Ada anggapan yang cukup lucu tentang atheis: begitu seseorang berhenti percaya kepada Tuhan, moralnya ikut menguap. Seolah-olah selama ini manusia tidak mencuri karena takut Tuhan melihat, tidak membunuh karena malaikat sedang mencatat, dan tidak menipu karena ada CCTV gaib yang dipasang di langit. Maka ketika seseorang menjadi atheis, katanya, semua rem langsung blong—besok paginya bangun, sarapan, lalu mencari korban. Logikanya kira-kira begini: hapus Tuhan, hapus moral. Kalau benar begitu, berarti sebagian manusia selama ini berbuat baik bukan karena memahami bahwa orang lain bisa terluka, melainkan karena takut ketahuan. Itu bukan kabar yang terlalu menggembirakan bagi spesies yang mengaku sebagai makhluk bermoral. Sebab kalau satu-satunya alasan kita tidak berbuat jahat adalah karena ada yang mengawasi, masalahnya mungkin bukan ketiadaan Tuhan. Masalahnya adalah kita belum benar-benar memahami apa itu moralitas. Atheis Juga Manusia Coba kita sederhanakan. Ketika menemukan dom...
Pernahkah kamu bertanya (memiringkan kepala, sambil menekan tombol kepekaan di telinga)mengapa hidup ini seperti tanpa kisi kisi, tapi punya kebebasan menjawab apa saja, bahkan dengan jawaban yang paling absurd sekalipun? Percaya atau tidak, hidup ini adalah panggung bebas. Setiap manusia dikasih hak istimewa: hak untuk memilih jalan hidup, bahkan jalan buntu sekalipun. Termasuk pilihan yang bikin malaikat pengen resign dan setan terpaksa ambil cuti burnout. Lucunya, kebebasan sering dikemas rapi dalam label spiritual: “anugerah dari Tuhan.” Seolah setelah melempar remote kontrol ke kita, tuhan duduk manis di sofa langit, nonton kita pindah pindah channel hidup, sambil ngemil popcorn dan update status: “Sabar, semuanya dalam skenario-Ku.” Wait, rencana siapa, ya? Rencana yg mana? Rencana Tuhan Netflix? Dewa YouTube? Atau Allah TikTok versi 2.0? Kalau dilihat di kolom komentar semesta, manusia hak memilih percaya bumi datar, atau ikut seminar kiamat di hotel bintang 5. Lalu ke mana peri...