Ada anggapan yang cukup lucu tentang atheis: begitu seseorang berhenti percaya kepada Tuhan, moralnya ikut menguap. Seolah-olah selama ini manusia tidak mencuri karena takut Tuhan melihat, tidak membunuh karena malaikat sedang mencatat, dan tidak menipu karena ada CCTV gaib yang dipasang di langit. Maka ketika seseorang menjadi atheis, katanya, semua rem langsung blong—besok paginya bangun, sarapan, lalu mencari korban. Logikanya kira-kira begini: hapus Tuhan, hapus moral. Kalau benar begitu, berarti sebagian manusia selama ini berbuat baik bukan karena memahami bahwa orang lain bisa terluka, melainkan karena takut ketahuan. Itu bukan kabar yang terlalu menggembirakan bagi spesies yang mengaku sebagai makhluk bermoral. Sebab kalau satu-satunya alasan kita tidak berbuat jahat adalah karena ada yang mengawasi, masalahnya mungkin bukan ketiadaan Tuhan. Masalahnya adalah kita belum benar-benar memahami apa itu moralitas. Atheis Juga Manusia Coba kita sederhanakan. Ketika menemukan dom...
Ada anggapan yang cukup lucu tentang atheis: begitu seseorang berhenti percaya kepada Tuhan, moralnya ikut menguap.
Seolah-olah selama ini manusia tidak mencuri karena takut Tuhan melihat, tidak membunuh karena malaikat sedang mencatat, dan tidak menipu karena ada CCTV gaib yang dipasang di langit. Maka ketika seseorang menjadi atheis, katanya, semua rem langsung blong—besok paginya bangun, sarapan, lalu mencari korban.
Logikanya kira-kira begini: hapus Tuhan, hapus moral.
Kalau benar begitu, berarti sebagian manusia selama ini berbuat baik bukan karena memahami bahwa orang lain bisa terluka, melainkan karena takut ketahuan. Itu bukan kabar yang terlalu menggembirakan bagi spesies yang mengaku sebagai makhluk bermoral. Sebab kalau satu-satunya alasan kita tidak berbuat jahat adalah karena ada yang mengawasi, masalahnya mungkin bukan ketiadaan Tuhan. Masalahnya adalah kita belum benar-benar memahami apa itu moralitas.
Atheis Juga Manusia
Coba kita sederhanakan. Ketika menemukan dompet berisi uang di jalan, kebanyakan orang tidak langsung bertanya, "Sebentar, pemilik dompet ini agamanya apa?" Kita mengembalikannya karena tahu orang yang kehilangan dompet sedang mengalami masalah—mungkin dia sedang panik, mungkin uang itu untuk membayar sekolah anak, membeli obat, atau menutup cicilan yang sudah tiga kali ditagih. Tidak perlu wahyu turun dari langit untuk memahami bahwa mengambilnya bukan tindakan yang baik. Kita hanya perlu menyadari satu hal sederhana: orang lain juga punya kehidupan. Mereka punya rasa takut, kebutuhan, orang yang dicintai, dan sesuatu yang bisa hilang. Sama seperti kita, mereka tidak ingin hidupnya dipersulit oleh manusia lain.
Moralitas sering kali dimulai dari kesadaran sesederhana itu. Bukan dari pertanyaan "apa yang akan tuhan lakukan kepada saya?", tetapi " tindakan apa yang akan saya lakukan kepada orang lain?" Perbedaannya kelihatan kecil, padahal secara moral jauh banget: yang pertama memusatkan perhatian pada hukuman, yang kedua pada akibat.
Moral Bukan Sistem Keamanan
Bayangkan kalau moralitas benar-benar hanya bekerja karena tuhan mengawasi. Maka kehidupan manusia sebenarnya mirip rumah yang dipenuhi CCTV, kamera di kamar, kamera di dapur, kamera di toilet (semoga tidak). Setiap gerakan direkam, setiap pikiran dicatat, setiap dosa masuk server. Bedanya, server-nya tidak diketahui lokasinya dan password-nya tidak pernah dibagikan.
Lucunya, sebagian orang justru menganggap sistem pengawasan seperti itu sebagai fondasi moral. Padahal sekalipun tuhan mengawasi, manusia tetap saja melakukan sesuatu yang tidak baik. Padahal yang sebenarnya, meskipun tidak ada yang melihat, manusia tetap melakukan hal baik dan tidak baik.
