Skip to main content

Manusia Lebih Bermoral dari Sang Maha Bermoral

Murid yang Dilarang Memukul, Guru Membakar Atas Perintah Surga Bayangkan sebuah kelas kecil di sudut kampungmu. Seorang guru berdiri di depan kelas, mengangkat jarinya tinggi-tinggi, sambil berkata: “Jangan memukul temanmu. Itu jahat. Itu dosa!” Murid-murid mengangguk. Lalu, pada suatu kesempatan, guru yang sama membakar satu rumah di sebelah sekolah dan menyatakan bahwa perbuatannya adalah wahyu dari surga, yang datang lewat mimpinya. Aneh? Gak juga, sh. Seperti itulah kira-kira hubungan manusia dengan moralitas yang diklaim turun langsung dari tuhan dewa allah, melalui buku yang dianggap suci. Jujur, sebagian besar peradaban ini tumbuh dengan satu narasi besar: “Tanpa Tuhan, manusia akan menjadi liar, semaunya sendiri dan tentu saja tidak punya turan. Tanpa kitab suci, manusia akan saling memangsa & bengis tanpa konsekuensi (surga dan neraka).” Padahal realitas hari ini justru berkata sebaliknya. Manusia modern, menolak perbudakan. Manusia yang tahu kalau dirinya manusia pasti me...

TUHAN DI ZAMAN API




Dulu, ketika malam hanya diterangi nyala api yg malu2 sedangkan siang penuh dengan ancaman alam liar, manusia hidup dalam ketidakpastian & ketakutan yg mengintai setiap nafasnya.
Bayangkan..

bayangkan jika setiap suara di malam hari adalah pertanda bahwa beberapa tubuh akan direngut & dilenyapkan hewan liar.
Bayangkan kilat yg menyambar dari langit bisa menjadi pertanda amarah dewa yg butuh anger management.
Bertanyalah manusia... apa penjelasannya? 

Api, teman sekaligus musuh, menjadi simbol paling top pada masa itu. Di satu sisi, api menjaga mereka tetap hangat dan memberikan penerangan. Di sisi lain, api bisa mengamuk kapan saja, seperti tuan rumah yg murka karena kedatangan tamu yg tak diundang. 

Manusia zaman itu pun mulai mengembangkan pemikiran awal tentang penguasa alam sekitar mereka.
"Di mulai dari obrolan api unggun, dan sebuah pertanyaan, mungkinkah ada kekuatan yang lebih besar dari api ini," dan... 

Jrenggg —lahirlah kepercayaan pada penguasa yg lebih besar dari api. Penguasa pengendali api. Api yg sangat dibutuhkan, namun juga sering marah, sering bikin bencana ketimbang menolong. 

Menurut Lévi-Strauss, mitos adalah cara manusia primitif agar tidak merasa bodoh. Ketika gempa mengguncang atau gunung meletus, mereka tak berpikir soal pergerakan lempeng bumi, tapi tentang dewa yg mungkin bosan dan memutuskan untuk bermain-main dengan nasib manusia. 

Dalam kepercayaan ini, manusia merasa punya sedikit kendali, walau kenyataannya peluang kendali mereka sebesar peluang ayam mengalahkan elang.
Dewa2, tentu saja, bukan sosok penyayang. Kalau mereka menonton pertandingan, mungkin mereka lebih suka pertandingan yg berakhir rusuh. 

Dewa hujan, dewa petir, dewa badai, semuanya lebih sering merusak daripada menolong. Jadi jangan bayangkan dewa2 purba memberikan khotbah penuh kasih. Mereka lebih suka ‘berkelahi’ & menunjukkan kekuatannya. 

Dari kacamata sosiologi, moralitas zaman api memang jauh dari konsep mulia seperti kasih sayang.
Moralitas saat itu sederhana: apa yg membuatmu tetap hidup, itu yg benar!
Jangan buat pemimpin marah & pastikan ritual untuk dewa2 dilakukan dg benar, kalau tidak, desamu musnah. 

Talcott Parsons, menuliskan bahwa aturan ritual zaman itu adalah cara agar manusia tidak terlalu kacau. Tidak perlu filosofis, yg penting jangan mati konyol.
Moralitas masa itu tidak menyangkut bagaimana menjadi manusia yg baik, tetapi soal bagaimana bertahan hidup. 

Kamu baik jika kamu tidak membunuh tetanggamu (paling tidak, bukan di depan umum), & kamu salah kalau kamu melanggar aturan yg memancing amarah dewa.
Sederhana saja, dunia masa itu kejam, dan mereka butuh aturan agar tidak hancur. Kalau ada yang tidak patuh? 

