Ada anggapan yang cukup lucu tentang atheis: begitu seseorang berhenti percaya kepada Tuhan, moralnya ikut menguap. Seolah-olah selama ini manusia tidak mencuri karena takut Tuhan melihat, tidak membunuh karena malaikat sedang mencatat, dan tidak menipu karena ada CCTV gaib yang dipasang di langit. Maka ketika seseorang menjadi atheis, katanya, semua rem langsung blong—besok paginya bangun, sarapan, lalu mencari korban. Logikanya kira-kira begini: hapus Tuhan, hapus moral. Kalau benar begitu, berarti sebagian manusia selama ini berbuat baik bukan karena memahami bahwa orang lain bisa terluka, melainkan karena takut ketahuan. Itu bukan kabar yang terlalu menggembirakan bagi spesies yang mengaku sebagai makhluk bermoral. Sebab kalau satu-satunya alasan kita tidak berbuat jahat adalah karena ada yang mengawasi, masalahnya mungkin bukan ketiadaan Tuhan. Masalahnya adalah kita belum benar-benar memahami apa itu moralitas. Atheis Juga Manusia Coba kita sederhanakan. Ketika menemukan dom...
Ketika Tuhan Membenarkan Pembunuhan
Jika tidak ada tuhan, manusia bisa membunuh. Tetapi kemanusiaannya tidak bisa menyembunyikan rasa bersalah.
Jika ada tuhan, manusia menemukan cara untuk menghilangkan perasaan bersalah itu. Dengan perintah tuhan manusia tidak lagi merasa diri jadi pembunuh. Bahkan. Tuhan dijadikan cara instan untuk mendapatkan kenikmatan di surga.
Singkatnya:
Membunuh karena marah disebut kejahatan.
Membunuh karena rebutan sumber daya alam disebut perang.
Tetapi ketika seseorang berkata, “tuhan memerintahkan dan mengizinkan untuk membunuh,” maka pembunuhan menjadi bagian dari ibadah.
Aneh? Tidak. Ini fakta.
Dalam tradisi Abrahamik, sejumlah tokoh yang dianggap nabi, seperti: Musa, Elia, Yosua, hingga Muhammad, dikisahkan terlibat dalam berbagai tindak kekerasan yang dibenarkan atas ijin dan kehendak ilahi
Tunggu, dulu. Tulisanku ini tidak ditujukan untuk perdebatan atau beradu argumen dengan teolog soal apakah tuhan benar-benar pernah memberikan perintah tersebut.
Ini cuma pertanyaan (mudah-mudahan lebih mengganggu):
Mengapa manusia membutuhkan tuhan untuk membenarkan kekerasan yang dilakukan kepada manusia lain?
Mengapa manusia membutuhkan alasan suci untuk melakukan kekerasan?
Karena pertanyaan ini, masalahnya menjadi lebih menarik, kan. Dan mungkin jauh lebih tidak nyaman bagi pengiman abrahamik.
Ketika Pembantaian Mendapat Stempel Tuhan
Dalam kisah penaklukan Kanaan oleh Yosua, kita mengenal konsep herem: pemusnahan total musuh sebagai persembahan kepada tuhan.
Bayangkan logikanya.
Kota ditaklukkan.
Musuh dibunuh.
Kemudian seluruh tindakan itu diberi label: “Perintah tuhan.”
Selesai.
Tidak perlu pengacara. Tidak perlu pengadilan. Tidak perlu pertanggungjawaban moral. Tuhan sudah dijadikan surat perintah.
Masalahnya, ketika kisah-kisah semacam ini diurai lewat kritik sejarah dan arkeologi, ceritanya tidak sesederhana seperti yang dibayangkan.
Kathleen Kenyon menemukan bahwa lapisan reruntuhan Yerikho tidak cocok secara kronologis dengan periode penaklukan Yosua sebagaimana digambarkan dalam narasi tersebut. Kajian Israel Finkelstein dan Neil Asher Silberman juga menunjukkan bahwa pola pemukiman di dataran tinggi Kanaan pada Zaman Besi awal lebih sesuai dengan perkembangan lokal dan migrasi bertahap daripada invasi militer besar-besaran yang diikuti pemusnahan kota-kota seperti dalam kitab Yosua.
