Skip to main content

Manusia Lebih Bermoral dari Sang Maha Bermoral

Murid yang Dilarang Memukul, Guru Membakar Atas Perintah Surga Bayangkan sebuah kelas kecil di sudut kampungmu. Seorang guru berdiri di depan kelas, mengangkat jarinya tinggi-tinggi, sambil berkata: “Jangan memukul temanmu. Itu jahat. Itu dosa!” Murid-murid mengangguk. Lalu, pada suatu kesempatan, guru yang sama membakar satu rumah di sebelah sekolah dan menyatakan bahwa perbuatannya adalah wahyu dari surga, yang datang lewat mimpinya. Aneh? Gak juga, sh. Seperti itulah kira-kira hubungan manusia dengan moralitas yang diklaim turun langsung dari tuhan dewa allah, melalui buku yang dianggap suci. Jujur, sebagian besar peradaban ini tumbuh dengan satu narasi besar: “Tanpa Tuhan, manusia akan menjadi liar, semaunya sendiri dan tentu saja tidak punya turan. Tanpa kitab suci, manusia akan saling memangsa & bengis tanpa konsekuensi (surga dan neraka).” Padahal realitas hari ini justru berkata sebaliknya. Manusia modern, menolak perbudakan. Manusia yang tahu kalau dirinya manusia pasti me...

DEBAT PARA DEWA: METAMORFOSIS MORALITAS

 

Di sebuah planet kecil yang mengorbit sebuah bintang kelas menengah di pinggiran galaksi biasa, spesies yang baru saja belajar bertani dan mengendalikan api tiba-tiba mendeklarasikan diri mereka sebagai pusat semesta. Mereka mendongak ke langit malam yang bertabur bintang, dan alih-alih terkagum oleh kebesaran alam semesta yang dingin dan penuh misteri, mereka memilih membuat cerita. Cerita tentang dewa, tentang hukum yang datang dari langit, tentang moralitas yang diimpor langsung dari surga yang entah berapa jaraknya dari bumi.

Dulu, kepala suku atau kepala gank sangat ditakuti. Apa pun perintahnya pasti diikuti.
“Jangan ambil istri tetangga!”
Ya, artinya jangan. Gak pake debat, gak pake polling sosial media, apalagi nulis thread panjang di Twitter atau curcot di Tik-tok.

Moralitas yang sangat sederhana,kan. Kalau berani ngeyel, siap-siap saja menjadi contoh. Kalau tersambar petir, dimangsa binatang, kamu akan diothak athik gathuk-kan dengan pelanggaran moral. Atau ketika dianggap melanggar ‘roh nenek moyang’, akan segera dikucilkan, dan ditempatkan di tempat tempat yang paling mungkin tersambar petir atau sarang pemangsa.
Maka, jika yang terhukum mati tersambar atau dimangsa, maka benarlah kesalahannya, dan benarlah bahwa ‘roh nenek moyang’ sedang datang menghukum

Nenek moyang yang kemudian disebut para dewa pun akhirnya punya waktu kerja. Waktu kerja yang mirip grup WhatsApp yang hobi ngirim broadcast hoax.
Pokoknya, segala yang gak bisa dijelaskan, pasti ulah dewa. Simple. Seperti jawaban anak-anak zaman sekarang: “Karena emang gitu aja.”

Lalu, suatu hari di tanah Babilonia yang panas dan penuh jebakan politik, muncul Hukum Hammurabi. Ini bisa dibilang kayak peraturan kompleks pertama yang diukir di batu — semacam peraturan kos yang isinya absurd:
“Kalau maku poster di tembok, tangan dipotong.
Kalau minum susu di kulkas yang bukan milikmu tanpa izin, siap-siap dilempar dari lantai paling atas.

Dewa-dewa lokal kos pun bangga: “Nah, gitu dong, ada setiap kos ada SOP-nya.”
Tapi tetep aja, semua hukum itu di-backup oleh otoritas pokoknya. Pokoknya, yang ngatur dewa. Mau beradu argumen? Kamu diusir dari kos-kosan. Pokoknya, apapun masalah dan pertanyaannya, Tinggal bilang, “Ini titah dewa.” No, debat!


KAPITALISASI MORAL: TUHAN SEBAGAI BRANDING

Waktu berjalan, Tuhan dan para dewa makin lihai bikin branding.
Lalu datanglah Musa, dengan gimmick ikonik: sepuluh perintah Allah yang diukir di batu — kayak Terms & Conditions yang gak bisa di-scroll sampe bawah.
Pokoknya, masih dipakai. Pokoknya kalau gak setuju, ya tinggal siap-siap di-ban dari komunitas, atau disuruh exile ke padang pasir tanpa sinyal.

