Skip to main content

Manusia Lebih Bermoral dari Sang Maha Bermoral

Murid yang Dilarang Memukul, Guru Membakar Atas Perintah Surga Bayangkan sebuah kelas kecil di sudut kampungmu. Seorang guru berdiri di depan kelas, mengangkat jarinya tinggi-tinggi, sambil berkata: “Jangan memukul temanmu. Itu jahat. Itu dosa!” Murid-murid mengangguk. Lalu, pada suatu kesempatan, guru yang sama membakar satu rumah di sebelah sekolah dan menyatakan bahwa perbuatannya adalah wahyu dari surga, yang datang lewat mimpinya. Aneh? Gak juga, sh. Seperti itulah kira-kira hubungan manusia dengan moralitas yang diklaim turun langsung dari tuhan dewa allah, melalui buku yang dianggap suci. Jujur, sebagian besar peradaban ini tumbuh dengan satu narasi besar: “Tanpa Tuhan, manusia akan menjadi liar, semaunya sendiri dan tentu saja tidak punya turan. Tanpa kitab suci, manusia akan saling memangsa & bengis tanpa konsekuensi (surga dan neraka).” Padahal realitas hari ini justru berkata sebaliknya. Manusia modern, menolak perbudakan. Manusia yang tahu kalau dirinya manusia pasti me...

JANJI TUHAN DEWA ALLAH HANYA BERLAKU DI BROSUR AGAMA


 Mengapa Negara Khilafah Selalu Gagal?

“Jika tuhan dewa allah Maha Baik dan Maha Kuasa, mengapa penderitaan tak pernah cuti?”
Begitulah problem klasik yang tak kunjung usai: The Problem of Evil. Tuhan menjanjikan perlindungan, kemakmuran, dan kemenangan bagi umat-Nya. Tapi fakta di lapangan? UmatNya tetap miskin, sering kalah, dan… minta sumbangan lewat speaker masjid. Sekarang malah minta sumbangan pakai sosial media.

Kalau janji tuhan dewa allah itu beneran konsisten, kenapa negara-negara yang mengklaim “menjalankan hukum allah” justru masuk daftar negara gagal versi PBB? Apa allah lupa password surganya?


Janji Tuhan Vs Fakta Dunia

Mari kita main logika sedikit.

"Negara Khilafah akan makmur karena menerapkan hukum allah."

Oke. Tapi kenapa yang makmur justru Norwegia, Denmark, dan Jepang, yang bahkan tidak punya istilah takbir dalam kamus nasionalnya? Kalau Tak🍻 ada.

Sedangkan negara-negara yang ngotot bawa embel-embel “Negara allah” & 'Pasukan/Tentara allah'  malah sibuk perang saudara, perekonomian jeblok, dan ekspor utamanya cuma berita duka dan kesadisan serta kekejian.


Dunia Sudah Berpikir, E... tuhan dewa allah Masih Saja Ceramah

Di masa lalu, tuhan dewa allah adalah sosok yang menjelaskan segala hal, entitas penjelas serba bisa;serba ada: 

kenapa hujan turun?
jawabnya: tuhan.

Kenapa pelangi muncul?
Jawabnya: Tuhan.

Kenapa kamu jomblo?
Jawabnya: Sedang diuji tuhan.

Tapi hari ini, sains sudah membongkar sebagian besar fenomea allam itu.

Hujan? Cuma perlu teknologi modifikasi cuaca, tebarkan garam di awan, tak lama berselang hujan turun.
Kalau mau hujan bikin tausiah 4 jam, doa sampai lambemu meniren, ya gak bakal hujan.

Pelangi? Itu cuma pembiasan cahaya, bukan senyum malaikat apalagi bidadari lagi turun ke bumi buat mandi. Maklum disurga lagi ada perbaikan pipa air.

Gempa bumi? Pergeseran lempeng bumi atau gunung mau meletus. Bukan murka tuhan dewa allah karena konser musik. Lebih dari itu kok tuhan ngamuk-an!

tuhan dewa allah hari ini seperti aktor sinetron yang sudah tidak laku: masih dipuja di re-run stasiun TV lokal, tapi dunia nyata sudah sedang survivel mode on.


