Skip to main content

Manusia Lebih Bermoral dari Sang Maha Bermoral

Murid yang Dilarang Memukul, Guru Membakar Atas Perintah Surga Bayangkan sebuah kelas kecil di sudut kampungmu. Seorang guru berdiri di depan kelas, mengangkat jarinya tinggi-tinggi, sambil berkata: “Jangan memukul temanmu. Itu jahat. Itu dosa!” Murid-murid mengangguk. Lalu, pada suatu kesempatan, guru yang sama membakar satu rumah di sebelah sekolah dan menyatakan bahwa perbuatannya adalah wahyu dari surga, yang datang lewat mimpinya. Aneh? Gak juga, sh. Seperti itulah kira-kira hubungan manusia dengan moralitas yang diklaim turun langsung dari tuhan dewa allah, melalui buku yang dianggap suci. Jujur, sebagian besar peradaban ini tumbuh dengan satu narasi besar: “Tanpa Tuhan, manusia akan menjadi liar, semaunya sendiri dan tentu saja tidak punya turan. Tanpa kitab suci, manusia akan saling memangsa & bengis tanpa konsekuensi (surga dan neraka).” Padahal realitas hari ini justru berkata sebaliknya. Manusia modern, menolak perbudakan. Manusia yang tahu kalau dirinya manusia pasti me...

TUHAN KEPALA SEKOLAH BENGIS!

Harus diakui dulu hal pahit ini: di Indonesia, tuhan tak lagi di surga, kini duduk di meja kepala sekolah. Dengan setelan safari, berjanggut, dahi hitam dan celana cingkrang, mengawasi proses belajar-mengajar sambil sesekali "memainkan cambuk api neraka"

Disekolah itu, kurikulumnya wahyu & firman.
Lalu, bagaimana dengan murid murid?
Jangan harap mereka bisa bertanya. Di dalam ruang kelas, pertanyaan adalah simtom lemah iman.

Bertanya soal “kenapa manusia harus disunat?” bisa membuatmu dicurigai sebagai calon murtadin atau antek liberal.
Bertanya soal “apakah ada kafir yang tidak masuk neraka?” bisa dapat nilai agama 40, sekalipun rajin sholat Dhuha. Proses belajar mengajar di sekolah yang dikepalai oleh tuhan, bukanlah pendidikan. Sistem ini disebut pemrograman rohani.
Alih-alih membentuk manusia berpikir, sekolah malah mencetak manusia hafalan.
Cita cita tertinggi anak anak itu apa? Ya, jadi hafidz-lah.
Emang sih sekarang jadi dokter ada jalur hafidz. Tapi yang lebih bermartabat tentu saja ustadz, lebih dari dokter dan ilmuwan, bahkan lebih dari menjadi manusia.
Menjadi lebih dari manusia itu penting, karena dengan hafalan saja bisa membuka pintu surga secara otomatis. Bagi manusia hafalan yang sekolah dengan kurikulum wahyu, surga lebih penting daripada dunia yang sesat, penuh logika dan sains.

Sekolah negeri di era digital justru makin religius, bukan makin rasional.
Di banyak tempat, sekolah negeri hampir tidak bisa dibedakan lagi dengan pesantren. Bedanya cuma seragam. Isi pikirannya? Sama.
Dari speaker masjid sekolah, doa doa mengalir setiap pagi seperti embun rohani yang membasuh nalar anak anak yang belum sempat tumbuh.
Singkatnya doa doa itu adalah, doktrin!

Beberapa sekolah bahkan punya aturan tidak tertulis:
Kalau tidak ikut sholat berjamaah, akan dihujad, dianggap "kurang akhlak".
Kalau tidak pakai penutup kepala dan bercelana cingkrang, dianggap “tidak islami” atau melawan perintah tuhan dewa allah.
Padahal sekolah negeri, lho! Bukan madrasah atau sekolah agama terpadu. Tapi siapa peduli?
Kalau mayoritas sudah bersepakat bahwa Islam adalah satu-satunya standar moral, maka pluralisme akan dianggap sebagai kesesatan!