Dengan kata lain, kita berhadapan dengan sebuah kemungkinan bahwa kisah perang tersebut bukan laporan jurnalistik dari medan perang.
Ia bisa saja merupakan konstruksi sastra dan ideologis yang disusun setelah peristiwa yang dikisahkan, untuk membangun identitas kelompok sekaligus melegitimasi klaim politik dan teritorial.
Dan di sinilah cerita lucunya dimulai. Bukan.
Bukan karena pembantaian itu lucu.
Melainkan karena manusia punya kebiasaan yang sangat kreatif:
menulis sejarah versinya sendiri, kemudian mengatakan bahwa penulisnya adalah tuhan.
Kalau sebuah bangsa ingin mengatakan, “Tanah ini milik kami,” ini bisa jadi masih klaim politik.
Tetapi kalau mengatakan, “Tanah ini milik kami karena tuhan memberikannya,” maka klaim politik tersebut mendadak memperoleh sertifikat surgawi.
Siapa yang berani menggugat?
Lawan politik? Wow… bakal di kafirkan.
Sejarawan? Akan dicap kurang iman.
Arkeolog? Akan dianggap penyembah sains, dan tidak paham wahyu.
Begitulah, sebuah klaim manusia bisa memperoleh kekebalan diplomatik kayangan ketika sudah diganti menjadi kehendak ilahiah.
Tuhan atau Kambing Hitam yang Naik Derajat?
Renรฉ Girard menawarkan cara yang menarik untuk memahami mengapa kekerasan bisa berubah menjadi perbuatan yang suci. Menurut Girard, masyarakat akan mengalami krisis sosial ketika persaingan dan konflik internal meningkat. Ketegangan itu kemudian dialihkan kepada seseorang atau kelompok tertentu yang dijadikan kambing hitam. Ketika korban tersebut dibunuh, pembunuhan itu justru dapat dipersepsikan sebagai tindakan yang baik untuk memulihkan ketegangan.
Dan di sinilah agama memainkan peran yang sangat kuat.
Pembunuhan yang dilakukan manusia pasti menyisakan satu masalah: rasa bersalah.
Maka manusia mencari dan menemukan solusi yang cerdas.
Alihkan keputusan itu kepada otoritas yang tidak bisa hadir di ruang sidang. “tuhan yang menyuruh.”
Seketika masalah selesai.
Saya bukan pembunuh.
Saya hanya pelaksana.
Ini bukan kekejian.
Ini kehendak tuhan.
Ini bukan pembantaian.
Ini jihad.
Menarik, kan.
Manusia yang membunuh, tetapi tuhan yang disuruh tanda tangan berita acara.
Dalam pola yang diamati Girard, kelompok yang menjadi sasaran kekerasan biasanya akan diberi identitas sebagai kelompok lain (liyan): penyembah berhala, musuh bangsa, pelanggar hukum ilahi, atau kategori-kategoti lain yang membuat mereka tampak berbeda dari kelompok.
Dan di situlah trik psikologisnya.
Kita tidak perlu merasa bersalah membunuh “manusia.”
Cukup ubah "mereka" menjadi “musuh tuhan".
Beri mereka gelar murtad!
Begitu labelnya berubah, maka hati nurani juga akan ikut berubah.
Membunuh manusia itu sadis. Namun jika membunuh musuh tuhan maka akan terasa sedang menjalankan tugas suci.
Padahal yang dibunuh sama-sama jadi mayat. Hak hidupnya direngut secara paksa!
Wahyu: Cara Termudah Memindahkan Tanggung Jawab
Dari sisi psikologi agama, Pascal Boyer dan Scott Atran menjelaskan bagaimana kepercayaan terhadap agen adikodrati dapat membuat manusia mempersepsikan tuhan atau entitas supernatural sebagai otoritas yang mengetahui segala kebenaran secara sempurna.