Janji Tuhan: Antara Konsolasi dan Konsleting Nalar

Janji-janji ilahi bekerja seperti iklan MLM. Saat hidupmu susah, kamu percaya apa pun yang terdengar selalu manis dan indah, selama membawa dan memberi harapan. Tapi ketika janji itu tak kunjung ditepati, kamu malah disalahkan: “Kurang iman, lu bro.” “Kurang doa, lu brai.”

Lalu datanglah tafsir cadangan untuk menjawab keingkaran janji tuhan dewa allah!

  • “Kemakmuran itu maksudnya makmur di akhirat.”

  • “Kemenangan itu rohani, bukan militer.”

  • “Tuhan sedang mengujimu.”

  • “Tuhan punya rencana lain, rencana yang lebih besar, sabar dan terus berimanlah, kita nggak tahu tahu kapan janjinya di penuhi. Tapi pasti.” (mbah mu!)

Kalau gitu, apa bedanya tuhan dewa allah dengan tukang PHP atau sales MLM atau aktor penjual investasi bodong?


Ilusi, Disonansi, dan Radikalisasi

Janji-janji ilahi bisa menyatukan masyarakat, iya. Tapi saat kenyataan bertolak belakang, muncullah disonansi kognitif. Manusia mulai bertanya:

  • “Kok hidup saya malah makin susah setelah hijrah?”

  • “Kok negara kami tambah hancur setelah syariat ditegakkan?”

  • “Kok kami disuruh bersabar terus, tapi yang menindas malah makin kaya?”

Dari sini muncul dua jalan:

  1. Kritis dan melepaskan diri dari ilusi.

  2. Makin fanatik dan menyalahkan orang lain.
    (opsi ke-2 biasanya disertai bom rakitan, pengrusakan tempat ibadah atau ceramah lewat YouTube)


Negara Khilafah: Utopia yang Gagal Upgrade

Setiap kali konsep negara khilafah muncul, yang dijanjikan selalu sama: kemakmuran, keadilan, kejayaan.

Tapi setiap kali diperjuangkan untuk diwujudkan, yang terjadi juga selalu sama: perang, kemiskinan, dan politisi berjubah, warlord berdaster yang haus kuasa, dan penebar hasrat seksual tidak pada tempatnya.

Negara-negara semacam ini hanya berhasil membuktikan satu hal:
Tuhan tidak bisa jadi manajer negara. Atau, janji janjinya memang hanya berlaku di zaman unta main congklak dan belum tersedia versi update untuk dunia modern.


Mengapa Janji Ilahi Masih Laku di Pasaran?

Karena manusia suka harapan cepat saji.
Janji tuhan dewa allah menawarkan 3 hal yang sangat nyandu:

  1. Harapan di Tengah Keputusasaan:
    Dunia boleh hancur, tapi tetap bisa berharap dapet bidadari di surga. Mental escape.

  2. Penjelasan Instan atas Penderitaan:
    Daripada pusing mikir sistemik, mending bilang: "Ini cobaan." Simpel.

  3. Kontrol Emosi Murah Meriah:
    Doa, zikir, dan ritual bisa jadi terapi psikologis. Lumayan, dibanding bayar psikiater.



Faktanya? Janji Tuhan Adalah Penghalang Kemajuan

Ketika masyarakat lebih percaya pada keajaiban ilahi ketimbang kerja keras dan ilmu pengetahuan, maka lahirlah generasi yang menunggu mukjizat sambil rebahan.

Fakta dunia tidak bisa disangkal:

Negara yang paling religius seringkali justru paling tidak makmur.

Negara yang sekuler dan ilmiah justru jadi pusat inovasi dan kemanusiaan.

tuhan dewa allah mungkin tidak pernah menepati janji janjinya. Tapi Google, sains, dan vaksin terbukti menyelamatkan nyawamu.


Sudah Waktunya Berhenti Menyandera Masa Depan dengan Janji Masa Lalu

Janji Tuhan ibarat brosur perumahan murah: penuh ilustrasi, tapi begitu survei lokasi, yang ada cuma kebun kosong dan sebuah papan bertuliskan

“masih dalam proses pembangunan sejak zaman nabi adam.”

Please, sudah saatnya kamu berhenti menunggu surga dan mulai membangun dunia.

