Skip to main content

Manusia Lebih Bermoral dari Sang Maha Bermoral

Murid yang Dilarang Memukul, Guru Membakar Atas Perintah Surga Bayangkan sebuah kelas kecil di sudut kampungmu. Seorang guru berdiri di depan kelas, mengangkat jarinya tinggi-tinggi, sambil berkata: “Jangan memukul temanmu. Itu jahat. Itu dosa!” Murid-murid mengangguk. Lalu, pada suatu kesempatan, guru yang sama membakar satu rumah di sebelah sekolah dan menyatakan bahwa perbuatannya adalah wahyu dari surga, yang datang lewat mimpinya. Aneh? Gak juga, sh. Seperti itulah kira-kira hubungan manusia dengan moralitas yang diklaim turun langsung dari tuhan dewa allah, melalui buku yang dianggap suci. Jujur, sebagian besar peradaban ini tumbuh dengan satu narasi besar: “Tanpa Tuhan, manusia akan menjadi liar, semaunya sendiri dan tentu saja tidak punya turan. Tanpa kitab suci, manusia akan saling memangsa & bengis tanpa konsekuensi (surga dan neraka).” Padahal realitas hari ini justru berkata sebaliknya. Manusia modern, menolak perbudakan. Manusia yang tahu kalau dirinya manusia pasti me...

VALIDASI EMOSI & EKSITENSI DIRI (kenapa tuhan tidak diperlukan)

Pernahkah kamu bertanya (memiringkan kepala, sambil menekan tombol kepekaan di telinga)mengapa hidup ini seperti tanpa kisi kisi, tapi punya kebebasan menjawab apa saja, bahkan dengan jawaban yang paling absurd sekalipun?

Percaya atau tidak, hidup ini adalah panggung bebas.
Setiap manusia dikasih hak istimewa: hak untuk memilih jalan hidup, bahkan jalan buntu sekalipun.
Termasuk pilihan yang bikin malaikat pengen resign dan setan terpaksa ambil cuti burnout.
Lucunya, kebebasan sering dikemas rapi dalam label spiritual: “anugerah dari Tuhan.”
Seolah setelah melempar remote kontrol ke kita, tuhan duduk manis di sofa langit, nonton kita pindah pindah channel hidup, sambil ngemil popcorn dan update status:
“Sabar, semuanya dalam skenario-Ku.”

Wait, rencana siapa, ya?
Rencana yg mana?
Rencana Tuhan Netflix? Dewa YouTube? Atau Allah TikTok versi 2.0?

Kalau dilihat di kolom komentar semesta, manusia hak memilih percaya bumi datar, atau ikut seminar kiamat di hotel bintang 5.
Lalu ke mana perintah suci, wahyu agung dan larangan dari langit?

Tampaknya perintah perintah itu hanya notif yg mudah di-swipe.
Ironisnya, Tuhan, Dewa, Allah, semuanya berlomba-lomba memberi perintah berbeda, tapi tak satu pun berhasil menyabotase kebebasan manusia untuk, menyebarkan hoaks atau nonton video konspirasi jam 2 pagi.
Kita dibiarkan bebas. Bahkan terlalu bebas. Sampai sampai surga dan neraka terasa seperti after-credit scene yang belum tentu semua orang menonton. Kecuali film2 produksi Marvel atau DC. Ada bonus scene di akhirnya.

Jadi, sadarlah...
Kalau hidupmu terasa kayak GPS error, itu bukan karena Tuhan mencabut sinyal, tapi karena kamu memang nyetir sendiri.
Tangan gaib? Ah, mungkin dia lagi sibuk main catur sama Einstein atau stuck di level 47 Tetris.
Kita adalah pengemudi dari simulasi absurd ini.
Tanpa peta.
Tanpa co-driver.
Kadang lupa isi bensin.

Dan bagian terbaiknya?
Kalau kacau, kamu masih bisa menyalahkan: setan, Tuhan, cuaca, atau... prompt AI.
Namun pada akhirnya, kalau hidup ini adalah panggung penuh pilihan bebas, tanggung jawab dan drama internal yang kita tulis sendiri, maka satu kesimpulan jadi terang benderang:
TUHAN TIDAK DIPERLUKAN!
Kenapa?

Karena validasi sejati tidak datang dari langit. Ia hidup di dalam darahmu. Dalam keberanian yg menunggangi setiap butir darahmu: berani memilih, berani salah, berani bangkit dan berani berpikir.
Validasi tidak datang dari takut akan murka ilahi, atau dari katalog surga berisi 72 bidadari, paha ayam madu, dan sungai wine yang terdengar seperti brosur diskon minimarket di perahu Nabi Nuh.
Kamu gak perlu kitab suci yang mengatur cara cebok. Akal sehatmu cukup tahu: menyiram itu baik. Kamu gak butuh dewa temperamental untuk tahu bahwa membunuh itu salah. Kamu cukup punya pikiran, perasaan, dan tanggung jawab.

