Murid yang Dilarang Memukul, Guru Membakar Atas Perintah Surga Bayangkan sebuah kelas kecil di sudut kampungmu. Seorang guru berdiri di depan kelas, mengangkat jarinya tinggi-tinggi, sambil berkata: “Jangan memukul temanmu. Itu jahat. Itu dosa!” Murid-murid mengangguk. Lalu, pada suatu kesempatan, guru yang sama membakar satu rumah di sebelah sekolah dan menyatakan bahwa perbuatannya adalah wahyu dari surga, yang datang lewat mimpinya. Aneh? Gak juga, sh. Seperti itulah kira-kira hubungan manusia dengan moralitas yang diklaim turun langsung dari tuhan dewa allah, melalui buku yang dianggap suci. Jujur, sebagian besar peradaban ini tumbuh dengan satu narasi besar: “Tanpa Tuhan, manusia akan menjadi liar, semaunya sendiri dan tentu saja tidak punya turan. Tanpa kitab suci, manusia akan saling memangsa & bengis tanpa konsekuensi (surga dan neraka).” Padahal realitas hari ini justru berkata sebaliknya. Manusia modern, menolak perbudakan. Manusia yang tahu kalau dirinya manusia pasti me...
Ketika inguistik memicingkan mata pada teologi dengan Penuh Pujian, Keheranan, dan Mungkin Sedikit Sindiran
Bahasa, ciptaan manusia yang paling mulia sekaligus paling licik. Ia mampu membuat seorang diktator menjadi "Bapak Pembangunan", membungkus kegagalan menjadi "tinggal landas", dan yang paling spektakuler, mengubah neraka (tempat penyiksaan abadi dan gambaran kekejian) menjadi ungkapan cinta yang ilahi. Sebuah surat cinta, tapi dengan lampiran ancaman yang super duper keji.
Bisa dibayangkan?
Seperti pesulap tua di pasar malam, bahasa mampu menyulap siksaan menjadi keselamatan, kekejian menjadi babysitter ilahi, dan tuhan menjadi... (baca:titik titik). Titik titik diisi oleh dan tergantung pada siapa yang berceramah dan dari buku suci mana atau terbitan siapa yang dibacakan hari itu. Bahasa bukan sekedar alat komunikasi; ia adalah senjata mematikan, yang tidak ditembakkan dengan peluru, melainkan dengan metafora.
Ludwig Wittgenstein, filsuf yang hobi main teka-teki dan yang membuat mahasiswa filsafatnya insomnia. Katanya, "Batas-batas bahasaku adalah batas-batas duniaku." Dalam konteks teologi, kalimat ini bisa diartikan sebagai batas kamus iman, batas akal sehat. Ketika menyebut tuhan sebagai yang "adil", maka otomatis semua tindakan tuhan itu adil, bahkan pembantaian bayi, genosida spiritual, atau eksperimen ilahi ala Ayyub, Nuh dan Lut yang dipaksakan untuk masuk dalam kategori definisi keadilan. Tak peduli seberapa rusak hasilnya, selama kata "adil" dicantumkan, maka semua kekejian dan pembantaian akan dianggap sah.
Hebat, ya retorika teologis itu. "Kekerasan menjadi kasih, murka menjadi perhatian, dan penyiksaan abadi nan keji menjadi perwujudan dari cinta tuhan kepada umatnya, cinta yang paling dalam. Ah, bahasa! Kau sungguh manipulatif namun romatis sekaligus erotis.
Kira kiranya begini: seseorang menciptakan sebuah tempat yang sangat luas, penuh dengan bara api yang tak pernah padam, suara tangisan, jeritan yang tak berjeda barang sepersekian dukon, dan penderitaan tanpa tanggal kadaluarsa. Kemudian pencipta itu berkata, “Ini demi cintaku padamu.” Lalu mereka yang dikata-katai itu mengangguk, meneteskan haru, dan rela menjadi budaknya. Nah, kalau cerita bukan sihir linguistik, susah juga disebut sebagai kajaiban, sebab cerita ini jauh melampaui itu semua.
