Skip to main content

Manusia Lebih Bermoral dari Sang Maha Bermoral

Murid yang Dilarang Memukul, Guru Membakar Atas Perintah Surga Bayangkan sebuah kelas kecil di sudut kampungmu. Seorang guru berdiri di depan kelas, mengangkat jarinya tinggi-tinggi, sambil berkata: “Jangan memukul temanmu. Itu jahat. Itu dosa!” Murid-murid mengangguk. Lalu, pada suatu kesempatan, guru yang sama membakar satu rumah di sebelah sekolah dan menyatakan bahwa perbuatannya adalah wahyu dari surga, yang datang lewat mimpinya. Aneh? Gak juga, sh. Seperti itulah kira-kira hubungan manusia dengan moralitas yang diklaim turun langsung dari tuhan dewa allah, melalui buku yang dianggap suci. Jujur, sebagian besar peradaban ini tumbuh dengan satu narasi besar: “Tanpa Tuhan, manusia akan menjadi liar, semaunya sendiri dan tentu saja tidak punya turan. Tanpa kitab suci, manusia akan saling memangsa & bengis tanpa konsekuensi (surga dan neraka).” Padahal realitas hari ini justru berkata sebaliknya. Manusia modern, menolak perbudakan. Manusia yang tahu kalau dirinya manusia pasti me...

TUHAN: SEBUAH KOMEDI KOSMIS

Konon kabarnya, tuhan ada. Jika benar, bakatnya dalam seni tentu sangat luar biasa . Miliaran curhat, jeritan hati emak2 yg ditinggal selingkuhannya (eh, anaknya maksudnya), sampai keluh kesah netizen soal sinyal

Wi-Fi yg lemot, semuanya di terima.

Tapi yg paling wow, sepanjang sejarah galaksi, dia adalah satu2nya sesuatu (bukan mahluk) yg "paling susah dihubungi". Kalah sama customer service provider kartu kredit atau app kredit.

Kalian terlalu sibuk merapal mantra memohon harapan. Air mata duka mengalir bagai air bah hanya untuk minta belas kasihannya. Sementara itu, pemungut cukainya (baca: alim ulama) mengobral tiket surga, bahkan discount sampai 70% .
Apa yg kamu mohon2 itu bereaksi?
Oh, tentu tidak. Yg disebut ‘beliau’ itu konsiten sekonsisten-konsistennya: silent mode!
Tanpa notifikasi, apalagi centang biru.
tuhan seperti seniman abstrak, yg menorehkan kuas2 penderitaan di atas kanvas luka.
tuhan itu pelukis agung yg menjadikan kematian sbg komposisi & membingkai keputusasaan dalam bingkai keabadian.
Semakin abstrak, semakin dipuja.
Semakin diam, semakin nyaring budaknya membela.
Semakin ...
Semakin tdk menghiraukan, makin heboh fans ultras membelanya:
"Ini cuma prank dari tuhan!",
"dia lagi meeting penting!",
atau "Otak kamu yg cetek, nggak bakal bisa ngeh sama plot twist-Nya!"
Taktik marketing yg brilian: hadir tanpa perlu mempertanggungjawabkan kehadirannya.

Doa: Curhat Colongan & Pantulan Diri Dari Kolam Kosmik

Menurut psikolog, doa bukan video call 2 arah sama ‘yang di atas sana’, tapi lebih ke story yg tidak ada view-nya. Doa itu cuma menenangkan diri, atau meninabobokkan kesedihan. Tepatnya masturbasi atau onani berjamaah.
Banyak penelitian membuktikan, efek relaksasi dari berdoa itu bukan karena pesannya sampai, tapi karena otak memproses self-deception berupa kontrol rasa & memalsukan harapan pas lagi low batt.

Mas Dab, Jesse Bering dalam bukunya, "The Belief Instinct"? mengatakan, Otak manusia memang punya default setting buat nyari "dalang" di balik setiap kejadian, apalagi pas lagi ngerasa futus-asa.

Jadi, doa itu bukan surat cinta buat tuhan, tapi mekanisme adaptasi biar kita nggak langsung uninstalldiri dari hidup (game over). Singkatnya, doa itu semacam candu yang bikin kita tetap memainkan game.

Sedikit beda dg kata sosiolog, justru karena tuhan nggak pernah nongol buat kasih testimoni, maka ketidakhadirannya malah jadi alat kekuasaan yg powerful.
Karena tuhan itu maha ghosting, jadilah manusia (terutama influencer rohani ) maju sebagai official spokesperson. Doa pun jadi ritual wajib, bukan buat solusi, tapi buat mind control & membuat kamu nurut bin manut.
kalau berdoa nggak sesuai template (nggak satu versi gurun), auto dicap kapir, imannya kurang.
Yang doanya gak pakai bahasa terkenthu, ostomastis doanya masuk recycle bin.
Lha kalau yg doanya sesuai tapi nggak dijawab,?
katanya sedang diuji, padahal di-ghosting... eh!
tuhan memang hening, tapi pendengung-nya paling berisik, apalagi toanya, sering bikin budeg telinga.

Atas namanya sering digunakan juga untuk membenarkan kejahatan kemanusiaan!
Dulu di Auschwitz, jutaan umat mention tuhan, sampai jadi trending bertahun tahun.
Pas bocah bocah di gaza mati, seluruh pendukung hamas DM langit minta tolong.
Tapi ya gitu deh, tuhan tetap no comment.
Nggak ada gempa yg auto-pause hanya karena kita meneriakkan namanya.

Zonk: tuhan yang maha menghilang, Mak Cling!

