Skip to main content

Posts

Showing posts from May, 2025

WAHYU DARI SUDUT PANDANG TELESKOP: MENGAPA BIG BANG DAN SAINS BUKAN KEYAKINAN

Halo, sesama primata tak berbulu yang kebetulan masih diberi kesempatan menghirup oksigen. Ada satu kesalahpahaman kosmis yang entah kenapa masih terus bereinkarnasi di kolom-kolom komentar internet.  "Kalau kamu bisa percaya Big Bang, artinya kamu juga punya agama."  Jawabnya: TIDAK!  Kalau ada yang berkata, "Saya percaya bumi mengelilingi Matahari," bukan berarti Matahari resmi menjadi tuhan, karena terselip kata “percaya”. So, yang membedakan antara model ilmiah dengan kepercayaan itu bukan “ada atau tidak adanya keyakinan”, tapi cara keyakinan itu diperoleh, kemudian diteliti, diuji, dan kalau tidak terbukti buang ke tempat sampah.  Big Bang Tidak Punya Kitab Suci  Banyak orang mengira kosmologi adalah agama dengan seragam laboratorium, agama dengan tuhan ilmiah atau menyembah ilmu pengetahuan.  Pertanyaan berikutnya: "Jadi kalian mengimani bahwa alam semesta berasal dari ledakan?"  Jawabnya: TIDAK!  Saya “menerima” bukan “mengimani” model ...

VALIDASI EMOSI & EKSITENSI DIRI (kenapa tuhan tidak diperlukan)

Pernahkah kamu bertanya (memiringkan kepala, sambil menekan tombol kepekaan di telinga)mengapa hidup ini seperti tanpa kisi kisi, tapi punya kebebasan menjawab apa saja, bahkan dengan jawaban yang paling absurd sekalipun? Percaya atau tidak, hidup ini adalah panggung bebas. Setiap manusia dikasih hak istimewa: hak untuk memilih jalan hidup, bahkan jalan buntu sekalipun. Termasuk pilihan yang bikin malaikat pengen resign dan setan terpaksa ambil cuti burnout. Lucunya, kebebasan sering dikemas rapi dalam label spiritual: “anugerah dari Tuhan.” Seolah setelah melempar remote kontrol ke kita, tuhan duduk manis di sofa langit, nonton kita pindah pindah channel hidup, sambil ngemil popcorn dan update status: “Sabar, semuanya dalam skenario-Ku.” Wait, rencana siapa, ya? Rencana yg mana? Rencana Tuhan Netflix? Dewa YouTube? Atau Allah TikTok versi 2.0? Kalau dilihat di kolom komentar semesta, manusia hak memilih percaya bumi datar, atau ikut seminar kiamat di hotel bintang 5. Lalu ke mana peri...

WAHYU DAN BRANDING TUHAN

Zaman telah berubah. Wahyu tidak lagi turun dari langit, tidak berbicara dalam rupa semak berduri yg terbakar, tidak pula mengirim bola bola api yang menciutkan hati para penakut. Hari ini, wahyu datang naik ferari, cecunguknya menebar flyer, atau membuat iklan YouTube, dan kadang... lukisan bak truk. Dulu untuk mendapat wangsit harus naik gunung paling tinggi di sekitarnya, (FYI, belum ada utusan tuhan yg naik ke puncak himalaya untuk mencari pencerahan). Nabi nabi sekarang, atau yang mengaku imam besar cukup scroll akun Instagram motivasi religi. Ajaib, pesan ilahi tetap laku, walau medianya berubah total. Apa sih yang sedang terjadi? Apakah tuhan memang ahli komunikasi lintas zaman, atau jangan jangan sudah tak bisa lagi membedakan mana spiritualitas dan strategi pemasaran? “Prophets were not mere messengers—they were social reformers who had to make the divine relevant to their time.” — Karen Armstrong, The Battle for God Bayangkan skenario ini: sebuah perusahaan kosmik maha besar ...

NERAKA, BABYSITTER ILAHI YANG KEJAM

Ketika inguistik memicingkan mata pada teologi dengan Penuh Pujian, Keheranan, dan Mungkin Sedikit Sindiran Bahasa, ciptaan manusia yang paling mulia sekaligus paling licik. Ia mampu membuat seorang diktator menjadi "Bapak Pembangunan", membungkus kegagalan menjadi "tinggal landas", dan yang paling spektakuler, mengubah neraka (tempat penyiksaan abadi dan gambaran kekejian) menjadi ungkapan cinta yang ilahi. Sebuah surat cinta, tapi dengan lampiran ancaman yang super duper keji. Bisa dibayangkan? Seperti pesulap tua di pasar malam, bahasa mampu menyulap siksaan menjadi keselamatan, kekejian menjadi b abysitter ilahi, dan tuhan menjadi... (baca:titik titik). Titik titik diisi oleh dan tergantung pada siapa yang berceramah dan dari buku suci mana atau terbitan siapa yang dibacakan hari itu. Bahasa bukan sekedar alat komunikasi; ia adalah senjata mematikan, yang tidak ditembakkan dengan peluru, melainkan dengan metafora. Ludwig Wittgenstein, filsuf yang hobi main teka...

DEBAT PARA DEWA: METAMORFOSIS MORALITAS

  Di sebuah planet kecil yang mengorbit sebuah bintang kelas menengah di pinggiran galaksi biasa, spesies yang baru saja belajar bertani dan mengendalikan api tiba-tiba mendeklarasikan diri mereka sebagai pusat semesta. Mereka mendongak ke langit malam yang bertabur bintang, dan alih-alih terkagum oleh kebesaran alam semesta yang dingin dan penuh misteri, mereka memilih membuat cerita. Cerita tentang dewa, tentang hukum yang datang dari langit, tentang moralitas yang diimpor langsung dari surga yang entah berapa jaraknya dari bumi. Dulu, kepala suku atau kepala gank sangat ditakuti. Apa pun perintahnya pasti diikuti. “Jangan ambil istri tetangga!” Ya, artinya jangan. Gak pake debat, gak pake polling sosial media, apalagi nulis thread panjang di Twitter atau curcot di Tik-tok. Moralitas yang sangat sederhana,kan. Kalau berani ngeyel, siap-siap saja menjadi contoh. Kalau tersambar petir, dimangsa binatang, kamu akan di othak athik gathuk- kan dengan pelanggaran moral. Atau ketika di...