(Sebuah Komedi Kontingensi)
Tuan-tuan dan nyonya-nyonya, hadirin dan hadirot, dari yang rajin ibadah hingga yang rajin debat, dari yang baca kitab sampai yang baca zodiak tiap Jumat—
Selamat datang di cuitan filsafat kosmis edisi spesial: #TuhanTidakBermoral
The Argument from Contingency!
Mari kita mulai dengan Mbah Thomas Aquinas. Ia bertanya, dengan wajah penuh kebingungan eksistensial:
“Di dunia ini, segala sesuatu bisa saja tidak ada. Tapi kok malah ada? Pasti ada sesuatu yang membuat semuanya harus ada. Dan itu—tentu saja—Tuhan. Titik.”
Hmm. Logika ini mirip seperti kamu nemu sandal jepit nyasar di depan rumah, terus langsung menyimpulkan:
“Ini pasti kiriman Tuhan!”
Inilah jurus klasik iman zaman dulu:
Melompat ke kesimpulan seperti atlet lompat galah metafisika.
Tuan-tuan dan nyonya-nyonya, baik yang membaca dengan dahi berkerut maupun yang membaca sambil rebahan dan ngopi, mari kita kupas kulit kacangnya... biar nggak terlalu pahit.
Kata Ilmu Pengetahuan:
Semesta ini sudah cukup dramatis tanpa harus melibatkan Tuhan sebagai tokoh utama.
Prinsip sains modern cukup sederhana:
“Kalau ada Big Bang di awal, terus muncul bintang, planet, dan manusia yang doyan bertanya tentang eksistensi... ya kita pelajari saja. Gak perlu bumbu mistis.”
Tapi Mbah Aquinas, seperti dosen yang tak puas dengan jawaban skripsimu, tetap ngeyel:
“Tapi kenapa ada sesuatu? Kenapa tidak tidak ada sama sekali?”
Sains pun angkat bahu.
“Maaf, kami sedang sibuk menghitung neutrino dan menghindari lubang hitam yang akan menelan galaksi empat miliar tahun lagi. Silakan tanya ke Departemen Metafisika.”
Aquinas lanjut:
“Kalau semua hal bergantung pada yang lain, pasti ada satu yang tidak bergantung—yang mandiri sepenuhnya. Itulah Tuhan.”
Tiba-tiba, Tuhan masuk. Bawa kopi dan kartu nama.
Masalahnya, logika tidak sesimpel itu, Mbah.
Siapa bilang rantai sebab-akibat harus punya ujung?
Bayangkan sebuah lingkaran sempurna. Sekarang, coba tunjuk satu titik dan bilang:
“Inilah titik awalnya!”
Anak-anak Gen Z langsung nyinyir:
“Yhaa mana bisa, Mbah! Lingkaran tuh gak punya awal. Semua titik nyambung, setara, tanpa yang lebih ‘awal’ dari yang lain.”
Artinya?
Tidak adanya awal bukan berarti sistem itu mustahil.
Dan kalau pun harus ada “sesuatu yang harus ada”, siapa bilang itu Tuhan berjanggut panjang, bersuara bariton, atau pakai celana cingkrang?
Kenapa gak konstanta Planck aja?
Atau energi vakum kuantum?
Atau alien pengangguran yang iseng menyalakan mesin pencipta semesta?
Mengklaim bahwa necessary being = Tuhan Abrahamik, itu kayak lihat kilat, langsung nyimpulin:
“Wah, Ki Ageng Selo lagi latihan nangkep petir nih!”
Necessary Itu Apa, Sih?
“Tuhan harus ada,” katanya. Tapi… apa maksudnya harus?
Mayoritas argumen cuma muter-muter kayak sinetron. Kamu berdiri di tengah benang kusut logika, pura-pura paham sambil mengangguk:
“Ya… Tuhan pasti ada…”
Argumen kontingensi ini memang menggoda, kayak audisi “Siapa Mau Jadi Ustadz?”
Semua semangat angkat tangan. Tapi pas ditanya arti ayat?
“Eh… itu... maksudnya... ya intinya kita bersyukur aja, Ustadz.”
Begitu disorot lampu logika dan mikroskop ilmiah, argumen ini seringnya panik, mulai marah-marah, dan menyebut pertanyaan sebagai “penghinaan terhadap iman.”
Jadi pertanyaannya:
Apakah Tuhan layak dijadikan alasan serius untuk menyembah makhluk tak terlihat—yang konon sensitif kalau kamu makan babi?Atau...
Apakah kita cuma penakut yang tak sanggup menghadapi kenyataan bahwa hidup ini mungkin gak punya sekuel setelah kematian?

Comments
Post a Comment