Halo, sesama primata tak berbulu yang kebetulan masih diberi kesempatan menghirup oksigen. Ada satu kesalahpahaman kosmis yang entah kenapa masih terus bereinkarnasi di kolom-kolom komentar internet. "Kalau kamu bisa percaya Big Bang, artinya kamu juga punya agama." Jawabnya: TIDAK! Kalau ada yang berkata, "Saya percaya bumi mengelilingi Matahari," bukan berarti Matahari resmi menjadi tuhan, karena terselip kata “percaya”. So, yang membedakan antara model ilmiah dengan kepercayaan itu bukan “ada atau tidak adanya keyakinan”, tapi cara keyakinan itu diperoleh, kemudian diteliti, diuji, dan kalau tidak terbukti buang ke tempat sampah. Big Bang Tidak Punya Kitab Suci Banyak orang mengira kosmologi adalah agama dengan seragam laboratorium, agama dengan tuhan ilmiah atau menyembah ilmu pengetahuan. Pertanyaan berikutnya: "Jadi kalian mengimani bahwa alam semesta berasal dari ledakan?" Jawabnya: TIDAK! Saya “menerima” bukan “mengimani” model ...
Pernahkah kamu bertanya (memiringkan kepala, sambil menekan tombol kepekaan di telinga)mengapa hidup ini seperti tanpa kisi kisi, tapi punya kebebasan menjawab apa saja, bahkan dengan jawaban yang paling absurd sekalipun? Percaya atau tidak, hidup ini adalah panggung bebas. Setiap manusia dikasih hak istimewa: hak untuk memilih jalan hidup, bahkan jalan buntu sekalipun. Termasuk pilihan yang bikin malaikat pengen resign dan setan terpaksa ambil cuti burnout. Lucunya, kebebasan sering dikemas rapi dalam label spiritual: “anugerah dari Tuhan.” Seolah setelah melempar remote kontrol ke kita, tuhan duduk manis di sofa langit, nonton kita pindah pindah channel hidup, sambil ngemil popcorn dan update status: “Sabar, semuanya dalam skenario-Ku.” Wait, rencana siapa, ya? Rencana yg mana? Rencana Tuhan Netflix? Dewa YouTube? Atau Allah TikTok versi 2.0? Kalau dilihat di kolom komentar semesta, manusia hak memilih percaya bumi datar, atau ikut seminar kiamat di hotel bintang 5. Lalu ke mana peri...