Skip to main content

Manusia Lebih Bermoral dari Sang Maha Bermoral

Murid yang Dilarang Memukul, Guru Membakar Atas Perintah Surga Bayangkan sebuah kelas kecil di sudut kampungmu. Seorang guru berdiri di depan kelas, mengangkat jarinya tinggi-tinggi, sambil berkata: “Jangan memukul temanmu. Itu jahat. Itu dosa!” Murid-murid mengangguk. Lalu, pada suatu kesempatan, guru yang sama membakar satu rumah di sebelah sekolah dan menyatakan bahwa perbuatannya adalah wahyu dari surga, yang datang lewat mimpinya. Aneh? Gak juga, sh. Seperti itulah kira-kira hubungan manusia dengan moralitas yang diklaim turun langsung dari tuhan dewa allah, melalui buku yang dianggap suci. Jujur, sebagian besar peradaban ini tumbuh dengan satu narasi besar: “Tanpa Tuhan, manusia akan menjadi liar, semaunya sendiri dan tentu saja tidak punya turan. Tanpa kitab suci, manusia akan saling memangsa & bengis tanpa konsekuensi (surga dan neraka).” Padahal realitas hari ini justru berkata sebaliknya. Manusia modern, menolak perbudakan. Manusia yang tahu kalau dirinya manusia pasti me...

JIKA SEMUA BUTUH PENYEBAB, TUHAN DISEBABKAN OLEH APA?

Kalau Semua Butuh Penyebab, Tuhan Disebabkan Oleh Apa?

Salah satu jurus andalan teis saat diajak berdialog soal keberadaan tuhan adalah Argumen Kosmologis. Kalau dalam versi yang lebih catchy, Argumen Penyebab Pertama. 

Pada awalnya, idenya terdengar masuk akal, (bagi orang-orang males berpikir) tapi makin dikunyah, rasanya seperti permen karet yang kehilangan gulanya: makin lama makin hambar.
Semua Ada Penyebabnya... Kecuali Tuhan?

Logikanya begini: segala sesuatu pasti ada penyebabnya. Meja ada karena dibuat tukang kayu, kayu ada karena tumbuh di alam, dan tidak mungkin kayu ada begitu saja, harus ada penciptanya? Rantai sebab-akibat ini tidak mungkin terus berlanjut sampai ujung? karena... 

Ya, karena nggak enak saja kalau ada ujungnya tapi nggak ada awalnya. Jadi harus ada satu titik mula. SatU penyebab. Satu entitas yang memulai semuanya tanpa dirinya sendiri yang tanpa mula.
Dan entitas tanpa mula ini, kini populer disebut tuhan.

Tuhan: Entitas yang Kebal Aturan

Tapi wait, kalau semua butuh penyebab, kenapa tuhan nggak?

Nah, di sinilah theis main jurus khusus: Tuhan itu pengecualian. Katanya, tuhan punya fitur premium yang tidak dimiliki benda-benda biasa di semesta ini. Dia tak tercipta, tak tergantung, tak terikat waktu, alfa omega, dan (yang paling penting) tak perlu lagi dipertanyakan asal-usulnya. 
Semacam “cheat code” dalam permainan logika.

Apa alasan tuhan adalah pengecualian?

Supaya rantai sebab-akibat nggak infinite. Kalau tuhan ada penyebabnya, maka kita balik lagi ke masalah awal: siapa penyebab dari penyebab dan yang menjadi penyebab… dan seterusnya. Jadi harus ada kode untuk “stop”.

Tuhan itu 'necessary being',. Artinya, eksistensinya mutlak. 
Harus ada sebuah eks eksistensi mutlak untuk menghentikan awal dari penyebab. Padahal, alam semesta cuma 'contingent'—bisa ada, bisa nggak.

Akal manusia terbatas! Kalau nggak bisa paham konsep “yang tidak diciptakan”, ya bukan salah argumennya tapi salah otaknya yang kebanyakan nonton sinetron. 
Dengan kata lain: aturan “segala sesuatu ada penyebab” berlaku untuk semua, kecuali tokoh utama dalam cerita ini. Sederhana, kan?

Kata Atheis?

Ateis tidak semudah itu percaya  dan dibujuk dengan logika loncat-loncat. Atheis punya beberapa pertanyaan menyebalkan yang sering bikin argumen kosmologis panas dingin:

Kenapa Tuhan boleh jadi pengecualian, tapi alam semesta enggak? Kalau satu entitas boleh “ada begitu saja”, kenapa bukan semesta sekalian aja?

Siapa bilang regresi tak terbatas mustahil? Mungkin saja realitas memang absurd, tapi bukan berarti harus diisi tuhan demi kenyamanan, demi politik kekeuasaan, atau demi perut perut para sales agama!

Big Bang siapa penyebabnya? Belum tentu tuhan. Bisa jadi proses kuantum, bisa jadi siklus abadi semesta. tuhan bukan satu-satunya opsi. Lalu apa? Kalau kamu menyerah dan tidak sabar menunngu jawaban masa depan, jawab saja dengan tuhan.

Tuhan versi siapa? Bahkan kalau pun kita terima tuhan sebagai “penyebab pertama”, tidak otomatis itu adalah tuhan yang rajin disembah, disambati umat manusia, apalagi tuhannya Ibrahim dan suku suku keturunannya. Mungkin saja sebuah entitas tanpa kepribadian atau malah hukum alam itu sendiri.

