Skip to main content

Manusia Lebih Bermoral dari Sang Maha Bermoral

Murid yang Dilarang Memukul, Guru Membakar Atas Perintah Surga Bayangkan sebuah kelas kecil di sudut kampungmu. Seorang guru berdiri di depan kelas, mengangkat jarinya tinggi-tinggi, sambil berkata: “Jangan memukul temanmu. Itu jahat. Itu dosa!” Murid-murid mengangguk. Lalu, pada suatu kesempatan, guru yang sama membakar satu rumah di sebelah sekolah dan menyatakan bahwa perbuatannya adalah wahyu dari surga, yang datang lewat mimpinya. Aneh? Gak juga, sh. Seperti itulah kira-kira hubungan manusia dengan moralitas yang diklaim turun langsung dari tuhan dewa allah, melalui buku yang dianggap suci. Jujur, sebagian besar peradaban ini tumbuh dengan satu narasi besar: “Tanpa Tuhan, manusia akan menjadi liar, semaunya sendiri dan tentu saja tidak punya turan. Tanpa kitab suci, manusia akan saling memangsa & bengis tanpa konsekuensi (surga dan neraka).” Padahal realitas hari ini justru berkata sebaliknya. Manusia modern, menolak perbudakan. Manusia yang tahu kalau dirinya manusia pasti me...

TUHAN, MAHLUK DARI MULTIVERSE

(Sebuah Komedi Kontingensi)

Tuan-tuan dan nyonya-nyonya, hadirin dan hadirot, dari yang rajin ibadah hingga yang rajin debat, dari yang baca kitab sampai yang baca zodiak tiap Jumat—
Selamat datang di cuitan filsafat kosmis edisi spesial: #TuhanTidakBermoral 


The Argument from Contingency!
Mari kita mulai dengan Mbah Thomas Aquinas. Ia bertanya, dengan wajah penuh kebingungan eksistensial:
“Di dunia ini, segala sesuatu bisa saja tidak ada. Tapi kok malah ada? Pasti ada sesuatu yang membuat semuanya harus ada. Dan itu—tentu saja—Tuhan. Titik.”

Hmm. Logika ini mirip seperti kamu nemu sandal jepit nyasar di depan rumah, terus langsung menyimpulkan:
“Ini pasti kiriman Tuhan!”
Inilah jurus klasik iman zaman dulu:
Melompat ke kesimpulan seperti atlet lompat galah metafisika.

Tuan-tuan dan nyonya-nyonya, baik yang membaca dengan dahi berkerut maupun yang membaca sambil rebahan dan ngopi, mari kita kupas kulit kacangnya... biar nggak terlalu pahit.

Kata Ilmu Pengetahuan:
Semesta ini sudah cukup dramatis tanpa harus melibatkan Tuhan sebagai tokoh utama.
Prinsip sains modern cukup sederhana:

“Kalau ada Big Bang di awal, terus muncul bintang, planet, dan manusia yang doyan bertanya tentang eksistensi... ya kita pelajari saja. Gak perlu bumbu mistis.”

Tapi Mbah Aquinas, seperti dosen yang tak puas dengan jawaban skripsimu, tetap ngeyel:

“Tapi kenapa ada sesuatu? Kenapa tidak tidak ada sama sekali?”

Sains pun angkat bahu.

“Maaf, kami sedang sibuk menghitung neutrino dan menghindari lubang hitam yang akan menelan galaksi empat miliar tahun lagi. Silakan tanya ke Departemen Metafisika.”

Aquinas lanjut:

“Kalau semua hal bergantung pada yang lain, pasti ada satu yang tidak bergantung—yang mandiri sepenuhnya. Itulah Tuhan.”

Tiba-tiba, Tuhan masuk. Bawa kopi dan kartu nama.
Masalahnya, logika tidak sesimpel itu, Mbah.

Siapa bilang rantai sebab-akibat harus punya ujung?
Bayangkan sebuah lingkaran sempurna. Sekarang, coba tunjuk satu titik dan bilang:

“Inilah titik awalnya!”

Anak-anak Gen Z langsung nyinyir:

“Yhaa mana bisa, Mbah! Lingkaran tuh gak punya awal. Semua titik nyambung, setara, tanpa yang lebih ‘awal’ dari yang lain.”

Artinya?

Tidak adanya awal bukan berarti sistem itu mustahil.
Dan kalau pun harus ada “sesuatu yang harus ada”, siapa bilang itu Tuhan berjanggut panjang, bersuara bariton, atau pakai celana cingkrang?

Kenapa gak konstanta Planck aja?
Atau energi vakum kuantum?
Atau alien pengangguran yang iseng menyalakan mesin pencipta semesta?

Mengklaim bahwa necessary being = Tuhan Abrahamik, itu kayak lihat kilat, langsung nyimpulin:

“Wah, Ki Ageng Selo lagi latihan nangkep petir nih!”

Necessary Itu Apa, Sih?
“Tuhan harus ada,” katanya. Tapi… apa maksudnya harus?