Kita menolong orang asing, mengembalikan barang yang bukan milik kita, menahan diri untuk tidak membalas penghinaan, meminta maaf ketika sadar telah menyakiti orang, bahkan kadang melakukan kebaikan lalu tidak menceritakannya kepada siapa pun. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada sertifikat, tidak ada poin pahala, tidak ada notifikasi. "Selamat! kamu baru saja mendapatkan +50 XP moral." Kita tetap melakukannya, karena manusia bisa memahami akibat dari tindakannya dan kemampuan itu jauh lebih menarik daripada sekadar melakukannya demi sesuatu yang disebut surga.
Kalau Tuhan Tidak Ada?
Ini pertanyaan yang sering muncul. Jawaban atheis seharusnya bukan "ya saya yang menentukan", itu justru mengerikan. Bayangkan setiap orang menjadi tuhan bagi dirinya sendiri: besok pagi tetangga berkata, "Menurut saya mencuri motor itu tidak salah." Kemudaian kita jawab, "Menurut saya juga tidak salah membakar rumahmu." Selesai. Sama seperti Musa yang membunuh atau Muhammad yang merampok. Moral bukan perkara siapa yang paling keras berteriak bahwa versinya dan alasannya paling benar dan bisa dibenarkan.
Karena itu, etika sekuler tidak berarti "saya bebas menentukan moral sesuka hati." Justru sebaliknya, moral menuntut kita memberi alasan yang bisa diperiksa. Kalau saya mengatakan membunuh manusia tanpa alasan yang sah itu salah, saya harus bisa menjelaskan mengapa. Kalau saya mengatakan menyiksa orang tidak bersalah itu buruk, saya harus bisa menjelaskan mengapa. Dan yang paling penting: saya harus bersedia menerima prinsip yang sama ketika posisi dibalik. Contoh sederhana. Perang Palestina. Hamas menyerbu Israel dan berhasil membunuh 1.200-an orang Ketika Israel membalas serangan, seluruh dunia berteriak tentang kemanusiaan. Dua-duanya tidak benar. Tapi saling membenarkan diri sendiri. Edan-nya saling membungkusnya dengan tuhan dewa allah.
Di sinilah moral mulai terasa seperti ujian. Kalau saya menuntut kebebasan untuk diri sendiri, apakah saya rela memberikan kebebasan yang sama untuk orang lain? Kalau saya ingin keyakinan saya dihormati, apakah saya menghormati hak orang lain untuk tidak mempercayainya? Ini bukan soal tuhan sedang melihat atau tidak. Ini soal konsistensi dan konsistensi kadang jauh lebih menyebalkan. Sebab kontradiksi hanya bisa diperbaiki.
Moral yang Tidak Anti Kritik
Ada satu keuntungan sekaligus kerugian dalam etika sekuler: tidak ada keputusan moral yang otomatis kebal dari pertanyaan. Tidak ada kalimat "pokoknya begitu." Tidak ada tombol final answer. Kalau sebuah aturan ternyata menyebabkan penderitaan yang tidak perlu, kita boleh mempertanyakan. Kalau sebuah norma ternyata memperlakukan manusia secara tidak adil, kita boleh menghapusnya. Dan kalau ternyata kita sendiri yang keliru? Ya, koreksi.
Memang agak menyebalkan. Tapi begitulah cara manusia belajar. Bayangkan ilmu pengetahuan kalau semua teori lama dianggap suci dan tidak boleh dikoreksi, kita mungkin masih berdebat apakah bumi berada di atas punggung kura-kura. Untungnya, manusia punya satu kebiasaan yang cukup berguna: mengatakan, "Oh, ternyata saya salah." Kalimat pendek, tapi peradaban cukup banyak dibangun dari sana.
Moral juga seharusnya begitu, bukan benda pusaka yang harus disimpan dalam lemari kaca, bukan aturan yang menjadi benar hanya karena usianya ribuan tahun, dan bukan pula sesuatu yang harus dipertahankan mati-matian hanya karena nenek moyang kita pernah mempercayainya. Usia sebuah gagasan tidak otomatis membuatnya benar. Kalau benar usia adalah ukuran kebenaran maka fosil dan lukisan gua di Makasar harus dipercaya lebih dari kitab suci.