Ki Hajar Dewantara, dulu punya mimpi taman belajar. Sebuah tempat seperti taman yg penuh bunga bunga pengetahuan. Sekarang? Boro boro!
Tamannya kini berubah jadi kebun. Kebun dakwah. Dulu Ia membayangkan pendidikan sebagai upaya memerdekakan manusia. Tapi sekarang? Manusia manusia kecil itu akan dianggap merdeka kalau sudah patuh pada kitab kuno.
Makin literal, makin soleh.
Makin absurd, makin berkah. Gilingan!
Moralitas pendidikan negeri ini tidak lahir dari empati, bukan dari refleksi, apalagi filsafat.
Moral pendidikan di negeri ini sumbernya kitab jadul. Titik.

Jadi jangan heran kalau anak anak lebih tahu hukuman bagi pezina daripada pentingnya kejujuran.
Mereka lebiih gapai menjelaskan hukum neraka, tapi tak tahu cara membedakan dongeng dan fakta.
Mereka lebih pandai bercerita tentang supranatural, dari pada mengenali dunianya yg natur.
Dan akibatnya?
Nilai nilai moral yang universal seperti HAM, kesetaraan gender, atau kebebasan beragama dituduh “westernisasi”. Mereka hanya mengimani moral berkoridor syariat.
Hukum HAM universal & hukum hukum moral moderen yang dibuat negara, tidak diakui karena bukan Made In tuhan dewa allah.
Faktanya, yang sedang terjadi di kebun dakwah itu, anak anak diseret masuk ke dalam pusaran ideologi yang dibungkus dalam kata “akhlak”.



Pendidikan Agama yang Menyesatkan
Coba lihat kurikulum agama: lebih banyak bicara tentang kewajiban menutup aurat daripada membuka pikiran, kan?
Lebih penting memikirkan dosa makan babi daripada memahami konsep.
Lebih sering membahas kafir timbang bagaimana berbagi kasih sayang.
Singkatnya: tuhan dewa allah lebih cepat menghukum daripada mengasihi. Gilanya, sistem ini terus dipertahankan dengan dalih “nilai luhur bangsa”.
Nilai luhur bangsa kini harus sesuai dengan nilai nila bangsa arab!

Apa betul bangsa ini luhur karena takut neraka, bukan karena gotong royong dan tepo slironya?
Atau jangan jangan negeri ini lebih nyaman memproduksi manusia takut allah, daripada manusia yang berani mengatakan kebaikan?
Kebaikan yang dikatakan haruslah kebaikan yang tulus, lho! Kebaikan yang tumbuh dari kemanusiaan, bukan kebaikan yang dipecundangi tuhan!

Ki Hajar Dewantara pernah berkata bahwa pendidikan harus memanusiakan manusia. Namun, pendidikan hari ini justru sebalinya, menghilangkan kemanusiaan.

Anak anak diajarkan untuk menjadi budak yg taat, bukan manusia yg berpikir.
Anak anak diajarkan untuk mengikuti perintah, bukan untuk memahami alasan di balik perintah itu.
Jika ini disebut pendidikan, maka sesungguhnya yang telah dilakukan adalah membunuh nalar demi menyelamatkan jiwa.

Jika ini yang disebut “pendidikan akhlak”, maka jangan salahkan generasi muda kalau mereka tumbuh dalam wajah religius tapi kering peduli, alias munafik.
Jangan heran jika kelak, mereka tidak mencari kebenaran, tapi hanya mencari pembenaran.
Jangan heran jika mereka membenarkan kejahatan, sebagai perintah dari tuhan.

Apakah negeri ini harus kembali pada semangat pendidikan yg memerdekakan?
Idealnya, sih iya. Pendidikan harus kembali memerdekakan anak.
Pendidikan harus mendorong anak anak untuk berpikir kritis, memahami perbedaan, dan menjadi manusia yang sesungguhnya.
Sebuah pendidikan yg tidak hanya mengajarkan apa yg harus dilakukan, tetapi juga mengajarkan untuk bertanya mengapa?
Intinya, pendidikan harus membebaskan, bukan membelenggu.

Jika terus menerus mengajarkan anak anak untuk takut, pendidikan akan menciptakan generasi yg patuh tanpa pemahaman. Generasi yang tidak mampu berpikir sendiri, dan hanya mengikuti perintah tanpa pertanyaan.
Generasi yang rapuh dan generasi yang patuh ini adalah generasi dambaan para politikus, penguasa dan penarik pajak tuhan dewa allah.
Kepatuhan untuk menjadi budak yang taat sudah seiring dengan perintah tuhan dewa allah dalam kitab suci dan sudah sesuai dengan cita cita politisi.

