Dulu, ketika malam hanya diterangi nyala api yg malu2 sedangkan siang penuh dengan ancaman alam liar, manusia hidup dalam ketidakpastian & ketakutan yg mengintai setiap nafasnya.
Bayangkan..
bayangkan jika setiap suara di malam hari adalah pertanda bahwa beberapa tubuh akan direngut & dilenyapkan hewan liar.
Bayangkan kilat yg menyambar dari langit bisa menjadi pertanda amarah dewa yg butuh anger management.
Bertanyalah manusia... apa penjelasannya?
Api, teman sekaligus musuh, menjadi simbol paling top pada masa itu. Di satu sisi, api menjaga mereka tetap hangat dan memberikan penerangan. Di sisi lain, api bisa mengamuk kapan saja, seperti tuan rumah yg murka karena kedatangan tamu yg tak diundang.
Manusia zaman itu pun mulai mengembangkan pemikiran awal tentang penguasa alam sekitar mereka.
"Di mulai dari obrolan api unggun, dan sebuah pertanyaan, mungkinkah ada kekuatan yang lebih besar dari api ini," dan...
Jrenggg —lahirlah kepercayaan pada penguasa yg lebih besar dari api. Penguasa pengendali api. Api yg sangat dibutuhkan, namun juga sering marah, sering bikin bencana ketimbang menolong.
Menurut Lévi-Strauss, mitos adalah cara manusia primitif agar tidak merasa bodoh. Ketika gempa mengguncang atau gunung meletus, mereka tak berpikir soal pergerakan lempeng bumi, tapi tentang dewa yg mungkin bosan dan memutuskan untuk bermain-main dengan nasib manusia.
Dalam kepercayaan ini, manusia merasa punya sedikit kendali, walau kenyataannya peluang kendali mereka sebesar peluang ayam mengalahkan elang.
Dewa2, tentu saja, bukan sosok penyayang. Kalau mereka menonton pertandingan, mungkin mereka lebih suka pertandingan yg berakhir rusuh.
Dewa hujan, dewa petir, dewa badai, semuanya lebih sering merusak daripada menolong. Jadi jangan bayangkan dewa2 purba memberikan khotbah penuh kasih. Mereka lebih suka ‘berkelahi’ & menunjukkan kekuatannya.
Dari kacamata sosiologi, moralitas zaman api memang jauh dari konsep mulia seperti kasih sayang.
Moralitas saat itu sederhana: apa yg membuatmu tetap hidup, itu yg benar!
Jangan buat pemimpin marah & pastikan ritual untuk dewa2 dilakukan dg benar, kalau tidak, desamu musnah.
Talcott Parsons, menuliskan bahwa aturan ritual zaman itu adalah cara agar manusia tidak terlalu kacau. Tidak perlu filosofis, yg penting jangan mati konyol.
Moralitas masa itu tidak menyangkut bagaimana menjadi manusia yg baik, tetapi soal bagaimana bertahan hidup.
Kamu baik jika kamu tidak membunuh tetanggamu (paling tidak, bukan di depan umum), & kamu salah kalau kamu melanggar aturan yg memancing amarah dewa.
Sederhana saja, dunia masa itu kejam, dan mereka butuh aturan agar tidak hancur. Kalau ada yang tidak patuh?
Ya, persenjatai dirimu unt berhadapan dg dewa yg siap menghukummu, tanpa pengadilan, tanpa ampun!
So, ketika dewa2 suka “berkelahi” daripada “berkhotbah,” itu bukan karena tidak punya hati, tetapi mencerminkan dunia purba, dunia di mana kekuatan & dominasi adalah segalanya.
tak🍻

Comments
Post a Comment