Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2025

WAHYU DARI SUDUT PANDANG TELESKOP: MENGAPA BIG BANG DAN SAINS BUKAN KEYAKINAN

Halo, sesama primata tak berbulu yang kebetulan masih diberi kesempatan menghirup oksigen. Ada satu kesalahpahaman kosmis yang entah kenapa masih terus bereinkarnasi di kolom-kolom komentar internet.  "Kalau kamu bisa percaya Big Bang, artinya kamu juga punya agama."  Jawabnya: TIDAK!  Kalau ada yang berkata, "Saya percaya bumi mengelilingi Matahari," bukan berarti Matahari resmi menjadi tuhan, karena terselip kata “percaya”. So, yang membedakan antara model ilmiah dengan kepercayaan itu bukan “ada atau tidak adanya keyakinan”, tapi cara keyakinan itu diperoleh, kemudian diteliti, diuji, dan kalau tidak terbukti buang ke tempat sampah.  Big Bang Tidak Punya Kitab Suci  Banyak orang mengira kosmologi adalah agama dengan seragam laboratorium, agama dengan tuhan ilmiah atau menyembah ilmu pengetahuan.  Pertanyaan berikutnya: "Jadi kalian mengimani bahwa alam semesta berasal dari ledakan?"  Jawabnya: TIDAK!  Saya “menerima” bukan “mengimani” model ...

TUHAN LUPA MEMANUSIAKAN MANUSIA ATAU TUHAN MEMANG TIDAK BERMORAL

Coba bayangkan hidup di dunia tanpa RT/RW , tanpa KTP , SIM , paspor , atau akta kelahiran . Kedengarannya sepele, kan? Tapi tanpa dokumen dokumen itu, kita “hilang” dari sistem sosial. Anak lahir tanpa akta, bisa dianggap tidak ada; orang mati tanpa surat kematian, bisa dianggap masih hidup, minimal masih ada dalam daftar pemilih tetap. Di dunia modern, eksistensi kita bukan cuma soal bernapas, tapi soal apakah nama kita tercatat rapi dalam arsip negara. Identitas kita bukan sekadar wajah atau suara, tapi juga nomor seri resmi yang dicetak di selembar kertas bercap kota. Selain dokumen, ada yang menjaga kita dari kekacauan, yaitu hukum. Aturan lalu lintas misalnya, kalau semua orang nyupirnya kayak Fast & Furious, jalan raya jadi Hunger Games . Jika hukum gagal, masih ada polisi tak terlihat  yang bernama opini publik . Kita pakai baju aneh, orang menatap; kita buang sampah sembarangan, orang merekam. Malu bisa jadi hukuman lebih tajam daripada denda. Hidup modern pada dasarn...

GENOSIDA BERSAMA TUHAN: DARI AMALEK SAMPAI AT-TAUBAH, KEKERASAN JADI TIKET SURGA

  Kekerasan adalah bagian dari sejarah manusia. Bahkan bisa disebut sebagai “bahasa universal” yang dipahami semua kelompok, jauh sebelum ada alfabet, kitab suci Abrahamik, bahkan ketika emoji sudah dibikin filmnya. Dalam antropologi, kekerasan selalu muncul sebagai mekanisme bertahan hidup sekaligus cara menyelesaikan konflik; dari perebutan wilayah berburu, ritual pengorbanan, sampai penaklukan peradaban. Sosiolog klasik seperti Émile Durkheim melihatnya sebagai bagian dari proses menjaga kohesi kelompok: musuh di luar dipukul dulu, baru kita bisa duduk di dalam rumah dengan tenang. Singkatnya, sejak awal peradaban, manusia lebih percaya pada batu dan tombak daripada meja bundar atau “dialog kebangsaan.” Tapi ada satu “inovasi kekerasan” yang cukup unik: ketika kekerasan dilabeli nama ‘tuhan dewa allah.’ Begitu naik level jadi “perintah dari langit,” kekerasan berubah dari sekadar pembantaian menjadi ritual suci. Kalau ada warga kampung merampok lalu membantai tetangga yang meng...