Edannya, umat nurut. Moralitas jadi seperti franchise makanan cepat saji.
Satu menu untuk semua. Mau protes rasa? Gak bisa.
Mau tanya kenapa? Jawabannya selalu sama: “Rahasia dapur tuhan.”


ERA ORANG-ORANG YANG KEBANYAKAN NGANGGUR DAN KEBANYAKAN MIKIR

Namun, di pojokan Laut Tengah, di sebuah café terbuka, di bawah pohon kamboja, ngobrollah Socrates, Plato, Aristoteles, serta geng filsuf lainnya sambil rebahan dan minum beer.
Mereka, adalah kaum yang gak punya Netflix atau TikTok, dan memilih hiburan lain: mikir berjamaah.

Socrates mulai dengan sebuah pertanyaan, “Eh, bro, masa’ iya etika cuma soal takut sama dewa? Kan kita punya otak. Masa’ gak dipake?”
Maka lahirlah debat yang mirip debat netizen (tanpa konklusi dan asal njeplak) di kolom komentar: Ribut soal apa itu baik, apa itu adil, apa itu etis.

Socrates melanjutkan, “Hidup yang tidak diperiksa oleh dirinya sendiri adalah hidup yang sia-sia.”
Plato, menimpal, “Yah, kalau terlalu diperiksa juga bisa stres sendiri.”
Aristoteles nyengir sambil nuang margarita, “Moral itu kayak resep minuman ini, bahan dasarnya logika, tapi bisa diutak-atik sesuai budaya dan selera diri sendiri. Mau lebih bolt, banyakin alkoholnya, mau manis, banyakin liquernya”

Alhasil, di café itu, di bawah pohon kamboja, moralitas pun jadi festival ide.
Ada yang tetap setia sama dewa, ada yang pindah ke logika, ada yang kejebak di tengah-tengah kayak anak kos bingung milih mana mana makanan yang promo di aplikasi makanan.
Pokoknya, festival moralitas makin ramai pengunjung, makin banyak pilihan, makin bikin pusing.
Lalu, mana moralitas satu-satunya? Moralitas yang pasti itu yang seperti apa?
FYI, gak ada yang pasti.

MORALITAS: KONTEN ATAU IDENTITAS

Sampai akhirnya tibalah zaman AI, zaman di mana moralitas sudah jadi bahan bakar konten.
Moralitas jadi filter Instagram: tergantung mood dan followers.
Orang teriak soal keadilan, tapi sambil narik donasi.
Orang ngomong soal kasih sayang, tapi sambil jualan skincare, besoknya nyinyirin tetangga yang gak mau beli skincarenya, apa lagi yang gak mau beli beda agama.

Dan yang paling ironis dari semua yang ironis adalah: moralitas zaman ini lebih mirip meme.
Semua orang bisa pakai, semua orang bisa remix, tapi esensinya? Entah ke mana.
Ada yang bilang, “Moral itu soal agama!”
Ada yang bales, “Moral itu soal akal sehat!”
Ada yang lebih skeptis lagi, “Moral? Ah, itu kan cuma mitos warisan nenek moyang yang dipoles jadi konten clickbait.”

Akhirnya, yang mabuk eksistensialisme seperti saya,  menulis di X:
“Moralitas itu kayak hantu, semua orang ngomongin, tapi gak ada yang pernah lihat langsung.”

:MORALITAS SEBAGAI LABIRIN TAK BERUJUNG

Begitulah. moralitas adalah evolusi, moralitas itu perjalanan panjang dan absurd.
Dari zaman manusia yang takut sama bayangannya sendiri , sampai zaman manusia takut kehilangan followers.

Apa yang dulu lurus dan mulus, sekarang jadi labirin penuh tikungan, jebakan, dan lubang kenikmatan yang tersembunyi di balik kata-kata manis tentang cinta dan keadilan. Manusia terus mengejar jawaban untuk pertanyaan kuno yang tetap segar sampai hari ini:

Apa itu kebenaran?
Apa itu benar?
Dan kenapa kita harus peduli padanya?

Jawabannya?
Mungkin, seperti kata Dewa Marketing Moralitas, yaitu tuhan-tuhan itu ciptaan manusia:
“Karena kalau gak peduli, siapa yang bakal beli rasa bersalah dan pengampunan yang dijual agama?”

