Ketika berhadapan dg kejadian yg tidak dapat dijelaskan, otak tidak suka "vakum" penjelasan. Alih-alih menerimanya peristiwanya sebagai kebetulan, kita cenderung menciptakan narasi penyebabnya.
Di sinilah interpretasi supernatural muncul. Misal:
Keberuntungan & Kesialan:
Ketika sesuatu YG baik & menguntungkan terjadi setelah pakai jimat atau setelah melafal doa, otak kita cenderung membuat hubungan sebab-akibat, meskipun itu hanya kebetulan.
Tapi ketika hasilnya buruk, merasa melanggar pantangan yg dianjurkan.
Fenomena Alam:
Sebelum pengetahuan modern menjelaskan sebab terjadinya gempa, banjir, atau gunung meletus, bencana sering dikaitkan dg kemarahan dewa atau roh.
Otak menciptakan penjelasan supernatural untuk "memahami" peristiwa yg tidak dikendalikan atau diprediksi.
Kehilangan dan Kesedihan:
Saat kehilangan atau trauma, banyak orang mencari makna atau tujuan di baliknya, bahkan sering mengaitkannya dg takdir, karma, atau campur tangan ilahi, hanya untuk memberi rasa "pemahaman" & kenyamanan. Unt bisa menerima kondisi yg terjadi.
Hood menunjukkan dalam bukunya SUPERSENSE, bahwa mekanisme otak ini bukan tanda kebodohan atau irasionalitas.
Sebaliknya, inilah konsekuensi alami atas cara kerja kognisi kita.
Kita cenderung punya bawaan untuk melihat pelaku di balik peristiwa, bahkan ketika tidak ada otak justru mengada-adakan.
Ini adalah bagian dari "supersense", kecenderungan untuk mengaitkan makna pd hal-hal yg mungkin hanya kebetulan atau peristiwa yg terjadi dari proses alamiah.
Pendeknya, otak itu pencerita yg gigih. Otak akan terus menciptakan narasi dan penjelasan atas dunia di sekitar kita, & kadang kita dipaksa untuk mempercayainya dibandikan harus percaya pd cerita sebenarnya yg memiliki bukti & fakta logis.
Yg supernatural, adalah landasan ilusi.

Comments
Post a Comment