Murid yang Dilarang Memukul, Guru Membakar Atas Perintah Surga Bayangkan sebuah kelas kecil di sudut kampungmu. Seorang guru berdiri di depan kelas, mengangkat jarinya tinggi-tinggi, sambil berkata: “Jangan memukul temanmu. Itu jahat. Itu dosa!” Murid-murid mengangguk. Lalu, pada suatu kesempatan, guru yang sama membakar satu rumah di sebelah sekolah dan menyatakan bahwa perbuatannya adalah wahyu dari surga, yang datang lewat mimpinya. Aneh? Gak juga, sh. Seperti itulah kira-kira hubungan manusia dengan moralitas yang diklaim turun langsung dari tuhan dewa allah, melalui buku yang dianggap suci. Jujur, sebagian besar peradaban ini tumbuh dengan satu narasi besar: “Tanpa Tuhan, manusia akan menjadi liar, semaunya sendiri dan tentu saja tidak punya turan. Tanpa kitab suci, manusia akan saling memangsa & bengis tanpa konsekuensi (surga dan neraka).” Padahal realitas hari ini justru berkata sebaliknya. Manusia modern, menolak perbudakan. Manusia yang tahu kalau dirinya manusia pasti me...
Kekerasan adalah bagian dari sejarah manusia. Bahkan bisa disebut sebagai “bahasa universal” yang dipahami semua kelompok, jauh sebelum ada alfabet, kitab suci Abrahamik, bahkan ketika emoji sudah dibikin filmnya. Dalam antropologi, kekerasan selalu muncul sebagai mekanisme bertahan hidup sekaligus cara menyelesaikan konflik; dari perebutan wilayah berburu, ritual pengorbanan, sampai penaklukan peradaban. Sosiolog klasik seperti Émile Durkheim melihatnya sebagai bagian dari proses menjaga kohesi kelompok: musuh di luar dipukul dulu, baru kita bisa duduk di dalam rumah dengan tenang. Singkatnya, sejak awal peradaban, manusia lebih percaya pada batu dan tombak daripada meja bundar atau “dialog kebangsaan.”
Tapi ada satu “inovasi kekerasan” yang cukup unik: ketika kekerasan dilabeli nama ‘tuhan dewa allah.’ Begitu naik level jadi “perintah dari langit,” kekerasan berubah dari sekadar pembantaian menjadi ritual suci. Kalau ada warga kampung merampok lalu membantai tetangga yang mengusirnya, ia pasti dipenjara atau divonis mati. Tapi kalau seseorang itu bernama Muhammad, kisah perampokan dan pembantaian itu justru dibacakan berulang-ulang di mimbar sebagai kisah keteladanan iman. Ya, perintah ilahi memang ajaib: mampu mengubah status moral dari kriminal jadi sakral. Seperti software bajakan yang diberi label asli, lalu dipakai resmi di kantor pemerintah.
Kenapa bisa begitu? Jawabannya tidak sesederhana “iman buta” atau “fanatisme.” Dalam kerangka sosiologi dan antropologi, agama bukan hanya mengatur hubungan manusia dengan yang transenden, tetapi juga bekerja sebagai mesin kohesi sosial dan legitimasi kekuasaan. Émile Durkheim menyebut agama sebagai “perekat sosial” yang menyatukan komunitas. René Girard menambahkan, pengorbanan adalah mekanisme untuk meredakan konflik internal. Sementara Max Weber menekankan peran agama sebagai sumber legitimasi politik. Sejarah politik kita jelas jadi buktinya: agama dipakai membungkus keputusan kotor penguasa dengan parfum surga. Kekerasan religius, dengan demikian, bukan sekadar luapan emosi massa, melainkan strategi kuasa yang diberi cap resmi: “perintah Allah.”
Kenapa, sih, “perintah Allah” begitu efektif jadi justifikasi kekerasan? Karena ia bukan cuma datang dari otoritas tertinggi, tapi juga menutup pintu negosiasi moral. Kalau orang tuamu menyuruhmu membunuh, kamu masih bisa debat. Tapi kalau Allah menuliskan perintahnya, siapa yang berani bilang tidak? Apalagi perintah itu dikemas lengkap dengan paket bonus dan malus: pahala surga untuk yang patuh, neraka kekal untuk yang menolak. Kombinasi ini menjadikan “perintah Allah” salah satu teknologi kekuasaan paling ampuh sepanjang sejarah.
Faktanya, tradisi Abrahamik penuh dengan kisah-kisah di mana Allah tampil sebagai ‘arsitek kekerasan.’ Dalam Al-Qur’an, ada perintah Ibrahim untuk menyembelih anaknya (QS. Ash-Shaffat 37:102–107)—hampir jadi child sacrifice, tapi malah dirayakan tiap tahun dalam Idul Adha. Ada instruksi “perangilah orang-orang musyrik di sekitarmu” (QS. At-Taubah 9:123), atau anjuran “bunuhlah orang kafir di mana saja kamu temui mereka” (QS. Al-Baqarah 2:191). Belum lagi kisah Bani Qurayza yang dieksekusi massal (QS. Al-Ahzab 33:26–27). Di luar Islam, ada perintah pembantaian bangsa Amalek beserta anak-anak dan ternaknya dalam Perjanjian Lama, serta Perang Salib yang menjadikan Tuhan seolah-olah jenderal perang dengan janji surga sebagai gaji. Dari perspektif modern, semua ini bisa dikategorikan sebagai genosida atau kejahatan perang. Tapi dalam narasi religius, kisah-kisah itu dipoles jadi bukti ketaatan, kesucian, bahkan teladan iman. Kalau geng motor sweeping disebut kriminal, maka ketika FPI melakukannya, tiba-tiba berubah jadi jihad suci dengan tiket VIP surga sebagai bonus gaji.
Dan fenomena ini jelas tidak berhenti di masa lalu. Hingga kini, “perintah Allah” tetap jadi lisensi kekerasan. Bom bunuh diri, persekusi terhadap kelompok minoritas, hingga konflik bersenjata modern, semuanya bisa dengan mudah menemukan justifikasi dalam ayat atau tafsir yang dianggap sakral. Agama masih menjadi salah satu instrumen paling efektif untuk mengubah kekerasan banal menjadi kekerasan yang bermakna.
Karena itu, membicarakan kekerasan religius tidak cukup hanya dengan kritik moral atau tafsir teologis. Kita perlu membongkarnya sebagai fenomena sosial, politik, dan historis: bagaimana teks, simbol, dan institusi agama bekerja memproduksi legitimasi kekerasan. Dengan kacamata sosiologi, antropologi, dan filsafat moral, kita akan sadar bahwa “perintah Allah” bukan sekadar suara gaib dari langit, tapi strategi duniawi yang dipakai manusia untuk mengendalikan manusia lainnya.

Comments
Post a Comment