Halo, sesama primata tak berbulu yang kebetulan masih diberi kesempatan menghirup oksigen. Ada satu kesalahpahaman kosmis yang entah kenapa masih terus bereinkarnasi di kolom-kolom komentar internet. "Kalau kamu bisa percaya Big Bang, artinya kamu juga punya agama." Jawabnya: TIDAK! Kalau ada yang berkata, "Saya percaya bumi mengelilingi Matahari," bukan berarti Matahari resmi menjadi tuhan, karena terselip kata “percaya”. So, yang membedakan antara model ilmiah dengan kepercayaan itu bukan “ada atau tidak adanya keyakinan”, tapi cara keyakinan itu diperoleh, kemudian diteliti, diuji, dan kalau tidak terbukti buang ke tempat sampah. Big Bang Tidak Punya Kitab Suci Banyak orang mengira kosmologi adalah agama dengan seragam laboratorium, agama dengan tuhan ilmiah atau menyembah ilmu pengetahuan. Pertanyaan berikutnya: "Jadi kalian mengimani bahwa alam semesta berasal dari ledakan?" Jawabnya: TIDAK! Saya “menerima” bukan “mengimani” model ...
Coba bayangkan hidup di dunia tanpa RT/RW, tanpa KTP, SIM, paspor, atau akta kelahiran. Kedengarannya sepele, kan? Tapi tanpa dokumen dokumen itu, kita “hilang” dari sistem sosial. Anak lahir tanpa akta, bisa dianggap tidak ada; orang mati tanpa surat kematian, bisa dianggap masih hidup, minimal masih ada dalam daftar pemilih tetap. Di dunia modern, eksistensi kita bukan cuma soal bernapas, tapi soal apakah nama kita tercatat rapi dalam arsip negara. Identitas kita bukan sekadar wajah atau suara, tapi juga nomor seri resmi yang dicetak di selembar kertas bercap kota.
Jika hukum gagal, masih ada polisi tak terlihat yang bernama opini publik. Kita pakai baju aneh, orang menatap; kita buang sampah sembarangan, orang merekam. Malu bisa jadi hukuman lebih tajam daripada denda. Hidup modern pada dasarnya diatur oleh kombinasi kertas, pasal, dan tatapan netizen. (kecuali di Negeri ini, semua hal di atas tidak berlaku!)
Sekarang tarik napas dan coba bandingkan dunia ideal itu dengan dunia prasejarah. Tidak ada KTP, tidak ada akta, tidak ada undang-undang. Tidak ada konsep “dokumen” karena belum ada tulisan dan buku. Hidup ditentukan oleh satu hal: bisa makan hari ini atau tidak. Kalau lapar, berburu. Kalau dingin, cari api. Kalau ketemu manusia lain, putuskan cepat: teman atau lawan. Yang ada hanya insting bertahan hidup. Dunia purba bukanlah dunia paragraf, tapi dunia taring, tombak, dan makan.
Jared Diamond menulis bahwa “Siapa yang punya makanan dia akan bertahan hidup. Siapa yang hidup adalah mereka yang rajin berburu, bukan yang paling rajin berdoa. Sementara Yuval Noah Harari menyatakan bahwa Homo sapiens bisa mengalahkan Neanderthal bukan karena ototnya lebih besar, tapi karena bisa berimajinasi kolektif: “Large numbers of strangers can cooperate successfully by believing in common myths.” Mitos pertama yang muncul bukan tentang moral agung, tapi tentang cara paling efisien bagaimana mencegah maling makanan.
Contoh konkretnya: sisa tulang Homo erectus berusia 1,8 juta tahun yang patah tapi sembuh, artinya ada perawatan kelompok. Perawatan yang dilakukan bukan karena ilham surgawi, tapi karena kelompok takut kehilangan tenaga kerja jika tidak dirawat,. Edward O. Wilson menyebut ini sebagai altruism by necessity: kerja sama bukan lahir dari hati mulia, melainkan dari kalkulasi evolusi, siapa yang solider, kelompoknya survive; siapa yang egois, kelompoknya bubar.
Dalam Plagues and Peoples, William H. McNeill menyatakan bahwa sejarah manusia adalah sejarah penyakit, perang, dan kerja sama. Dengan demikian, moral bukanlah sabda ilahi, melainkan efek samping dari kebutuhan makan, bertahan, dan menghindari extinction. Moral hanyalah kemewahan yang lahir setelah api menyala, perut kenyang dan gua aman.
Jadi, kalau ada yang bilang moral itu “hadiah allah,” mungkin dia lupa kalau moral, lahirnya moral itu di gua, bukan di surga. Kalau manusia bisa menemukan moral dari lapar dan tulang patah, lalu kenapa allah yang konon kabarnya maha segalanya itu malah lupa cara
.png)
Comments
Post a Comment