Lalu muncul persoalan.
Jika seorang pemimpin mengatakan:
“Saya perintahkan kalian untuk membunuh mereka.”
Kita masih bisa bertanya: “Kenapa?”
Jika dirasa, perintah itu tidak adil, kita bisa menuntut pertanggungjawaban, sang pemimpin Bahkan kita bisa balik menghukum pemimpinnya.
Tetapi jika kalimatnya berubah:
“Tuhan memerintahkan kalian untuk membunuh mereka! Tak beer!”
Maka pertanyaan “kenapa?” itu mendadak menjadi dosa. Jika kita tidak membunuh, maka kita tidak akan kebagian petak surga.
Di sinilah terjadi apa yang dalam psikologi sosial disebut moral licensing atau pelepasan tanggung jawab lewat otoritas. Individu yang merasa bertindak atas nama otoritas tertinggi dapat mengalihkan tanggung jawab moral dari dirinya kepada otoritas sekaleng beer, tadi!
Milgram menunjukkan sesuatu yang mengganggu melalui eksperimen kepatuhan terhadap otoritas: manusia dapat melakukan tindakan yang sebenarnya bertentangan dengan penilaian moralnya ketika mereka percaya ada otoritas sah yang memerintahkannya.
Sekarang, mari kita tambahkan satu bahan lagi:
otoritas tersebut adalah allah.
Selesai.
Manusia tak boleh lagi berkata:
“Saya memilih tidak membunuh.”
Ia harus berkata:
“Saya hanya patuh pada perintah allah, maka saya harus membunuhnya!”
Kalimat “saya hanya patuh” bisa jadi salah satu kalimat paling berbahaya dalam peradaban manusia.
Karena kalimat tersebut bisa mengubah pelaku menjadi korban keadaan.
Dan ketika komandannya tidak bisa dipanggil ke pengadilan karena komandannya berada di langit, tanggung jawab moralnya juga turut menguap ke atmosfer.
Tuhan Sangat Baik, Asal Kamu Orang Dalam
Ada kontradiksi lain yang tidak kalah menarik.
Agama mengajarkan larangan membunuh.
Bagus.
Masyarakat memang membutuhkan aturan semacam itu.
Tetapi dalam banyak narasi keagamaan kuno, larangan tersebut tidak selalu berlaku secara universal. Ada perbedaan tajam antara bagaimana kelompok sendiri diperlakukan dan bagaimana kelompok luar diperlakukan.
Untuk kelompok sendiri:
“Jangan membunuh.”
Untuk kelompok luar:
“Ini perintahnya…. Halal darahnya!”
Dan kalau ternyata sudah ada stempel ilahi?
Silakan membunuh dengan bahagia.
Di sinilah moralitas parokial bekerja: moralitas dirancang untuk menjaga kelompok sendiri, sementara kekerasan terhadap kelompok luar dapat dilegitimasi ketika mereka dipandang sebagai ancaman terhadap sumber daya, wilayah, atau identitas kelompok.
Kalau dipikir-pikir, tuhan dalam narasi semacam ini sangat mirip preman.
Anggota kelompok sendiri harus dilindungi.
Kelompok sebelah?
Tergantung situasi.
Kalau mereka membawa makanan, mungkin kita bisa berdamai.
Kalau mereka menginginkan tanah, kita sebut musuh.
Kalau mereka berbeda agama, kita sebut kafir.
Dan kalau kita ingin menyerang mereka?
Tinggal cari alasan yang lebih tinggi.
“tuhan memerintahkan dan menghendaki darahnya.”
Praktis!
Kalau Tuhan adalah Sumber Moral, Mengapa Moral-Nya Bergantung pada Kelompok?
Di sinilah saya ingin mengajak kamu berhenti sebentar.
Bukan untuk menyerang agama.
Bukan pula untuk membela ateisme.
Hanya untuk menggunakan sesuatu yang sering kamu anggap sebagai hadiah tuhan:
akal.
Jika tuhan adalah sumber moral universal, mengapa moralitas yang diklaim berasal dari-nya memiliki batas geografis, etnis, politik, kelompok, bahkan agama?
