya berupa jadwal.
Kalau begitu, dari mana datangnya sensasi “Tuhan hadir” yang begitu kuat ketika kita berkumpul dan beribadah?
Untuk pertanyaan itu, Foucault saja tidak cukup. Kita butuh yang lain.
Dan yang lain itu adalah Émile Durkheim.
Tuhan, Bisa Jadi, Adalah Nama yang Kita Berikan kepada Perasaan Saat Berjamaah
Kalau Foucault membantu kita melihat bagaimana “jiwa” bisa dibentuk oleh masyarakat, Durkheim membawa kita ke tempat yang lebih ramai.
Karena manusia ternyata tidak hanya pandai merasa bersalah sendirian. Manusia juga sangat pandai merasa sakral bersama-sama.
Durkheim mempelajari agama sebagai fenomena sosial dan memperhatikan sesuatu yang menarik: ketika manusia berkumpul dalam ritual, menyanyikan hal yang sama, bergerak bersama, memperhatikan simbol yang sama, dan merasakan emosi yang sama, muncul energi psikologis yang sangat kuat.
Ia menyebutnya collective effervescence.
Kegairahan kolektif. Dan efeknya bisa sangat kuat. Jantung berdebar. Bulu kuduk berdiri. Air mengucur deras. Tubuh terasa ringan. Waktu terasa berjeda.
Tiba-tiba muncul perasaan:
“Aku sedang mengalami sesuatu yang lebih besar daripada diriku.”
Lalu seseorang berdiri di depan dan berkata:
“tuhan sedang bekerja dalam dirimu.”
Selesai.
Masalah selesai.
Setidaknya untuk sementara.
Durkheim menawarkan kemungkinan yang lebih mengganggu:
bagaimana kalau yang kamu rasakan memang nyata, tetapi penjelasan tentang tuhan yang kamu tempelkan padanya belum tentu benar?
Ini penting.
Karena pengalaman itu tidak harus palsu hanya karena tuhan tidak diperlukan sebagai penjelasan.
Kamu benar-benar merinding. Kamu benar-benar menangis. Kamu benar-benar merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.
Tetapi sensasi yang sama ternyata bisa muncul dalam banyak situasi yang sama sekali tidak membutuhkan malaikat.
Konser. Stadion. Upacara kenegaraan. Demonstrasi. Pemakaman. Paduan suara.
Bahkan sekumpulan manusia yang menyanyi bersama sambil menunggu band favorit naik panggung. Coba berdiri di tengah stadion ketika puluhan ribu orang menyanyikan lagu yang sama.
Merinding? Bisa.
Merasa terhubung? Bisa.
Merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar?
Sangat bisa. Bedanya cuma satu.
Di stadion, kita biasanya berkata: “Gila, atmosfernya luar biasa.”
Di rumah ibadah, kita berkata: “tuhan hadir.”
Padahal tubuh kita tidak menerima memo dari langit mengenai perbedaan keduanya.
Itulah bagian yang menarik.
Mungkin pengalaman sakral bukan kebohongan.
Mungkin interpretasinya yang terlalu cepat.
Dan di sinilah gagasan Durkheim menjadi sangat mengganggu.
Sebab jika energi yang kita rasakan ketika bersama-sama memang lahir dari hubungan sosial kita sendiri, maka sesuatu yang kita sebut “kehadiran Tuhan” bisa saja merupakan pengalaman manusia yang kemudian diberi nama ilahi.
Manusia berkumpul. Manusia bernyanyi. Manusia menangis. Manusia merasakan kebersamaan.
Lalu manusia berkata: “tuhan ada di sini.”
Durkheim kira-kira akan menjawab: “Atau mungkin kalian memang sedang ada di sini. Bersama-sama.”
Dan mendadak tuhan tidak lagi terlihat seperti sumber energi dari langit. Ia terlihat seperti cermin. Masyarakat berkumpul, memantulkan kekuatannya sendiri, lalu terpesona melihat pantulannya. Kemudian pantulan itu diberi nama.