Argumen Yang Punya Gigi, Tapi Gak Bisa Menggigit

Argumen kosmologis memang tampak setrong di permukaan. Tapi seperti lem super yang sudah terlalu lama terbuka, ia kehilangan daya rekatnya saat diuji. Kering. Ia mencoba menyelesaikan masalah dengan menambahkan karakter kebal logika. Bagi orang orang masa lalu yang belum secerdas hari ini, masih mungkin. 

Akan tetapi bagi sebagian orang zaman ini, argument tersebut justru mengaburkan masalah utama, bukan menjelaskan, apalagi menjawab.

Pada akhirnya, sebagai manusia masa kini, kita harus tetap bertanya: Jika semua hal butuh penyebab, mengapa tuhan (terutama tuhannya Ibrahim) dapat dispensasi khusus?

jangan-jangan...
kamu cuma terlalu malas mencari jawaban yang lebih masuk akal. Karena mengangkat, menganugerahi tuhan sebagai jawaban atas segala pertanyaan yang pamungkas, jauh lebih praktis daripada berpikir! Tak🍻 

Comments

Popular posts from this blog

MENJELASKAN ATEISME PADA ANAK | MEMAHAMI BEDA ATEISME DAN KOMUNISME

MEMAHAMI BEDA ATEISME DAN KOMUNISME "Ayah, Ayah! Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Dani, anak laki-laki yg berusia 8 tahun, sambil menarik ujung baju ayahnya yang sedang mengetik. Ayahnya tersenyum. "Tentu saja, jagoan. Ada apa?" "Tadi di sekolah, teman-teman ngobrolin kata-kata aneh. Ada ateisme sama komunisme. Itu apa, Yah?" Ayah melipat laptopnya dan berpaling menghadap Dani, "Pertanyaan bagus. Ayah akan jelaskan pelan-pelan ya, biar dirimu mengerti." "Pertama, kita bahas ateisme dulu ya," kata Ayah. "Dani tahu kan, kalau banyak orang percaya sama tuhan? Mereka berdoa, ke gereja, ke masjid, Sinagog, Pura, Wihara, Klenteng, bahkan ada juga yang tidak punya tempat khusus untuk berdoa." Dani mengangguk. "Iya, Ayah. Aku tahu!" "Nah, ateisme itu artinya seseorang yg tidak percaya kalau tuhan itu ada. Bukan berarti seseorang itu jahat atau baik, Ia punya cara pandang sendiri tentang dunia. Menurutnya segala sesuatu y...

TUHAN LUPA MEMANUSIAKAN MANUSIA ATAU TUHAN MEMANG TIDAK BERMORAL

Coba bayangkan hidup di dunia tanpa RT/RW , tanpa KTP , SIM , paspor , atau akta kelahiran . Kedengarannya sepele, kan? Tapi tanpa dokumen dokumen itu, kita “hilang” dari sistem sosial. Anak lahir tanpa akta, bisa dianggap tidak ada; orang mati tanpa surat kematian, bisa dianggap masih hidup, minimal masih ada dalam daftar pemilih tetap. Di dunia modern, eksistensi kita bukan cuma soal bernapas, tapi soal apakah nama kita tercatat rapi dalam arsip negara. Identitas kita bukan sekadar wajah atau suara, tapi juga nomor seri resmi yang dicetak di selembar kertas bercap kota. Selain dokumen, ada yang menjaga kita dari kekacauan, yaitu hukum. Aturan lalu lintas misalnya, kalau semua orang nyupirnya kayak Fast & Furious, jalan raya jadi Hunger Games . Jika hukum gagal, masih ada polisi tak terlihat  yang bernama opini publik . Kita pakai baju aneh, orang menatap; kita buang sampah sembarangan, orang merekam. Malu bisa jadi hukuman lebih tajam daripada denda. Hidup modern pada dasarn...

DARI PREMAN MENJELMA TUHAN

Pasti kamu pernah dengar kisah, ada sebuah tindakan kejahatan yang kemudian dibenarkan dengan dalih “demi kebaikan yang lebih besar”! Contoh, Zeus dan Prometeus, Prometeus mencuri api keterampilan mekanik Hephaestus dan kebijaksanaan Athena dan memberikannya kepada manusia agar mereka bisa bertahan hidup dan makmur. Pencurian ini dianggap sebagai pelanggaran besar oleh Zeus. Zeus menghukum Prometeus dengan mengikatnya di gunung dan setiap hari seekor elang memakan hatinya. Namun, tindakan Prometeus ini dianggap sebagai "kebaikan yang lebih besar" karena memberikan manusia pengetahuan dan kemampuan untuk berkembang. Contoh lain, Musa. Tindakan Musa yang membunuh juga ‘dibenarkan’ atas nama ‘kebaikan’ dan tujuan kebenaran yang lebih besar. Dalam sejarah, dongeng keagamaan digunakan sebagai alat melegitimasi kekuasaan dan tindakan-tindakan yang sulit diterima. Dari pengorbanan manusia hingga sumpah perang suci, atau kepercayaan jika mati dalam perang adalah mati dalam keadaan su...