Bahasa bisa menjadi alat untuk menutupi kenyataan dan melegitimasi kebrutalan. Sangar, kan! kalimat itu sebuah peringatan dari George Orwell. FYI, Orwell belum melihat cara para teolog membungkus konsep neraka. "Dosa" tidak lagi berarti pelanggaran terhadap nilai universal kebaikan. Dosa kini cukup bermakna “tidak sesuai selera tuhan.” "penghukuman" bukan lagi kekerasan dan kekejian, tapi “pemurnian spiritual.” Bolehlah nanti diusulkan perlunya dibuka spa rohani di neraka.
Tokoh sentral dan utama dalam drama monoteisme yang menghancurkan peradaban adalah Abraham. Tokoh panutan legendaris yang bolehlah dijadikan contoh sempurna distorsi bahasa. Abraham nyaris membunuh anak kandungnya karena suara misterius dari langit, alih-alih dikurung dan dihukum, ia justru diabadikan sebagai teladan iman. Coba ceritakan kisah ini kepada psikolog anak. Mungkin kamu akan mendapat obat depresan tingkat dewa.
Ferdinand de Saussure, bapak linguistik struktural, jika masih hidup hari ini mungkin akan terbahak bahak sambil berkata, “Jika... kalian menyandingkan ‘tuhan maha pengasih’ dengan ‘siksaan abadi’? Itu konvensi bahasa, bukan logika.” Lalu akan menambahkan catatan kaki: “Mungkin sebaiknya kalian pisahkan dulu tanda dan makna, lalu cari bantuan ahli bahasa lokal.”
Noam Chomsky, di sisi lain, mungkin akan menimpali bahwa struktur bahasa teologis itu 'cacat sistemik'. Cacat sejak digunakan dalam berpikir. Manusia, dengan "tata bahasa universal"-nya, akan bisa menerima omong kosong selama diucapkan dengan gaya khotbah. Omong kosong apa ini, sistem moral yang berbasis cinta dan yang berakhir pada penyiksaan tanpa henti? Noam Chomsky berseru, "Ini bukan lagi paradoks, ini sudah masuk kategori bug sistem!"
George Lakoff, mbahnya analis metafora, mengingatkan, "Semua konsep teologis berakar dari metafora!". Tuhan adalah Raja, hakim sekaligus gembala, bahkan pengantin. Sayangnya, begitu cintanya pada metafora “Hakim” hingga lupa bahwa hidup ini adalah sebuah kenyataan. Di negeri ini, tidak ada hakim yang tidak korup, ironisnya kadang lupa pada arti hukum itu sendiri. Neraka mungkin hasil dari metafora “penghakiman” yang dianggap terlalu serius oleh para penyair khotbah dan pemungut cukai tuhan.
Deborah Tannen memberi perspektif yang sedikit ringan, bagaimana jika bahasa teologis itu bias gender? Mungkinkah konsep "murka ilahi" seperti bapak yang galak di ruang makan, sementara konsep pengampunan muncul seperti ibu yang hanya sesekali mencoba menjelaskan semuanya dengan tenang. Jika tuhan adalah kombinasi ideal maskulin-feminin, mengapa narasi tuhan begitu berat sebelah? Jangan suara tuhan hanya dari suara toa yang mono, yang volumenya disetel terlalu tinggi?
Dan pada tamatnya, memang harus diakui: bahasa telah memungkinkan manusia menciptakan tuhan yang luar biasa kompleks, penuh cinta, sekaligus penuh jebakan batman. Dengan bahasa, manusia bisa menganggap penderitaan sebagai anugerah, memandang kematian sebagai rencana mulia, dan penyiksaan keji api abadi sebagai bukti dan perwujudan dari cinta kasih. Ini bukan soal keyakinan, lho; inilah panggung pertunjukan linguistik kelas dunia.
Jadi, lain kali jika mendengar tentang “kasih tuhan yang sempurna”, pastikan untuk membaca syarat dan ketentuannya. Karena bisa jadi ada metafora yang ditandai bintang, di samping tulisan 'kasih' tertulis kalimat dengan huruf sangat kecil,: “Jika tidak setuju, silakan ke neraka.”
tak🍻
.png)
Comments
Post a Comment