Kalau kamu masih percaya tuhan dewa allah bakal membalas semua keadilan...
...maka kamu sedang jadi figuran dalam drama ilahi yang naskahnya ditulis ribuan tahun lalu—tanpa season finale yang jelas.

selamat menjadi figuran atau budak budaya arab!

Comments

Popular posts from this blog

MENJELASKAN ATEISME PADA ANAK | MEMAHAMI BEDA ATEISME DAN KOMUNISME

MEMAHAMI BEDA ATEISME DAN KOMUNISME "Ayah, Ayah! Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Dani, anak laki-laki yg berusia 8 tahun, sambil menarik ujung baju ayahnya yang sedang mengetik. Ayahnya tersenyum. "Tentu saja, jagoan. Ada apa?" "Tadi di sekolah, teman-teman ngobrolin kata-kata aneh. Ada ateisme sama komunisme. Itu apa, Yah?" Ayah melipat laptopnya dan berpaling menghadap Dani, "Pertanyaan bagus. Ayah akan jelaskan pelan-pelan ya, biar dirimu mengerti." "Pertama, kita bahas ateisme dulu ya," kata Ayah. "Dani tahu kan, kalau banyak orang percaya sama tuhan? Mereka berdoa, ke gereja, ke masjid, Sinagog, Pura, Wihara, Klenteng, bahkan ada juga yang tidak punya tempat khusus untuk berdoa." Dani mengangguk. "Iya, Ayah. Aku tahu!" "Nah, ateisme itu artinya seseorang yg tidak percaya kalau tuhan itu ada. Bukan berarti seseorang itu jahat atau baik, Ia punya cara pandang sendiri tentang dunia. Menurutnya segala sesuatu y...

TUHAN LUPA MEMANUSIAKAN MANUSIA ATAU TUHAN MEMANG TIDAK BERMORAL

Coba bayangkan hidup di dunia tanpa RT/RW , tanpa KTP , SIM , paspor , atau akta kelahiran . Kedengarannya sepele, kan? Tapi tanpa dokumen dokumen itu, kita “hilang” dari sistem sosial. Anak lahir tanpa akta, bisa dianggap tidak ada; orang mati tanpa surat kematian, bisa dianggap masih hidup, minimal masih ada dalam daftar pemilih tetap. Di dunia modern, eksistensi kita bukan cuma soal bernapas, tapi soal apakah nama kita tercatat rapi dalam arsip negara. Identitas kita bukan sekadar wajah atau suara, tapi juga nomor seri resmi yang dicetak di selembar kertas bercap kota. Selain dokumen, ada yang menjaga kita dari kekacauan, yaitu hukum. Aturan lalu lintas misalnya, kalau semua orang nyupirnya kayak Fast & Furious, jalan raya jadi Hunger Games . Jika hukum gagal, masih ada polisi tak terlihat  yang bernama opini publik . Kita pakai baju aneh, orang menatap; kita buang sampah sembarangan, orang merekam. Malu bisa jadi hukuman lebih tajam daripada denda. Hidup modern pada dasarn...

DARI PREMAN MENJELMA TUHAN

Pasti kamu pernah dengar kisah, ada sebuah tindakan kejahatan yang kemudian dibenarkan dengan dalih “demi kebaikan yang lebih besar”! Contoh, Zeus dan Prometeus, Prometeus mencuri api keterampilan mekanik Hephaestus dan kebijaksanaan Athena dan memberikannya kepada manusia agar mereka bisa bertahan hidup dan makmur. Pencurian ini dianggap sebagai pelanggaran besar oleh Zeus. Zeus menghukum Prometeus dengan mengikatnya di gunung dan setiap hari seekor elang memakan hatinya. Namun, tindakan Prometeus ini dianggap sebagai "kebaikan yang lebih besar" karena memberikan manusia pengetahuan dan kemampuan untuk berkembang. Contoh lain, Musa. Tindakan Musa yang membunuh juga ‘dibenarkan’ atas nama ‘kebaikan’ dan tujuan kebenaran yang lebih besar. Dalam sejarah, dongeng keagamaan digunakan sebagai alat melegitimasi kekuasaan dan tindakan-tindakan yang sulit diterima. Dari pengorbanan manusia hingga sumpah perang suci, atau kepercayaan jika mati dalam perang adalah mati dalam keadaan su...