Mayoritas argumen cuma muter-muter kayak sinetron. Kamu berdiri di tengah benang kusut logika, pura-pura paham sambil mengangguk:

“Ya… Tuhan pasti ada…”

Argumen kontingensi ini memang menggoda, kayak audisi “Siapa Mau Jadi Ustadz?”
Semua semangat angkat tangan. Tapi pas ditanya arti ayat?

“Eh… itu... maksudnya... ya intinya kita bersyukur aja, Ustadz.”

Begitu disorot lampu logika dan mikroskop ilmiah, argumen ini seringnya panik, mulai marah-marah, dan menyebut pertanyaan sebagai “penghinaan terhadap iman.”

Jadi pertanyaannya:

Apakah Tuhan layak dijadikan alasan serius untuk menyembah makhluk tak terlihat—yang konon sensitif kalau kamu makan babi?

Atau...
Apakah kita cuma penakut yang tak sanggup menghadapi kenyataan bahwa hidup ini mungkin gak punya sekuel setelah kematian?

Comments

Popular posts from this blog

MENJELASKAN ATEISME PADA ANAK | MEMAHAMI BEDA ATEISME DAN KOMUNISME

MEMAHAMI BEDA ATEISME DAN KOMUNISME "Ayah, Ayah! Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Dani, anak laki-laki yg berusia 8 tahun, sambil menarik ujung baju ayahnya yang sedang mengetik. Ayahnya tersenyum. "Tentu saja, jagoan. Ada apa?" "Tadi di sekolah, teman-teman ngobrolin kata-kata aneh. Ada ateisme sama komunisme. Itu apa, Yah?" Ayah melipat laptopnya dan berpaling menghadap Dani, "Pertanyaan bagus. Ayah akan jelaskan pelan-pelan ya, biar dirimu mengerti." "Pertama, kita bahas ateisme dulu ya," kata Ayah. "Dani tahu kan, kalau banyak orang percaya sama tuhan? Mereka berdoa, ke gereja, ke masjid, Sinagog, Pura, Wihara, Klenteng, bahkan ada juga yang tidak punya tempat khusus untuk berdoa." Dani mengangguk. "Iya, Ayah. Aku tahu!" "Nah, ateisme itu artinya seseorang yg tidak percaya kalau tuhan itu ada. Bukan berarti seseorang itu jahat atau baik, Ia punya cara pandang sendiri tentang dunia. Menurutnya segala sesuatu y...

TUHAN LUPA MEMANUSIAKAN MANUSIA ATAU TUHAN MEMANG TIDAK BERMORAL

Coba bayangkan hidup di dunia tanpa RT/RW , tanpa KTP , SIM , paspor , atau akta kelahiran . Kedengarannya sepele, kan? Tapi tanpa dokumen dokumen itu, kita “hilang” dari sistem sosial. Anak lahir tanpa akta, bisa dianggap tidak ada; orang mati tanpa surat kematian, bisa dianggap masih hidup, minimal masih ada dalam daftar pemilih tetap. Di dunia modern, eksistensi kita bukan cuma soal bernapas, tapi soal apakah nama kita tercatat rapi dalam arsip negara. Identitas kita bukan sekadar wajah atau suara, tapi juga nomor seri resmi yang dicetak di selembar kertas bercap kota. Selain dokumen, ada yang menjaga kita dari kekacauan, yaitu hukum. Aturan lalu lintas misalnya, kalau semua orang nyupirnya kayak Fast & Furious, jalan raya jadi Hunger Games . Jika hukum gagal, masih ada polisi tak terlihat  yang bernama opini publik . Kita pakai baju aneh, orang menatap; kita buang sampah sembarangan, orang merekam. Malu bisa jadi hukuman lebih tajam daripada denda. Hidup modern pada dasarn...

DARI PREMAN MENJELMA TUHAN

Pasti kamu pernah dengar kisah, ada sebuah tindakan kejahatan yang kemudian dibenarkan dengan dalih “demi kebaikan yang lebih besar”! Contoh, Zeus dan Prometeus, Prometeus mencuri api keterampilan mekanik Hephaestus dan kebijaksanaan Athena dan memberikannya kepada manusia agar mereka bisa bertahan hidup dan makmur. Pencurian ini dianggap sebagai pelanggaran besar oleh Zeus. Zeus menghukum Prometeus dengan mengikatnya di gunung dan setiap hari seekor elang memakan hatinya. Namun, tindakan Prometeus ini dianggap sebagai "kebaikan yang lebih besar" karena memberikan manusia pengetahuan dan kemampuan untuk berkembang. Contoh lain, Musa. Tindakan Musa yang membunuh juga ‘dibenarkan’ atas nama ‘kebaikan’ dan tujuan kebenaran yang lebih besar. Dalam sejarah, dongeng keagamaan digunakan sebagai alat melegitimasi kekuasaan dan tindakan-tindakan yang sulit diterima. Dari pengorbanan manusia hingga sumpah perang suci, atau kepercayaan jika mati dalam perang adalah mati dalam keadaan su...