Dan para dewa dari Olympus, dari Nirwana, dari surga, dari Valhalla, dan dari mana pun pun tersenyum, sambil cek omset dan setoran pajak yang tidak pernah sekalipun diterima. Semua setoran pajak, nyangkut di pemungutnya alias yang mengaku imam dan wakil tuhan dewa allah.

tak 🍻



Comments

Popular posts from this blog

MENJELASKAN ATEISME PADA ANAK | MEMAHAMI BEDA ATEISME DAN KOMUNISME

MEMAHAMI BEDA ATEISME DAN KOMUNISME "Ayah, Ayah! Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Dani, anak laki-laki yg berusia 8 tahun, sambil menarik ujung baju ayahnya yang sedang mengetik. Ayahnya tersenyum. "Tentu saja, jagoan. Ada apa?" "Tadi di sekolah, teman-teman ngobrolin kata-kata aneh. Ada ateisme sama komunisme. Itu apa, Yah?" Ayah melipat laptopnya dan berpaling menghadap Dani, "Pertanyaan bagus. Ayah akan jelaskan pelan-pelan ya, biar dirimu mengerti." "Pertama, kita bahas ateisme dulu ya," kata Ayah. "Dani tahu kan, kalau banyak orang percaya sama tuhan? Mereka berdoa, ke gereja, ke masjid, Sinagog, Pura, Wihara, Klenteng, bahkan ada juga yang tidak punya tempat khusus untuk berdoa." Dani mengangguk. "Iya, Ayah. Aku tahu!" "Nah, ateisme itu artinya seseorang yg tidak percaya kalau tuhan itu ada. Bukan berarti seseorang itu jahat atau baik, Ia punya cara pandang sendiri tentang dunia. Menurutnya segala sesuatu y...

TUHAN LUPA MEMANUSIAKAN MANUSIA ATAU TUHAN MEMANG TIDAK BERMORAL

Coba bayangkan hidup di dunia tanpa RT/RW , tanpa KTP , SIM , paspor , atau akta kelahiran . Kedengarannya sepele, kan? Tapi tanpa dokumen dokumen itu, kita “hilang” dari sistem sosial. Anak lahir tanpa akta, bisa dianggap tidak ada; orang mati tanpa surat kematian, bisa dianggap masih hidup, minimal masih ada dalam daftar pemilih tetap. Di dunia modern, eksistensi kita bukan cuma soal bernapas, tapi soal apakah nama kita tercatat rapi dalam arsip negara. Identitas kita bukan sekadar wajah atau suara, tapi juga nomor seri resmi yang dicetak di selembar kertas bercap kota. Selain dokumen, ada yang menjaga kita dari kekacauan, yaitu hukum. Aturan lalu lintas misalnya, kalau semua orang nyupirnya kayak Fast & Furious, jalan raya jadi Hunger Games . Jika hukum gagal, masih ada polisi tak terlihat  yang bernama opini publik . Kita pakai baju aneh, orang menatap; kita buang sampah sembarangan, orang merekam. Malu bisa jadi hukuman lebih tajam daripada denda. Hidup modern pada dasarn...

DARI PREMAN MENJELMA TUHAN

Pasti kamu pernah dengar kisah, ada sebuah tindakan kejahatan yang kemudian dibenarkan dengan dalih “demi kebaikan yang lebih besar”! Contoh, Zeus dan Prometeus, Prometeus mencuri api keterampilan mekanik Hephaestus dan kebijaksanaan Athena dan memberikannya kepada manusia agar mereka bisa bertahan hidup dan makmur. Pencurian ini dianggap sebagai pelanggaran besar oleh Zeus. Zeus menghukum Prometeus dengan mengikatnya di gunung dan setiap hari seekor elang memakan hatinya. Namun, tindakan Prometeus ini dianggap sebagai "kebaikan yang lebih besar" karena memberikan manusia pengetahuan dan kemampuan untuk berkembang. Contoh lain, Musa. Tindakan Musa yang membunuh juga ‘dibenarkan’ atas nama ‘kebaikan’ dan tujuan kebenaran yang lebih besar. Dalam sejarah, dongeng keagamaan digunakan sebagai alat melegitimasi kekuasaan dan tindakan-tindakan yang sulit diterima. Dari pengorbanan manusia hingga sumpah perang suci, atau kepercayaan jika mati dalam perang adalah mati dalam keadaan su...