Skip to main content

WAHYU DARI SUDUT PANDANG TELESKOP: MENGAPA BIG BANG DAN SAINS BUKAN KEYAKINAN

Halo, sesama primata tak berbulu yang kebetulan masih diberi kesempatan menghirup oksigen. Ada satu kesalahpahaman kosmis yang entah kenapa masih terus bereinkarnasi di kolom-kolom komentar internet.  "Kalau kamu bisa percaya Big Bang, artinya kamu juga punya agama."  Jawabnya: TIDAK!  Kalau ada yang berkata, "Saya percaya bumi mengelilingi Matahari," bukan berarti Matahari resmi menjadi tuhan, karena terselip kata “percaya”. So, yang membedakan antara model ilmiah dengan kepercayaan itu bukan “ada atau tidak adanya keyakinan”, tapi cara keyakinan itu diperoleh, kemudian diteliti, diuji, dan kalau tidak terbukti buang ke tempat sampah.  Big Bang Tidak Punya Kitab Suci  Banyak orang mengira kosmologi adalah agama dengan seragam laboratorium, agama dengan tuhan ilmiah atau menyembah ilmu pengetahuan.  Pertanyaan berikutnya: "Jadi kalian mengimani bahwa alam semesta berasal dari ledakan?"  Jawabnya: TIDAK!  Saya “menerima” bukan “mengimani” model ...

SUPERSENSE | OTAK ATIK GATHUK

Ketika berhadapan dg kejadian yg tidak dapat dijelaskan, otak tidak suka "vakum" penjelasan. Alih-alih menerimanya peristiwanya sebagai kebetulan, kita cenderung menciptakan narasi penyebabnya.

Di sinilah interpretasi supernatural muncul. Misal:

Keberuntungan & Kesialan:

Ketika sesuatu YG baik & menguntungkan terjadi setelah pakai jimat atau setelah melafal doa, otak kita cenderung membuat hubungan sebab-akibat, meskipun itu hanya kebetulan.

Tapi ketika hasilnya buruk, merasa melanggar pantangan yg dianjurkan. 

Fenomena Alam:

Sebelum pengetahuan modern menjelaskan sebab terjadinya gempa, banjir, atau gunung meletus, bencana sering dikaitkan dg kemarahan dewa atau roh.

Otak menciptakan penjelasan supernatural untuk "memahami" peristiwa yg tidak dikendalikan atau diprediksi. 

Kehilangan dan Kesedihan:

Saat kehilangan atau trauma, banyak orang mencari makna atau tujuan di baliknya, bahkan sering mengaitkannya dg takdir, karma, atau campur tangan ilahi, hanya untuk memberi rasa "pemahaman" & kenyamanan. Unt bisa menerima kondisi yg terjadi. 

Hood menunjukkan dalam bukunya SUPERSENSE, bahwa mekanisme otak ini bukan tanda kebodohan atau irasionalitas.

Sebaliknya, inilah konsekuensi alami atas cara kerja kognisi kita. 

Kita cenderung punya bawaan untuk melihat pelaku di balik peristiwa, bahkan ketika tidak ada otak justru mengada-adakan.

Ini adalah bagian dari "supersense", kecenderungan untuk mengaitkan makna pd hal-hal yg mungkin hanya kebetulan atau peristiwa yg terjadi dari proses alamiah. 

Pendeknya, otak itu pencerita yg gigih. Otak akan terus menciptakan narasi dan penjelasan atas dunia di sekitar kita, & kadang kita dipaksa untuk mempercayainya dibandikan harus percaya pd cerita sebenarnya yg memiliki bukti & fakta logis.

Yg supernatural, adalah landasan ilusi.

