Di sebuah planet kecil yang mengorbit sebuah bintang kelas menengah di pinggiran galaksi biasa, spesies yang baru saja belajar bertani dan mengendalikan api tiba-tiba mendeklarasikan diri mereka sebagai pusat semesta. Mereka mendongak ke langit malam yang bertabur bintang, dan alih-alih terkagum oleh kebesaran alam semesta yang dingin dan penuh misteri, mereka memilih membuat cerita. Cerita tentang dewa, tentang hukum yang datang dari langit, tentang moralitas yang diimpor langsung dari surga yang entah berapa jaraknya dari bumi.
Dulu, kepala suku atau kepala gank sangat ditakuti. Apa pun perintahnya pasti diikuti.
“Jangan ambil istri tetangga!”
Ya, artinya jangan. Gak pake debat, gak pake polling sosial media, apalagi nulis thread panjang di Twitter atau curcot di Tik-tok.
Maka, jika yang terhukum mati tersambar atau dimangsa, maka benarlah kesalahannya, dan benarlah bahwa ‘roh nenek moyang’ sedang datang menghukum
Nenek moyang yang kemudian disebut para dewa pun akhirnya punya waktu kerja. Waktu kerja yang mirip grup WhatsApp yang hobi ngirim broadcast hoax.
Pokoknya, segala yang gak bisa dijelaskan, pasti ulah dewa. Simple. Seperti jawaban anak-anak zaman sekarang: “Karena emang gitu aja.”
Lalu, suatu hari di tanah Babilonia yang panas dan penuh jebakan politik, muncul Hukum Hammurabi. Ini bisa dibilang kayak peraturan kompleks pertama yang diukir di batu — semacam peraturan kos yang isinya absurd:
“Kalau maku poster di tembok, tangan dipotong.
Kalau minum susu di kulkas yang bukan milikmu tanpa izin, siap-siap dilempar dari lantai paling atas.
Dewa-dewa lokal kos pun bangga: “Nah, gitu dong, ada setiap kos ada SOP-nya.”
Tapi tetep aja, semua hukum itu di-backup oleh otoritas pokoknya. Pokoknya, yang ngatur dewa. Mau beradu argumen? Kamu diusir dari kos-kosan. Pokoknya, apapun masalah dan pertanyaannya, Tinggal bilang, “Ini titah dewa.” No, debat!
KAPITALISASI MORAL: TUHAN SEBAGAI BRANDING
Waktu berjalan, Tuhan dan para dewa makin lihai bikin branding.
Lalu datanglah Musa, dengan gimmick ikonik: sepuluh perintah Allah yang diukir di batu — kayak Terms & Conditions yang gak bisa di-scroll sampe bawah.
Pokoknya, masih dipakai. Pokoknya kalau gak setuju, ya tinggal siap-siap di-ban dari komunitas, atau disuruh exile ke padang pasir tanpa sinyal.
Edannya, umat nurut. Moralitas jadi seperti franchise makanan cepat saji.
Satu menu untuk semua. Mau protes rasa? Gak bisa.
Mau tanya kenapa? Jawabannya selalu sama: “Rahasia dapur tuhan.”
ERA ORANG-ORANG YANG KEBANYAKAN NGANGGUR DAN KEBANYAKAN MIKIR
Namun, di pojokan Laut Tengah, di sebuah café terbuka, di bawah pohon kamboja, ngobrollah Socrates, Plato, Aristoteles, serta geng filsuf lainnya sambil rebahan dan minum beer.
Mereka, adalah kaum yang gak punya Netflix atau TikTok, dan memilih hiburan lain: mikir berjamaah.
Socrates mulai dengan sebuah pertanyaan, “Eh, bro, masa’ iya etika cuma soal takut sama dewa? Kan kita punya otak. Masa’ gak dipake?”
Maka lahirlah debat yang mirip debat netizen (tanpa konklusi dan asal njeplak) di kolom komentar: Ribut soal apa itu baik, apa itu adil, apa itu etis.
Plato, menimpal, “Yah, kalau terlalu diperiksa juga bisa stres sendiri.”
Aristoteles nyengir sambil nuang margarita, “Moral itu kayak resep minuman ini, bahan dasarnya logika, tapi bisa diutak-atik sesuai budaya dan selera diri sendiri. Mau lebih bolt, banyakin alkoholnya, mau manis, banyakin liquernya”
Alhasil, di café itu, di bawah pohon kamboja, moralitas pun jadi festival ide.
Ada yang tetap setia sama dewa, ada yang pindah ke logika, ada yang kejebak di tengah-tengah kayak anak kos bingung milih mana mana makanan yang promo di aplikasi makanan.
Pokoknya, festival moralitas makin ramai pengunjung, makin banyak pilihan, makin bikin pusing.
Lalu, mana moralitas satu-satunya? Moralitas yang pasti itu yang seperti apa?
FYI, gak ada yang pasti.
MORALITAS: KONTEN ATAU IDENTITAS
Sampai akhirnya tibalah zaman AI, zaman di mana moralitas sudah jadi bahan bakar konten.
Moralitas jadi filter Instagram: tergantung mood dan followers.
Orang teriak soal keadilan, tapi sambil narik donasi.
Orang ngomong soal kasih sayang, tapi sambil jualan skincare, besoknya nyinyirin tetangga yang gak mau beli skincarenya, apa lagi yang gak mau beli beda agama.
Dan yang paling ironis dari semua yang ironis adalah: moralitas zaman ini lebih mirip meme.
Semua orang bisa pakai, semua orang bisa remix, tapi esensinya? Entah ke mana.
Ada yang bilang, “Moral itu soal agama!”
Ada yang bales, “Moral itu soal akal sehat!”
Ada yang lebih skeptis lagi, “Moral? Ah, itu kan cuma mitos warisan nenek moyang yang dipoles jadi konten clickbait.”
Akhirnya, yang mabuk eksistensialisme seperti saya, menulis di X:
“Moralitas itu kayak hantu, semua orang ngomongin, tapi gak ada yang pernah lihat langsung.”
:MORALITAS SEBAGAI LABIRIN TAK BERUJUNG
Begitulah. moralitas adalah evolusi, moralitas itu perjalanan panjang dan absurd.
Dari zaman manusia yang takut sama bayangannya sendiri , sampai zaman manusia takut kehilangan followers.
Apa itu kebenaran?
Apa itu benar?
Dan kenapa kita harus peduli padanya?
Jawabannya?
Mungkin, seperti kata Dewa Marketing Moralitas, yaitu tuhan-tuhan itu ciptaan manusia:
“Karena kalau gak peduli, siapa yang bakal beli rasa bersalah dan pengampunan yang dijual agama?”
Dan para dewa dari Olympus, dari Nirwana, dari surga, dari Valhalla, dan dari mana pun pun tersenyum, sambil cek omset dan setoran pajak yang tidak pernah sekalipun diterima. Semua setoran pajak, nyangkut di pemungutnya alias yang mengaku imam dan wakil tuhan dewa allah.
tak 🍻

.png)
.png)
Comments
Post a Comment