Halo, sesama primata tak berbulu yang kebetulan masih diberi kesempatan menghirup oksigen. Ada satu kesalahpahaman kosmis yang entah kenapa masih terus bereinkarnasi di kolom-kolom komentar internet. "Kalau kamu bisa percaya Big Bang, artinya kamu juga punya agama." Jawabnya: TIDAK! Kalau ada yang berkata, "Saya percaya bumi mengelilingi Matahari," bukan berarti Matahari resmi menjadi tuhan, karena terselip kata “percaya”. So, yang membedakan antara model ilmiah dengan kepercayaan itu bukan “ada atau tidak adanya keyakinan”, tapi cara keyakinan itu diperoleh, kemudian diteliti, diuji, dan kalau tidak terbukti buang ke tempat sampah. Big Bang Tidak Punya Kitab Suci Banyak orang mengira kosmologi adalah agama dengan seragam laboratorium, agama dengan tuhan ilmiah atau menyembah ilmu pengetahuan. Pertanyaan berikutnya: "Jadi kalian mengimani bahwa alam semesta berasal dari ledakan?" Jawabnya: TIDAK! Saya “menerima” bukan “mengimani” model ...
Konon kabarnya, tuhan ada. Jika benar, bakatnya dalam seni tentu sangat luar biasa . Miliaran curhat, jeritan hati emak2 yg ditinggal selingkuhannya (eh, anaknya maksudnya), sampai keluh kesah netizen soal sinyal
Wi-Fi yg lemot, semuanya di terima.
Tapi yg paling wow, sepanjang sejarah galaksi, dia adalah satu2nya sesuatu (bukan mahluk) yg "paling susah dihubungi". Kalah sama customer service provider kartu kredit atau app kredit.
Apa yg kamu mohon2 itu bereaksi?
Oh, tentu tidak. Yg disebut ‘beliau’ itu konsiten sekonsisten-konsistennya: silent mode!
Tanpa notifikasi, apalagi centang biru.
tuhan seperti seniman abstrak, yg menorehkan kuas2 penderitaan di atas kanvas luka.
tuhan itu pelukis agung yg menjadikan kematian sbg komposisi & membingkai keputusasaan dalam bingkai keabadian.
Semakin abstrak, semakin dipuja.
Semakin diam, semakin nyaring budaknya membela.
Semakin ...
Semakin tdk menghiraukan, makin heboh fans ultras membelanya:
"Ini cuma prank dari tuhan!",
"dia lagi meeting penting!",
atau "Otak kamu yg cetek, nggak bakal bisa ngeh sama plot twist-Nya!"
Taktik marketing yg brilian: hadir tanpa perlu mempertanggungjawabkan kehadirannya.
Doa: Curhat Colongan & Pantulan Diri Dari Kolam Kosmik
Menurut psikolog, doa bukan video call 2 arah sama ‘yang di atas sana’, tapi lebih ke story yg tidak ada view-nya. Doa itu cuma menenangkan diri, atau meninabobokkan kesedihan. Tepatnya masturbasi atau onani berjamaah.Banyak penelitian membuktikan, efek relaksasi dari berdoa itu bukan karena pesannya sampai, tapi karena otak memproses self-deception berupa kontrol rasa & memalsukan harapan pas lagi low batt.
Mas Dab, Jesse Bering dalam bukunya, "The Belief Instinct"? mengatakan, Otak manusia memang punya default setting buat nyari "dalang" di balik setiap kejadian, apalagi pas lagi ngerasa futus-asa.
Jadi, doa itu bukan surat cinta buat tuhan, tapi mekanisme adaptasi biar kita nggak langsung uninstalldiri dari hidup (game over). Singkatnya, doa itu semacam candu yang bikin kita tetap memainkan game.
Sedikit beda dg kata sosiolog, justru karena tuhan nggak pernah nongol buat kasih testimoni, maka ketidakhadirannya malah jadi alat kekuasaan yg powerful.
Karena tuhan itu maha ghosting, jadilah manusia (terutama influencer rohani ) maju sebagai official spokesperson. Doa pun jadi ritual wajib, bukan buat solusi, tapi buat mind control & membuat kamu nurut bin manut.
kalau berdoa nggak sesuai template (nggak satu versi gurun), auto dicap kapir, imannya kurang.
Yang doanya gak pakai bahasa terkenthu, ostomastis doanya masuk recycle bin.
Lha kalau yg doanya sesuai tapi nggak dijawab,?
katanya sedang diuji, padahal di-ghosting... eh!
tuhan memang hening, tapi pendengung-nya paling berisik, apalagi toanya, sering bikin budeg telinga.
Atas namanya sering digunakan juga untuk membenarkan kejahatan kemanusiaan!
Dulu di Auschwitz, jutaan umat mention tuhan, sampai jadi trending bertahun tahun.
Pas bocah bocah di gaza mati, seluruh pendukung hamas DM langit minta tolong.
Tapi ya gitu deh, tuhan tetap no comment.
Nggak ada gempa yg auto-pause hanya karena kita meneriakkan namanya.
Zonk: tuhan yang maha menghilang, Mak Cling!
Sepanjang sejarah peradaban, bolos abadinya tuhan itu konsisten banget. Nggak pernah ada doa yg bisa cancel perang, nggak ada mukjizat yg bisa delete pandemi, nggak ada tangan gaib yg muncul pas lagi ada bencana alam.Tapi justru karena ‘beliau’ hobi ngilang inilah, maka jadi mitos paling fleksibel:
bisa dipuji pas lagi happy, bisa dibela pas lagi sad boy. Soalnya, kalau nggak ada bukti intervensi, imajinasi manusia jadi liar bebas menambal semua kebisuan dg tafsir & keyakinan.
Mbah Voltaire, ngendiko: "tuhan menciptakan manusia menurut gambarnya sendiri & manusia membalasnya dg melakukan hal yang sama."
Jadi, tuhan itu ada sesuai versimu, tergantung mood dan kebutuhanmu saja.
Mungkin kalau seperti pepatah jawa: tuhan itu "alon-alon asal kelakon". Diam2 menghanyutkan...
atau jangan jangan malah nggak menghanyutkan 😂
Atau "nrimo ing pandum", menerima segala yg terjadi. Kalau nggak dikabulkan ya... mungkin memang bukan "pandum"-nya kita?
Nah, sampai di sini, menjadi ‘manungso’ itu adalah bagaimana bisa saling menjaga kerukunan, "guyub rukun"
Jangan berantem gara2 interpretasi "kode" yg katanya jatuh dari atas & yg nggak pernah jelas kebenarannya. Mari menikmati komedi kosmis ini sambil tak🍻& ngemil babih!
Tak🍻

Comments
Post a Comment