Ada anggapan yang cukup lucu tentang atheis: begitu seseorang berhenti percaya kepada Tuhan, moralnya ikut menguap. Seolah-olah selama ini manusia tidak mencuri karena takut Tuhan melihat, tidak membunuh karena malaikat sedang mencatat, dan tidak menipu karena ada CCTV gaib yang dipasang di langit. Maka ketika seseorang menjadi atheis, katanya, semua rem langsung blong—besok paginya bangun, sarapan, lalu mencari korban. Logikanya kira-kira begini: hapus Tuhan, hapus moral. Kalau benar begitu, berarti sebagian manusia selama ini berbuat baik bukan karena memahami bahwa orang lain bisa terluka, melainkan karena takut ketahuan. Itu bukan kabar yang terlalu menggembirakan bagi spesies yang mengaku sebagai makhluk bermoral. Sebab kalau satu-satunya alasan kita tidak berbuat jahat adalah karena ada yang mengawasi, masalahnya mungkin bukan ketiadaan Tuhan. Masalahnya adalah kita belum benar-benar memahami apa itu moralitas. Atheis Juga Manusia Coba kita sederhanakan. Ketika menemukan dom...
Ketika Tuhan Membenarkan Pembunuhan Jika tidak ada tuhan, manusia bisa membunuh. Tetapi kemanusiaannya tidak bisa menyembunyikan rasa bersalah. Jika ada tuhan, manusia menemukan cara untuk menghilangkan perasaan bersalah itu. Dengan perintah tuhan manusia tidak lagi merasa diri jadi pembunuh. Bahkan. Tuhan dijadikan cara instan untuk mendapatkan kenikmatan di surga. Singkatnya: Membunuh karena marah disebut kejahatan. Membunuh karena rebutan sumber daya alam disebut perang. Tetapi ketika seseorang berkata, “tuhan memerintahkan dan mengizinkan untuk membunuh,” maka pembunuhan menjadi bagian dari ibadah. Aneh? Tidak. Ini fakta. Dalam tradisi Abrahamik, sejumlah tokoh yang dianggap nabi, seperti: Musa, Elia, Yosua, hingga Muhammad, dikisahkan terlibat dalam berbagai tindak kekerasan yang dibenarkan atas ijin dan kehendak ilahi Tunggu, dulu. Tulisanku ini tidak ditujukan untuk perdebatan atau beradu argumen dengan teolog soal apakah tuhan benar-benar pernah memberikan perintah tersebut....