Mengapa Negara Khilafah Selalu Gagal?
“Jika tuhan dewa allah Maha Baik dan Maha Kuasa, mengapa penderitaan tak pernah cuti?”
Begitulah problem klasik yang tak kunjung usai: The Problem of Evil. Tuhan menjanjikan perlindungan, kemakmuran, dan kemenangan bagi umat-Nya. Tapi fakta di lapangan? UmatNya tetap miskin, sering kalah, dan… minta sumbangan lewat speaker masjid. Sekarang malah minta sumbangan pakai sosial media.
Kalau janji tuhan dewa allah itu beneran konsisten, kenapa negara-negara yang mengklaim “menjalankan hukum allah” justru masuk daftar negara gagal versi PBB? Apa allah lupa password surganya?
Janji Tuhan Vs Fakta Dunia
Mari kita main logika sedikit.
"Negara Khilafah akan makmur karena menerapkan hukum allah."
Oke. Tapi kenapa yang makmur justru Norwegia, Denmark, dan Jepang, yang bahkan tidak punya istilah takbir dalam kamus nasionalnya? Kalau Tak🍻 ada.
Sedangkan negara-negara yang ngotot bawa embel-embel “Negara allah” & 'Pasukan/Tentara allah' malah sibuk perang saudara, perekonomian jeblok, dan ekspor utamanya cuma berita duka dan kesadisan serta kekejian.
Dunia Sudah Berpikir, E... tuhan dewa allah Masih Saja Ceramah
Di masa lalu, tuhan dewa allah adalah sosok yang menjelaskan segala hal, entitas penjelas serba bisa;serba ada:
kenapa hujan turun?
jawabnya: tuhan.
Kenapa pelangi muncul?
Jawabnya: Tuhan.
Kenapa kamu jomblo?
Jawabnya: Sedang diuji tuhan.
Tapi hari ini, sains sudah membongkar sebagian besar fenomea allam itu.
Hujan? Cuma perlu teknologi modifikasi cuaca, tebarkan garam di awan, tak lama berselang hujan turun.
Kalau mau hujan bikin tausiah 4 jam, doa sampai lambemu meniren, ya gak bakal hujan.
Pelangi? Itu cuma pembiasan cahaya, bukan senyum malaikat apalagi bidadari lagi turun ke bumi buat mandi. Maklum disurga lagi ada perbaikan pipa air.
Gempa bumi? Pergeseran lempeng bumi atau gunung mau meletus. Bukan murka tuhan dewa allah karena konser musik. Lebih dari itu kok tuhan ngamuk-an!
tuhan dewa allah hari ini seperti aktor sinetron yang sudah tidak laku: masih dipuja di re-run stasiun TV lokal, tapi dunia nyata sudah sedang survivel mode on.
Janji Tuhan: Antara Konsolasi dan Konsleting Nalar
Janji-janji ilahi bekerja seperti iklan MLM. Saat hidupmu susah, kamu percaya apa pun yang terdengar selalu manis dan indah, selama membawa dan memberi harapan. Tapi ketika janji itu tak kunjung ditepati, kamu malah disalahkan: “Kurang iman, lu bro.” “Kurang doa, lu brai.”
Lalu datanglah tafsir cadangan untuk menjawab keingkaran janji tuhan dewa allah!
-
“Kemakmuran itu maksudnya makmur di akhirat.”
-
“Kemenangan itu rohani, bukan militer.”
-
“Tuhan sedang mengujimu.”
-
“Tuhan punya rencana lain, rencana yang lebih besar, sabar dan terus berimanlah, kita nggak tahu tahu kapan janjinya di penuhi. Tapi pasti.” (mbah mu!)
Kalau gitu, apa bedanya tuhan dewa allah dengan tukang PHP atau sales MLM atau aktor penjual investasi bodong?
Ilusi, Disonansi, dan Radikalisasi
Janji-janji ilahi bisa menyatukan masyarakat, iya. Tapi saat kenyataan bertolak belakang, muncullah disonansi kognitif. Manusia mulai bertanya:
-
“Kok hidup saya malah makin susah setelah hijrah?”
-
“Kok negara kami tambah hancur setelah syariat ditegakkan?”
-
“Kok kami disuruh bersabar terus, tapi yang menindas malah makin kaya?”
Dari sini muncul dua jalan:
-
Kritis dan melepaskan diri dari ilusi.
-
Makin fanatik dan menyalahkan orang lain.
(opsi ke-2 biasanya disertai bom rakitan, pengrusakan tempat ibadah atau ceramah lewat YouTube)
Negara Khilafah: Utopia yang Gagal Upgrade
Setiap kali konsep negara khilafah muncul, yang dijanjikan selalu sama: kemakmuran, keadilan, kejayaan.
Tapi setiap kali diperjuangkan untuk diwujudkan, yang terjadi juga selalu sama: perang, kemiskinan, dan politisi berjubah, warlord berdaster yang haus kuasa, dan penebar hasrat seksual tidak pada tempatnya.
Negara-negara semacam ini hanya berhasil membuktikan satu hal:
Tuhan tidak bisa jadi manajer negara. Atau, janji janjinya memang hanya berlaku di zaman unta main congklak dan belum tersedia versi update untuk dunia modern.
Mengapa Janji Ilahi Masih Laku di Pasaran?
Karena manusia suka harapan cepat saji.
Janji tuhan dewa allah menawarkan 3 hal yang sangat nyandu:
-
Harapan di Tengah Keputusasaan:
Dunia boleh hancur, tapi tetap bisa berharap dapet bidadari di surga. Mental escape. -
Penjelasan Instan atas Penderitaan:
Daripada pusing mikir sistemik, mending bilang: "Ini cobaan." Simpel. - Kontrol Emosi Murah Meriah:
Doa, zikir, dan ritual bisa jadi terapi psikologis. Lumayan, dibanding bayar psikiater.
Faktanya? Janji Tuhan Adalah Penghalang Kemajuan
Ketika masyarakat lebih percaya pada keajaiban ilahi ketimbang kerja keras dan ilmu pengetahuan, maka lahirlah generasi yang menunggu mukjizat sambil rebahan.
Fakta dunia tidak bisa disangkal:
Negara yang paling religius seringkali justru paling tidak makmur.
Negara yang sekuler dan ilmiah justru jadi pusat inovasi dan kemanusiaan.
tuhan dewa allah mungkin tidak pernah menepati janji janjinya. Tapi Google, sains, dan vaksin terbukti menyelamatkan nyawamu.
Sudah Waktunya Berhenti Menyandera Masa Depan dengan Janji Masa Lalu
Janji Tuhan ibarat brosur perumahan murah: penuh ilustrasi, tapi begitu survei lokasi, yang ada cuma kebun kosong dan sebuah papan bertuliskan
“masih dalam proses pembangunan sejak zaman nabi adam.”
Please, sudah saatnya kamu berhenti menunggu surga dan mulai membangun dunia.
Kalau kamu masih percaya tuhan dewa allah bakal membalas semua keadilan...
...maka kamu sedang jadi figuran dalam drama ilahi yang naskahnya ditulis ribuan tahun lalu—tanpa season finale yang jelas.
selamat menjadi figuran atau budak budaya arab!

Comments
Post a Comment