Lalu, Bagaimana?
Tidak ada satu pun tombol rahasia di otak manusia bernama MORAL™. Banyak hal yang menahan kita untuk tidak berbuat jahat: Ada empati, rasa bersalah, kasih sayang, pengalaman hidup, hubungan dengan orang lain, norma sosial, hukum negara, konsekuensi, dan kemampuan membayangkan penderitaan orang lain. Kadang kita berbuat baik karena cinta, kadang karena empati, kadang karena tahu tindakan tertentu akan menghancurkan orang lain, kadang hanya karena ingin jadi manusia yang tidak memalukan ketika bercermin. Dan ya, kadang juga karena takut dihukum oleh negara. Tidak semuanya harus suci dan maha benar.
Manusia makhluk yang emosinya berantakan. Kita bisa sangat baik pagi ini, lalu marah-marah karena pengendara di depan tidak memberi lampu sein. Kita bisa menangis melihat penderitaan orang jauh di televisi, lalu lima menit kemudian kesal karena Wi-Fi lambat. Moralitas tidak membuat manusia menjadi malaikat. Ia hanya memberi kita alasan untuk tidak mengikuti semua dorongan yang muncul di kepala. Dan mungkin, itu sudah cukup. Gak perlu tuhan, kan.
Moral Tanpa Tuhan
Di sinilah bagian yang sering terlewat: jika seseorang tidak percaya pada tuhan, itu bukan berarti ia bebas dari tanggung jawab moral. Justru dalam satu pengertian, tanggung jawabnya menjadi lebih langsung. Tidak ada setan yang bisa dijadikan kambing hitam. Tidak ada takdir yang bisa dipanggil sebagai pengacara pembela. Tidak bisa berkata, "Bukan saya, tuhan-lah yang sudah menentukan," atau "saya cuma menjalankan perintah allah." Pilihan tetap pilihan, dan akibat tetap akibat. Rampok tetap rampok. Pembunuh tetap pembunuh!
Kalau saya menyakiti seseorang, yang terluka adalah manusia nyata, bukan konsep metafisik, bukan angka minus poin di buku catatan malaikat. Manusia. Dan luka itu mungkin akan dibawanya bertahun-tahun, mungkin seumur hidup. Di situlah moralitas menjadi konkret: tidak perlu menunggu akhirat untuk melihat akibat sebuah tindakan. Kadang neraka paling nyata justru terjadi di bumi, ketika manusia membuat hidup manusia lain menjadi neraka.
Moral Tanpa Tuhan: Bisa?
Bisa. Bukan karena atheis memiliki kitab suci rahasia, bukan karena atheis punya malaikat pengganti, dan bukan karena semua atheis otomatis menjadi manusia baik (atau jahat). Atheis tetap manusia, punya ego, bisa egois, bisa kejam, bisa kurang pengetahuan, bisa bajingan, sama seperti manusia lainnya. Yang membedakan bukan apakah seseorang punya agama atau tidak. Pertanyaan yang lebih menarik adalah: apa yang ia lakukan ketika tidak ada yang melihat?
Karena di situlah moral berhenti menjadi pertunjukan. Tidak ada kamera, tidak ada panggung, tidak ada penonton, tidak ada hadiah, tidak ada ancaman. Hanya ada kita dan keputusan yang kita ambil. Mungkin itulah ujian moral yang paling jujur, bukan "apakah tuhan akan menghukum saya?", tetapi: "kalau tidak ada siapa-siapa yang akan menghukum saya, apakah saya masih memilih untuk tidak menyakiti orang lain?"
Kalau jawabannya iya, mungkin kita akhirnya memahami sesuatu yang sederhana: moralitas tidak selalu membutuhkan mata yang mengawasi. Ia membutuhkan mata yang mampu melihat manusia lain sebagai manusia.
Dan mungkin, setelah semua kitab, tafsir, dogma, fatwa, dan ribuan tahun manusia saling berdebat tentang siapa yang paling benar, pertanyaan moral paling sederhana tetap sama:
Kalau kamu tidak takut neraka, apakah kamu masih punya alasan untuk tidak menjadi bajingan?
Kalau jawabannya iya—mungkin moralitas memang tidak membutuhkan Tuhan. Ia hanya membutuhkan manusia yang mau bertanggung jawab atas pilihannya sendiri.

Comments
Post a Comment