Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2026

PUNYA MORAL KARENA TAKUT TUHAN DEWA ALLAH

Ada anggapan yang cukup lucu tentang atheis: begitu seseorang berhenti percaya kepada Tuhan, moralnya ikut menguap.  Seolah-olah selama ini manusia tidak mencuri karena takut Tuhan melihat, tidak membunuh karena malaikat sedang mencatat, dan tidak menipu karena ada CCTV gaib yang dipasang di langit. Maka ketika seseorang menjadi atheis, katanya, semua rem langsung blong—besok paginya bangun, sarapan, lalu mencari korban. Logikanya kira-kira begini: hapus Tuhan, hapus moral. Kalau benar begitu, berarti sebagian manusia selama ini berbuat baik bukan karena memahami bahwa orang lain bisa terluka, melainkan karena takut ketahuan. Itu bukan kabar yang terlalu menggembirakan bagi spesies yang mengaku sebagai makhluk bermoral. Sebab kalau satu-satunya alasan kita tidak berbuat jahat adalah karena ada yang mengawasi, masalahnya mungkin bukan ketiadaan Tuhan. Masalahnya adalah kita belum benar-benar memahami apa itu moralitas. Atheis Juga Manusia Coba kita sederhanakan. Ketika menemukan dom...

KEKEJIAN ITU SUCI

Ketika Tuhan Membenarkan Pembunuhan Jika tidak ada tuhan, manusia bisa membunuh. Tetapi kemanusiaannya tidak bisa menyembunyikan rasa bersalah. Jika ada tuhan, manusia menemukan cara untuk menghilangkan perasaan bersalah itu. Dengan perintah tuhan manusia tidak lagi merasa diri jadi pembunuh. Bahkan. Tuhan dijadikan cara instan untuk mendapatkan kenikmatan di surga. Singkatnya: Membunuh karena marah disebut kejahatan. Membunuh karena rebutan sumber daya alam disebut perang. Tetapi ketika seseorang berkata, “tuhan memerintahkan dan mengizinkan untuk membunuh,” maka pembunuhan menjadi bagian dari ibadah. Aneh? Tidak. Ini fakta. Dalam tradisi Abrahamik, sejumlah tokoh yang dianggap nabi, seperti: Musa, Elia, Yosua, hingga Muhammad, dikisahkan terlibat dalam berbagai tindak kekerasan yang dibenarkan atas ijin dan kehendak ilahi Tunggu, dulu. Tulisanku ini tidak ditujukan untuk perdebatan atau beradu argumen dengan teolog soal apakah tuhan benar-benar pernah memberikan perintah tersebut....

MORALITAS: HAK CIPTA MANUSIA YANG DIRAMPOK AGAMA

Lima juta tahun kebaikan berevolusi di sabana Afrika, hanya untuk diklaim secara sepihak sebagai "wahyu instan" dari langit. Coba jujur: berapa sering kamu mendengar kalimat semacam ini? “Tanpa tuhan, manusia itu seperti binatang, gak punya moral” Atau boba kamu ingat-ingat lagi, pernah dengan todongan kalimat absurd ini? “Kalau kamu nggak percaya surga dan neraka, apa yang mencegahmu merampok bank atau membunuh orang hari ini?” Pertanyaan yang justru membuat kita merinding, kan. Seolah-olah, satu-satunya alasan orang tidak berbuat jahat pada tetangganya adalah karena takut masuk neraka, bukan karena punya empati. Makin berdiri bulu ketek dan jembut, ketika kalimat ini diucapkan dengan nada sangat yakin, diiringi tatapan lurus tajam ke mata, seolah-olah klaim tersebut sudah teruji secara klinis di laboratorium dan lolos masuk ke dalam jurnal-jurnal utama ilmuwan dunia. Padahal kalau ditelusuri, klaim ini lebih mirip hoaks grup WhatsApp keluarga: tetap diaminkan dengan stiker ...

TIDAK ADA ANDIL TUHAN DALAM MENENTUKAN "BAIK" DAN "BURUK"

Memelihara Mitos Gila Mitos paling lucu yang terus dipelihara umat beragama adalah keyakinan bahwa jika tuhan dewa allah tidak memposting aturan moral di lempengan batu atau lembaran kitab, maka manusia akan saling makan seperti zombie di film apocalypse.  Jika tuhan dewa allah tidak membuat aturan dan tidak ada nabi yang turun dari gunung atau keluar dari gua membawa wahyu, nenek moyang kita akan langsung bunuh. Begitu bangun dari tidur langsung kepikiran: "Hari ini aku mau membunuh dan merampok tetanggaku ah!" Terdengar meyakinkan bagi mereka yang malas berpikir. Tidak bagi yang membaca dan mempelajari  genealogi moral, sebuah pendekatan intelektual dalam membaca asal usul moral yang alih-alih menelan bulat-bulat moralitas sebagai paket fast-food dari surga, sebaliknya malah membongkarnya sampai ke akar: siapa yang merekayasanya, untuk apa, dan siapa yang meneguk keuntungan darinya. Jika kamu mau membuka mata tanpa kacamata dogma, setidaknya ada empat pemikir yang tanpa pe...