Tuhan, dlm bentuk otoritas absolut yg membagi pahala, mengatur moral, dan memfilter dosa, sudah gak relevan di dunia di mana kamu bisa (dan harusnya) berpikir sendiri.
Gak perlu “like”, “love”, atau “subscribe” dari surga. Kamu cuma perlu berdiri tegak dengan kemanusiaanmu sendiri.

Dan kalau ada yg masih tanya, “Tapi tanpa tuhan, bagaimana kamu tahu apa yang benar dan mana yang salah?”
Jawab saja dengan pelan tapi pasti: “Dengan bertanya, merasakan, dan berpikir, bukan dengan menghafal kitab yg artinya pun tak kamu mengerti.”

So,akhiri pencarianmu akan sosok kosmik maha-tahu yang entah di mana. Mulailah percaya pada satu hal yang lebih nyata dan bisa kau peluk saat butuh: DIRIMU SENDIRI.
Toh, jika tuhan dewa allah memang ada dan keberatan dengan tulisan ini, dia pasti sudah DM saya sejak kemarin-kemarin

Tak🍻

Comments

Popular posts from this blog

MENJELASKAN ATEISME PADA ANAK | MEMAHAMI BEDA ATEISME DAN KOMUNISME

MEMAHAMI BEDA ATEISME DAN KOMUNISME "Ayah, Ayah! Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Dani, anak laki-laki yg berusia 8 tahun, sambil menarik ujung baju ayahnya yang sedang mengetik. Ayahnya tersenyum. "Tentu saja, jagoan. Ada apa?" "Tadi di sekolah, teman-teman ngobrolin kata-kata aneh. Ada ateisme sama komunisme. Itu apa, Yah?" Ayah melipat laptopnya dan berpaling menghadap Dani, "Pertanyaan bagus. Ayah akan jelaskan pelan-pelan ya, biar dirimu mengerti." "Pertama, kita bahas ateisme dulu ya," kata Ayah. "Dani tahu kan, kalau banyak orang percaya sama tuhan? Mereka berdoa, ke gereja, ke masjid, Sinagog, Pura, Wihara, Klenteng, bahkan ada juga yang tidak punya tempat khusus untuk berdoa." Dani mengangguk. "Iya, Ayah. Aku tahu!" "Nah, ateisme itu artinya seseorang yg tidak percaya kalau tuhan itu ada. Bukan berarti seseorang itu jahat atau baik, Ia punya cara pandang sendiri tentang dunia. Menurutnya segala sesuatu y...

TUHAN LUPA MEMANUSIAKAN MANUSIA ATAU TUHAN MEMANG TIDAK BERMORAL

Coba bayangkan hidup di dunia tanpa RT/RW , tanpa KTP , SIM , paspor , atau akta kelahiran . Kedengarannya sepele, kan? Tapi tanpa dokumen dokumen itu, kita “hilang” dari sistem sosial. Anak lahir tanpa akta, bisa dianggap tidak ada; orang mati tanpa surat kematian, bisa dianggap masih hidup, minimal masih ada dalam daftar pemilih tetap. Di dunia modern, eksistensi kita bukan cuma soal bernapas, tapi soal apakah nama kita tercatat rapi dalam arsip negara. Identitas kita bukan sekadar wajah atau suara, tapi juga nomor seri resmi yang dicetak di selembar kertas bercap kota. Selain dokumen, ada yang menjaga kita dari kekacauan, yaitu hukum. Aturan lalu lintas misalnya, kalau semua orang nyupirnya kayak Fast & Furious, jalan raya jadi Hunger Games . Jika hukum gagal, masih ada polisi tak terlihat  yang bernama opini publik . Kita pakai baju aneh, orang menatap; kita buang sampah sembarangan, orang merekam. Malu bisa jadi hukuman lebih tajam daripada denda. Hidup modern pada dasarn...

DARI PREMAN MENJELMA TUHAN

Pasti kamu pernah dengar kisah, ada sebuah tindakan kejahatan yang kemudian dibenarkan dengan dalih “demi kebaikan yang lebih besar”! Contoh, Zeus dan Prometeus, Prometeus mencuri api keterampilan mekanik Hephaestus dan kebijaksanaan Athena dan memberikannya kepada manusia agar mereka bisa bertahan hidup dan makmur. Pencurian ini dianggap sebagai pelanggaran besar oleh Zeus. Zeus menghukum Prometeus dengan mengikatnya di gunung dan setiap hari seekor elang memakan hatinya. Namun, tindakan Prometeus ini dianggap sebagai "kebaikan yang lebih besar" karena memberikan manusia pengetahuan dan kemampuan untuk berkembang. Contoh lain, Musa. Tindakan Musa yang membunuh juga ‘dibenarkan’ atas nama ‘kebaikan’ dan tujuan kebenaran yang lebih besar. Dalam sejarah, dongeng keagamaan digunakan sebagai alat melegitimasi kekuasaan dan tindakan-tindakan yang sulit diterima. Dari pengorbanan manusia hingga sumpah perang suci, atau kepercayaan jika mati dalam perang adalah mati dalam keadaan su...