Comments

Popular posts from this blog

MENJELASKAN ATEISME PADA ANAK | MEMAHAMI BEDA ATEISME DAN KOMUNISME

MEMAHAMI BEDA ATEISME DAN KOMUNISME "Ayah, Ayah! Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Dani, anak laki-laki yg berusia 8 tahun, sambil menarik ujung baju ayahnya yang sedang mengetik. Ayahnya tersenyum. "Tentu saja, jagoan. Ada apa?" "Tadi di sekolah, teman-teman ngobrolin kata-kata aneh. Ada ateisme sama komunisme. Itu apa, Yah?" Ayah melipat laptopnya dan berpaling menghadap Dani, "Pertanyaan bagus. Ayah akan jelaskan pelan-pelan ya, biar dirimu mengerti." "Pertama, kita bahas ateisme dulu ya," kata Ayah. "Dani tahu kan, kalau banyak orang percaya sama tuhan? Mereka berdoa, ke gereja, ke masjid, Sinagog, Pura, Wihara, Klenteng, bahkan ada juga yang tidak punya tempat khusus untuk berdoa." Dani mengangguk. "Iya, Ayah. Aku tahu!" "Nah, ateisme itu artinya seseorang yg tidak percaya kalau tuhan itu ada. Bukan berarti seseorang itu jahat atau baik, Ia punya cara pandang sendiri tentang dunia. Menurutnya segala sesuatu y...

TUHAN LUPA MEMANUSIAKAN MANUSIA ATAU TUHAN MEMANG TIDAK BERMORAL

Coba bayangkan hidup di dunia tanpa RT/RW , tanpa KTP , SIM , paspor , atau akta kelahiran . Kedengarannya sepele, kan? Tapi tanpa dokumen dokumen itu, kita “hilang” dari sistem sosial. Anak lahir tanpa akta, bisa dianggap tidak ada; orang mati tanpa surat kematian, bisa dianggap masih hidup, minimal masih ada dalam daftar pemilih tetap. Di dunia modern, eksistensi kita bukan cuma soal bernapas, tapi soal apakah nama kita tercatat rapi dalam arsip negara. Identitas kita bukan sekadar wajah atau suara, tapi juga nomor seri resmi yang dicetak di selembar kertas bercap kota. Selain dokumen, ada yang menjaga kita dari kekacauan, yaitu hukum. Aturan lalu lintas misalnya, kalau semua orang nyupirnya kayak Fast & Furious, jalan raya jadi Hunger Games . Jika hukum gagal, masih ada polisi tak terlihat  yang bernama opini publik . Kita pakai baju aneh, orang menatap; kita buang sampah sembarangan, orang merekam. Malu bisa jadi hukuman lebih tajam daripada denda. Hidup modern pada dasarn...

GENOSIDA BERSAMA TUHAN: DARI AMALEK SAMPAI AT-TAUBAH, KEKERASAN JADI TIKET SURGA

  Kekerasan adalah bagian dari sejarah manusia. Bahkan bisa disebut sebagai “bahasa universal” yang dipahami semua kelompok, jauh sebelum ada alfabet, kitab suci Abrahamik, bahkan ketika emoji sudah dibikin filmnya. Dalam antropologi, kekerasan selalu muncul sebagai mekanisme bertahan hidup sekaligus cara menyelesaikan konflik; dari perebutan wilayah berburu, ritual pengorbanan, sampai penaklukan peradaban. Sosiolog klasik seperti Émile Durkheim melihatnya sebagai bagian dari proses menjaga kohesi kelompok: musuh di luar dipukul dulu, baru kita bisa duduk di dalam rumah dengan tenang. Singkatnya, sejak awal peradaban, manusia lebih percaya pada batu dan tombak daripada meja bundar atau “dialog kebangsaan.” Tapi ada satu “inovasi kekerasan” yang cukup unik: ketika kekerasan dilabeli nama ‘tuhan dewa allah.’ Begitu naik level jadi “perintah dari langit,” kekerasan berubah dari sekadar pembantaian menjadi ritual suci. Kalau ada warga kampung merampok lalu membantai tetangga yang meng...