Diberi kitab. Diberi aturan. Diberi pakaian khusus. Diberi hari khusus.
Dan akhirnya, kalau ada yang mempertanyakannya, diberi ancaman khusus.
Begitulah manusia.
Kita bisa membuat sesuatu sendiri, melupakan bahwa kita yang membuatnya, lalu berdebat selama berabad-abad tentang apa yang sebenarnya diinginkan ciptaan kita.
Jadi Sebenarnya Apa yang Hilang Ketika Kita Merasa Hampa?
Sampai di sini kita kembali ke pertanyaan pertama. Kenapa manusia merasa hampa?
Mungkin jawabannya tidak sesederhana “karena tuhan menjauh”.
Bisa jadi yang hilang bukan tuhan. Bisa jadi yang hilang adalah rasa terhubung.
Rasa memiliki. Rasa bebas. Rasa bahwa hidup kita mempunyai arti yang kita pilih sendiri. Dan anehnya, ketika semua itu hilang, kita sering mencari jawabannya di tempat paling jauh:
langit.
Padahal mungkin masalahnya ada sangat dekat.
Di kepala. Di tubuh. Di hubungan kita dengan orang lain. Di pekerjaan yang menghabiskan hidup. Di masyarakat yang terus meminta kita menjadi sesuatu yang bukan diri kita.
Di kehidupan modern yang membuat kita bisa terhubung dengan jutaan manusia melalui internet, tetapi tetap makan malam sendirian sambil menatap layar.
Lalu kita bertanya:
“Mengapa tuhan terasa jauh?”
Mungkin karena yang jauh bukan tuhan. Kita yang jauh dari manusia lain.
Dan kalau begitu, mungkin obatnya bukan menambah dosis metafisika.
Mungkin kita hanya perlu kembali menjadi manusia.
Kalau Tuhan Ada, Mengapa Moral Harus Dibantu dengan Ancaman?
Di sinilah persoalannya menjadi lebih menarik. Jika Tuhan memang sumber moralitas mutlak, kita seharusnya bisa membedakan antara moralitas dan kepatuhan. Tetapi dalam banyak sistem keagamaan, keduanya sering dicampur.
Jangan berbuat jahat karena itu salah. Bagus. Tetapi kemudian ditambahkan:
Jangan berbuat jahat karena tuhan melihat. Jangan berbuat jahat karena nanti dihukum.Berbuat baiklah karena akan mendapat pahala. Dan tiba-tiba moralitas berubah menjadi sistem reward and punishment kosmis.
Seperti KPI, tetapi kantornya alam semesta.
Kita tidak lagi bertanya: “Apakah ini menyakiti manusia lain?”
Kita bertanya: “Apakah tuhan mengizinkan?”
Dan itu pergeseran yang sangat besar. Sebab sesuatu yang seharusnya menjadi pertimbangan manusiawi berubah menjadi persoalan kepatuhan terhadap otoritas. Di titik itu, moralitas bukan lagi tentang memahami penderitaan orang lain. Ia menjadi tentang mendapatkan persetujuan dari pengawas tertinggi.
Dan kalau manusia hanya berbuat baik karena takut diawasi, pertanyaan yang agak menyebalkan muncul:
sebenarnya yang kita punya itu moralitas, atau kepatuhan yang sangat takut ketahuan?
Mungkin itulah mengapa gagasan bahwa moralitas harus berasal dari tuhan terasa begitu nyaman. Karena kita tidak perlu berpikir terlalu jauh.
Tuhan sudah menentukan. Kitab sudah menuliskan. Ulama sudah menjelaskan. Kita tinggal patuh.
Masalahnya, manusia berubah. Pengetahuan berubah. Pandangan tentang hak berubah. Pemahaman tentang penderitaan berubah. Dan moralitas manusia terus bergerak.
Maka pertanyaan yang jauh lebih penting bukan:
“Apakah tuhan punya moralitas?”