Ya, persenjatai dirimu unt berhadapan dg dewa yg siap menghukummu, tanpa pengadilan, tanpa ampun!
So, ketika dewa2 suka “berkelahi” daripada “berkhotbah,” itu bukan karena tidak punya hati, tetapi mencerminkan dunia purba, dunia di mana kekuatan & dominasi adalah segalanya.
tak🍻 

Comments

Popular posts from this blog

MENJELASKAN ATEISME PADA ANAK | MEMAHAMI BEDA ATEISME DAN KOMUNISME

MEMAHAMI BEDA ATEISME DAN KOMUNISME "Ayah, Ayah! Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Dani, anak laki-laki yg berusia 8 tahun, sambil menarik ujung baju ayahnya yang sedang mengetik. Ayahnya tersenyum. "Tentu saja, jagoan. Ada apa?" "Tadi di sekolah, teman-teman ngobrolin kata-kata aneh. Ada ateisme sama komunisme. Itu apa, Yah?" Ayah melipat laptopnya dan berpaling menghadap Dani, "Pertanyaan bagus. Ayah akan jelaskan pelan-pelan ya, biar dirimu mengerti." "Pertama, kita bahas ateisme dulu ya," kata Ayah. "Dani tahu kan, kalau banyak orang percaya sama tuhan? Mereka berdoa, ke gereja, ke masjid, Sinagog, Pura, Wihara, Klenteng, bahkan ada juga yang tidak punya tempat khusus untuk berdoa." Dani mengangguk. "Iya, Ayah. Aku tahu!" "Nah, ateisme itu artinya seseorang yg tidak percaya kalau tuhan itu ada. Bukan berarti seseorang itu jahat atau baik, Ia punya cara pandang sendiri tentang dunia. Menurutnya segala sesuatu y...

TUHAN LUPA MEMANUSIAKAN MANUSIA ATAU TUHAN MEMANG TIDAK BERMORAL

Coba bayangkan hidup di dunia tanpa RT/RW , tanpa KTP , SIM , paspor , atau akta kelahiran . Kedengarannya sepele, kan? Tapi tanpa dokumen dokumen itu, kita “hilang” dari sistem sosial. Anak lahir tanpa akta, bisa dianggap tidak ada; orang mati tanpa surat kematian, bisa dianggap masih hidup, minimal masih ada dalam daftar pemilih tetap. Di dunia modern, eksistensi kita bukan cuma soal bernapas, tapi soal apakah nama kita tercatat rapi dalam arsip negara. Identitas kita bukan sekadar wajah atau suara, tapi juga nomor seri resmi yang dicetak di selembar kertas bercap kota. Selain dokumen, ada yang menjaga kita dari kekacauan, yaitu hukum. Aturan lalu lintas misalnya, kalau semua orang nyupirnya kayak Fast & Furious, jalan raya jadi Hunger Games . Jika hukum gagal, masih ada polisi tak terlihat  yang bernama opini publik . Kita pakai baju aneh, orang menatap; kita buang sampah sembarangan, orang merekam. Malu bisa jadi hukuman lebih tajam daripada denda. Hidup modern pada dasarn...

DARI PREMAN MENJELMA TUHAN

Pasti kamu pernah dengar kisah, ada sebuah tindakan kejahatan yang kemudian dibenarkan dengan dalih “demi kebaikan yang lebih besar”! Contoh, Zeus dan Prometeus, Prometeus mencuri api keterampilan mekanik Hephaestus dan kebijaksanaan Athena dan memberikannya kepada manusia agar mereka bisa bertahan hidup dan makmur. Pencurian ini dianggap sebagai pelanggaran besar oleh Zeus. Zeus menghukum Prometeus dengan mengikatnya di gunung dan setiap hari seekor elang memakan hatinya. Namun, tindakan Prometeus ini dianggap sebagai "kebaikan yang lebih besar" karena memberikan manusia pengetahuan dan kemampuan untuk berkembang. Contoh lain, Musa. Tindakan Musa yang membunuh juga ‘dibenarkan’ atas nama ‘kebaikan’ dan tujuan kebenaran yang lebih besar. Dalam sejarah, dongeng keagamaan digunakan sebagai alat melegitimasi kekuasaan dan tindakan-tindakan yang sulit diterima. Dari pengorbanan manusia hingga sumpah perang suci, atau kepercayaan jika mati dalam perang adalah mati dalam keadaan su...