Mengapa membunuh manusia bisa menjadi dosa pada satu halaman, tetapi menjadi kebaikan ketika dilakuka oleh nabi, dan menjadi suci ketika dilakukan pada yang dikutuk ole allah!
Mengapa standar moral tidak berlaku kepada semua manusia?
Dan yang penting:
Kalau sebuah tindakan menjadi baik hanya karena tuhan memerintahkannya, apa yang membuat tindakan itu baik? Moralitasnya? Atau tergantung pada siapa yang mengucapkan perintahnya?
Ini bukan pertanyaan sederhana.
Sebab jika jawabannya adalah, “Sesuatu menjadi baik karena tuhan memerintahkannya,” maka kita menghadapi masalah besar:
Apakah tuhan memerintahkan sesuatu karena sesuatu itu memang baik?
Atau sesuatu menjadi baik hanya karena tuhan yang memerintahkannya?
Kalau yang kedua, maka moralitas bukan lagi ukuran bagi tuhan.
Kehendak tuhanlah yang menjadi ukuran moralitas.
Kalau begitu, “Apa pun yang tuhan lakukan, saya sebut baik.”
Maka itu bukan moralitas. Itu kepatuhan. Itu perbudakan!
Mungkin Masalahnya Bukan Tuhan
Pada akhirnya, kritik sejarah dan arkeologi membuat narasi penaklukan berdarah lebih masuk akal jika dibaca sebagai konstruksi ideologis pascakejadian yang berkaitan dengan legitimasi politik dan teritorial, bukan semata-mata sebagai laporan sejarah literal.
Sementara antropologi dan psikologi agama menunjukkan pola yang lebih luas: manusia memiliki kecenderungan mencari kambing hitam, mengikuti otoritas, dan membedakan moralitas untuk kelompok sendiri dan kelompok luar.
Maka mungkin persoalannya bukan tuhan tiba-tiba berubah menjadi tidak bermoral.
Mungkin persoalannya jauh lebih sederhana.
Manusialah yang membuat tuhan berbicara sesuai kebutuhan manusia.
Ketika membutuhkan perdamaian, tuhan dikisahkan sebagai pembawa damai.
Ketika membutuhkan perang, tuhan menjadi panglima.
Ketika membutuhkan sertifikat tanah, tuhan menjadi notaris.
Ketika membutuhkan hukuman, tuhan menjadi hakim.
Ketika membutuhkan musuh, tuhan menyediakan daftar musuh.
Dan ketika manusia ingin membunuh tanpa merasa dirinya pembunuh, tuhan diberi pekerjaan paling nyaman di dunia:
menjadi penanggung jawab moral dari perbuatan manusia.
Jadi mungkin pertanyaan yang lebih jujur bukan:
“Mengapa tuhan mengizinkan kekejian?”
Melainkan:
“Mengapa manusia begitu sering membutuhkan tuhan untuk mengizinkannya yang sebenarnya ingin mereka lakukan, yaitu berbuat keji?”
Karena ada perbedaan besar antara manusia yang membunuh demi tuhan dan tuhan yang menyuruh manusia membunuh.
Yang pertama adalah fakta tentang manusia.
Yang kedua adalah klaim perintah tuhan.
Dan sejarah menunjukkan bahwa klaim semacam itu hampir selalu datang dari manusia.
Tuhan tidak pernah hadir di ruang sidang untuk memberikan kesaksian.
Tidak pernah berdiri di depan arkeolog untuk menunjuk:
“Ya, benar. Saya yang menyuruh mereka.”
Yang berbicara selalu manusia.
Yang menulis selalu manusia.
Yang menafsirkan selalu manusia.
Yang membunuh juga manusia.
Mungkin tuhan memang tidak konsisten. Atau tuhan tidak ada.
Atau mungkin manusia sangat konsisten menciptakan tuhan yang kebetulan selalu setuju dengan kekejian yang dilakukannya sendiri.
.png)
Yang bikin tuhan sudah jelas. ๐๐
ReplyDelete