So, apakah negeri ini mau menciptakan manusia merdeka?
Apakah negeri ini ingin anak anaknya tumbuh menjadi individu yang berpikir kritis?
Sepertinya, mayoritas penduduk negeri ini masih setia untuk menjadi budak!
Maka, anak anak juga harus menjadi budak!

tak🍻

Comments

Popular posts from this blog

MENJELASKAN ATEISME PADA ANAK | MEMAHAMI BEDA ATEISME DAN KOMUNISME

MEMAHAMI BEDA ATEISME DAN KOMUNISME "Ayah, Ayah! Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Dani, anak laki-laki yg berusia 8 tahun, sambil menarik ujung baju ayahnya yang sedang mengetik. Ayahnya tersenyum. "Tentu saja, jagoan. Ada apa?" "Tadi di sekolah, teman-teman ngobrolin kata-kata aneh. Ada ateisme sama komunisme. Itu apa, Yah?" Ayah melipat laptopnya dan berpaling menghadap Dani, "Pertanyaan bagus. Ayah akan jelaskan pelan-pelan ya, biar dirimu mengerti." "Pertama, kita bahas ateisme dulu ya," kata Ayah. "Dani tahu kan, kalau banyak orang percaya sama tuhan? Mereka berdoa, ke gereja, ke masjid, Sinagog, Pura, Wihara, Klenteng, bahkan ada juga yang tidak punya tempat khusus untuk berdoa." Dani mengangguk. "Iya, Ayah. Aku tahu!" "Nah, ateisme itu artinya seseorang yg tidak percaya kalau tuhan itu ada. Bukan berarti seseorang itu jahat atau baik, Ia punya cara pandang sendiri tentang dunia. Menurutnya segala sesuatu y...

TUHAN LUPA MEMANUSIAKAN MANUSIA ATAU TUHAN MEMANG TIDAK BERMORAL

Coba bayangkan hidup di dunia tanpa RT/RW , tanpa KTP , SIM , paspor , atau akta kelahiran . Kedengarannya sepele, kan? Tapi tanpa dokumen dokumen itu, kita “hilang” dari sistem sosial. Anak lahir tanpa akta, bisa dianggap tidak ada; orang mati tanpa surat kematian, bisa dianggap masih hidup, minimal masih ada dalam daftar pemilih tetap. Di dunia modern, eksistensi kita bukan cuma soal bernapas, tapi soal apakah nama kita tercatat rapi dalam arsip negara. Identitas kita bukan sekadar wajah atau suara, tapi juga nomor seri resmi yang dicetak di selembar kertas bercap kota. Selain dokumen, ada yang menjaga kita dari kekacauan, yaitu hukum. Aturan lalu lintas misalnya, kalau semua orang nyupirnya kayak Fast & Furious, jalan raya jadi Hunger Games . Jika hukum gagal, masih ada polisi tak terlihat  yang bernama opini publik . Kita pakai baju aneh, orang menatap; kita buang sampah sembarangan, orang merekam. Malu bisa jadi hukuman lebih tajam daripada denda. Hidup modern pada dasarn...

DARI PREMAN MENJELMA TUHAN

Pasti kamu pernah dengar kisah, ada sebuah tindakan kejahatan yang kemudian dibenarkan dengan dalih “demi kebaikan yang lebih besar”! Contoh, Zeus dan Prometeus, Prometeus mencuri api keterampilan mekanik Hephaestus dan kebijaksanaan Athena dan memberikannya kepada manusia agar mereka bisa bertahan hidup dan makmur. Pencurian ini dianggap sebagai pelanggaran besar oleh Zeus. Zeus menghukum Prometeus dengan mengikatnya di gunung dan setiap hari seekor elang memakan hatinya. Namun, tindakan Prometeus ini dianggap sebagai "kebaikan yang lebih besar" karena memberikan manusia pengetahuan dan kemampuan untuk berkembang. Contoh lain, Musa. Tindakan Musa yang membunuh juga ‘dibenarkan’ atas nama ‘kebaikan’ dan tujuan kebenaran yang lebih besar. Dalam sejarah, dongeng keagamaan digunakan sebagai alat melegitimasi kekuasaan dan tindakan-tindakan yang sulit diterima. Dari pengorbanan manusia hingga sumpah perang suci, atau kepercayaan jika mati dalam perang adalah mati dalam keadaan su...