Sepanjang sejarah peradaban, bolos abadinya tuhan itu konsisten banget. Nggak pernah ada doa yg bisa cancel perang, nggak ada mukjizat yg bisa delete pandemi, nggak ada tangan gaib yg muncul pas lagi ada bencana alam.

Tapi justru karena ‘beliau’ hobi ngilang inilah, maka jadi mitos paling fleksibel:
bisa dipuji pas lagi happy, bisa dibela pas lagi sad boy. Soalnya, kalau nggak ada bukti intervensi, imajinasi manusia jadi liar bebas menambal semua kebisuan dg tafsir & keyakinan.

Mbah Voltaire, ngendiko: "tuhan menciptakan manusia menurut gambarnya sendiri & manusia membalasnya dg melakukan hal yang sama."
Jadi, tuhan itu ada sesuai versimu, tergantung mood dan kebutuhanmu saja.
Mungkin kalau seperti pepatah jawa: tuhan itu "alon-alon asal kelakon". Diam2 menghanyutkan...
atau jangan jangan malah nggak menghanyutkan 😂
Atau "nrimo ing pandum", menerima segala yg terjadi. Kalau nggak dikabulkan ya... mungkin memang bukan "pandum"-nya kita?
Nah, sampai di sini, menjadi ‘manungso’ itu adalah bagaimana bisa saling menjaga kerukunan, "guyub rukun"

Jangan berantem gara2 interpretasi "kode" yg katanya jatuh dari atas & yg nggak pernah jelas kebenarannya. Mari menikmati komedi kosmis ini sambil tak🍻& ngemil babih!
Tak🍻

Comments

Popular posts from this blog

MENJELASKAN ATEISME PADA ANAK | MEMAHAMI BEDA ATEISME DAN KOMUNISME

MEMAHAMI BEDA ATEISME DAN KOMUNISME "Ayah, Ayah! Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Dani, anak laki-laki yg berusia 8 tahun, sambil menarik ujung baju ayahnya yang sedang mengetik. Ayahnya tersenyum. "Tentu saja, jagoan. Ada apa?" "Tadi di sekolah, teman-teman ngobrolin kata-kata aneh. Ada ateisme sama komunisme. Itu apa, Yah?" Ayah melipat laptopnya dan berpaling menghadap Dani, "Pertanyaan bagus. Ayah akan jelaskan pelan-pelan ya, biar dirimu mengerti." "Pertama, kita bahas ateisme dulu ya," kata Ayah. "Dani tahu kan, kalau banyak orang percaya sama tuhan? Mereka berdoa, ke gereja, ke masjid, Sinagog, Pura, Wihara, Klenteng, bahkan ada juga yang tidak punya tempat khusus untuk berdoa." Dani mengangguk. "Iya, Ayah. Aku tahu!" "Nah, ateisme itu artinya seseorang yg tidak percaya kalau tuhan itu ada. Bukan berarti seseorang itu jahat atau baik, Ia punya cara pandang sendiri tentang dunia. Menurutnya segala sesuatu y...

TUHAN LUPA MEMANUSIAKAN MANUSIA ATAU TUHAN MEMANG TIDAK BERMORAL

Coba bayangkan hidup di dunia tanpa RT/RW , tanpa KTP , SIM , paspor , atau akta kelahiran . Kedengarannya sepele, kan? Tapi tanpa dokumen dokumen itu, kita “hilang” dari sistem sosial. Anak lahir tanpa akta, bisa dianggap tidak ada; orang mati tanpa surat kematian, bisa dianggap masih hidup, minimal masih ada dalam daftar pemilih tetap. Di dunia modern, eksistensi kita bukan cuma soal bernapas, tapi soal apakah nama kita tercatat rapi dalam arsip negara. Identitas kita bukan sekadar wajah atau suara, tapi juga nomor seri resmi yang dicetak di selembar kertas bercap kota. Selain dokumen, ada yang menjaga kita dari kekacauan, yaitu hukum. Aturan lalu lintas misalnya, kalau semua orang nyupirnya kayak Fast & Furious, jalan raya jadi Hunger Games . Jika hukum gagal, masih ada polisi tak terlihat  yang bernama opini publik . Kita pakai baju aneh, orang menatap; kita buang sampah sembarangan, orang merekam. Malu bisa jadi hukuman lebih tajam daripada denda. Hidup modern pada dasarn...

DARI PREMAN MENJELMA TUHAN

Pasti kamu pernah dengar kisah, ada sebuah tindakan kejahatan yang kemudian dibenarkan dengan dalih “demi kebaikan yang lebih besar”! Contoh, Zeus dan Prometeus, Prometeus mencuri api keterampilan mekanik Hephaestus dan kebijaksanaan Athena dan memberikannya kepada manusia agar mereka bisa bertahan hidup dan makmur. Pencurian ini dianggap sebagai pelanggaran besar oleh Zeus. Zeus menghukum Prometeus dengan mengikatnya di gunung dan setiap hari seekor elang memakan hatinya. Namun, tindakan Prometeus ini dianggap sebagai "kebaikan yang lebih besar" karena memberikan manusia pengetahuan dan kemampuan untuk berkembang. Contoh lain, Musa. Tindakan Musa yang membunuh juga ‘dibenarkan’ atas nama ‘kebaikan’ dan tujuan kebenaran yang lebih besar. Dalam sejarah, dongeng keagamaan digunakan sebagai alat melegitimasi kekuasaan dan tindakan-tindakan yang sulit diterima. Dari pengorbanan manusia hingga sumpah perang suci, atau kepercayaan jika mati dalam perang adalah mati dalam keadaan su...