Melainkan:
“Kalau tuhan adalah sumber moralitas, mengapa manusia harus terus memperbaiki cara memahami moralitas itu?”
Dan di sinilah manusia kembali berada di depan cermin.
Mungkin yang kita sebut “moral tuhan” selama ini juga tidak pernah benar-benar datang dalam bentuk yang bisa diperiksa.
Yang datang hanyalah teks. Yang datang hanyalah tafsir.
Yang datang hanyalah manusia yang mabuk jamur lalu berkata:
“tuhan berkata begini.”
Masalahnya sederhana. tuhan tidak pernah duduk di meja debat. Yang duduk di sana selalu manusia.
Mungkin Kekosongan Itu Bukan Tanda Tuhan Pergi
Jadi kalau malam ini kamu kembali merasa hampa, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa Tuhan sedang menjauh. Jangan pula langsung menuduh dirimu kurang iman.
Coba periksa hal-hal yang lebih dekat. Sudah tidur cukup?
Sudah berbicara dengan manusia yang benar-benar kamu percaya?
Sudah berhenti menatap layar sebentar?
Sudah melakukan sesuatu yang memang kamu sukai?
Sudah punya hidup yang kamu pilih sendiri?
Atau jangan-jangan selama ini kamu hanya terlalu sibuk memenuhi ekspektasi orang lain sampai lupa bertanya apa yang sebenarnya kamu inginkan?
Mungkin rasa hampa tidak selalu merupakan lubang yang harus diisi Tuhan.
Mungkin ia hanya ruang yang belum kita isi dengan kehidupan kita sendiri.
Dan mungkin itu sebabnya manusia membutuhkan agama. Bukan selalu karena Tuhan berbicara. Tetapi karena manusia tidak tahan mendengar kesunyian.
Maka kita menciptakan suara. Kita menyebutnya wahyu.
Kita menciptakan rasa kebersamaan. Kita menyebutnya ibadah.
Kita menciptakan aturan untuk mengendalikan diri dan orang lain. Kita menyebutnya moralitas.
Dan ketika semua itu terasa sangat kuat, kita melihat ke atas dan berkata:
“tuhan hadir.”
Mungkin.
Tetapi ada satu kemungkinan lain yang jauh lebih sederhana.
Mungkin yang hadir sejak awal memang hanya manusia.
Manusia yang takut sendirian. Manusia yang ingin hidupnya bermakna. Manusia yang ingin merasa dicintai. Manusia yang ingin tahu bahwa penderitaannya punya alasan. Dan manusia yang begitu takut pada kekosongan sehingga menciptakan sesuatu untuk mengisinya. Lalu sesuatu itu diberi nama tuhan.
Ironisnya, setelah ribuan tahun, kita masih sibuk mencari tuhan di langit. Padahal mungkin pertanyaan yang lebih sulit justru ada di depan kita:
Bisakah manusia hidup bermoral, bermakna, dan saling mencintai tanpa harus mengarang pengawas di langit?
Kalau jawabannya bisa, maka mungkin yang paling menakutkan bukanlah hidup tanpa tuhan.
Yang paling menakutkan adalah menyadari bahwa setelah tuhan kita keluarkan dari persamaan, tanggung jawab akhirnya kembali kepada kita.
Tidak ada lagi yang bisa disalahkan.
Tidak ada lagi setan.
Tidak ada lagi takdir.
Tidak ada lagi “ini kehendak ilahi.”
Hanya manusia. Dengan pilihan-pilihannya. Dengan akibat-akibatnya. Dan dengan satu pekerjaan yang tidak bisa didelegasikan kepada siapa pun:
membuat hidup ini bermakna.
Mungkin itulah kabar buruknya. Tapi mungkin juga itu kabar terbaik yang pernah kita dapatkan. Karena kalau memang tidak ada yang datang untuk menyelamatkan kita dari kekosongan,
setidaknya kita akhirnya sadar bahwa tangan yang kita tunggu dari langit ternyata adalah tangan kita sendiri.
.png)
Comments
Post a Comment