Skip to main content

MANUSIA LEBIH BERMORAL DARI SANG MAHA BERMORAL

Murid yang Dilarang Memukul, Guru Membakar Atas Perintah Surga Bayangkan sebuah kelas kecil di sudut kampungmu. Seorang guru berdiri di depan kelas, mengangkat jarinya tinggi-tinggi, sambil berkata: “Jangan memukul temanmu. Itu jahat. Itu dosa!” Murid-murid mengangguk. Lalu, pada suatu kesempatan, guru yang sama membakar satu rumah di sebelah sekolah dan menyatakan bahwa perbuatannya adalah wahyu dari surga, yang datang lewat mimpinya. Aneh? Gak juga, sh. Seperti itulah kira-kira hubungan manusia dengan moralitas yang diklaim turun langsung dari tuhan dewa allah, melalui buku yang dianggap suci. Jujur, sebagian besar peradaban ini tumbuh dengan satu narasi besar: “Tanpa Tuhan, manusia akan menjadi liar, semaunya sendiri dan tentu saja tidak punya turan. Tanpa kitab suci, manusia akan saling memangsa & bengis tanpa konsekuensi (surga dan neraka).” Padahal realitas hari ini justru berkata sebaliknya. Manusia modern, menolak perbudakan. Manusia yang tahu kalau dirinya manusia pasti me...

PRAKATA

Bayangkan sejenak: saat asik-asiknya membaca kitab suci, tiba-tiba berhenti. Sesuatu mengganjal mata dan bayanganmu. Cerita yang belum selesai dibaca itu, tiba-tiba terasa tidak pas dengan nilai-nilai kemanusiaan yang ada sekarang.
Entah itu cerita tentang banjir besar yang menenggelamkan hampir seluruh umat manusia, tentang exsodus masal suatu suku bangsa, atau perintah tuhan dewa allah untuk melenyapkan suku tertentu hingga ke akar-akarnya.

Mungkin saja akan dicari cara memaklumi dan menghibur diri: "Ah, itu kan konteksnya zaman dulu." Tapi tunggu dulu. Bukankah sejak dini kita selalu diajarkan bahwa tuhan itu abadi, tidak terbatas waktu, dan merupakan sumber moralitas tertinggi? Lantas mengapa standar moralnya terasa begitu... kuno?

Buku ini lahir dari kegelisahan yang mungkin kamu rasakan, atau jangan jangan oleh banyak orang? Sebuah pertanyaan sederhana namun mengguncang: Apakah benar Tuhan itu bermoral?
Jangan-jangan, konsep moralitas tuhan hanyalah cerminan dari pemahaman moral manusia di masa lampau?

Sedangkan di era hak asasi manusia menjadi standar universal, di zaman kesetaraan gender bukan lagi sekadar wacana, dan ketika kebebasan beragama (atau tidak beragama) dianggap fundamental - kita masih membaca buku yang diyakini jatuh dari langit. Buku yang mengandung narasi-narasi yang, jika diterapkan hari ini, bisa membuat pelakunya dijebloskan ke penjara atas tuduhan kejahatan kemanusiaan.

Ironis memang. Standar moral masyarakat modern telah berkembang jauh melampaui apa yang tertulis dalam kitab-kitab kuno. Perbudakan tidak dianggap lagi sebagai hal yang wajar. Perempuan tidak lagi dipandang sebagai 'hanya' properti. Menghukum mati orang yang berbeda keyakinan atau yang logout tidak ada dalam kitab hukum pidana. Namun ironisnya, kita masih menganggap bahwa moralitas tertinggi bersumber dari teks-teks yang justru memakai praktik-praktik yang tidak manusiawi zaman dulu.

Buku ini bukan sekadar kritik atau sindiran. Ini adalah sebuah undangan untuk melakukan refleksi: Sudah waktunya kita mempertanyakan kembali hubungan antara konsep ketuhanan dan moralitas. Mungkin sudah saatnya kita mengakui bahwa moralitas bukanlah sesuatu yang turun dari langit, melainkan hasil dari evolusi pemikiran manusia yang terus berkembang.

Jika Anda merasa tersinggung membaca buku ini, ingatlah: tuhan - jika memang ada - pastilah cukup dewasa untuk menerima kritik. Dan jika tidak, well, mungkin itu justru membuktikan poin utama buku ini.

Selamat membaca, dan mari berpikir kritis tentang hal-hal yang selama ini kita anggap sakral.

Jakarta, Februari 2025

Comments

Popular posts from this blog

MENJELASKAN ATEISME PADA ANAK | MEMAHAMI BEDA ATEISME DAN KOMUNISME

MEMAHAMI BEDA ATEISME DAN KOMUNISME "Ayah, Ayah! Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Dani, anak laki-laki yg berusia 8 tahun, sambil menarik ujung baju ayahnya yang sedang mengetik. Ayahnya tersenyum. "Tentu saja, jagoan. Ada apa?" "Tadi di sekolah, teman-teman ngobrolin kata-kata aneh. Ada ateisme sama komunisme. Itu apa, Yah?" Ayah melipat laptopnya dan berpaling menghadap Dani, "Pertanyaan bagus. Ayah akan jelaskan pelan-pelan ya, biar dirimu mengerti." "Pertama, kita bahas ateisme dulu ya," kata Ayah. "Dani tahu kan, kalau banyak orang percaya sama tuhan? Mereka berdoa, ke gereja, ke masjid, Sinagog, Pura, Wihara, Klenteng, bahkan ada juga yang tidak punya tempat khusus untuk berdoa." Dani mengangguk. "Iya, Ayah. Aku tahu!" "Nah, ateisme itu artinya seseorang yg tidak percaya kalau tuhan itu ada. Bukan berarti seseorang itu jahat atau baik, Ia punya cara pandang sendiri tentang dunia. Menurutnya segala sesuatu y...

TUHAN LUPA MEMANUSIAKAN MANUSIA ATAU TUHAN MEMANG TIDAK BERMORAL

Coba bayangkan hidup di dunia tanpa RT/RW , tanpa KTP , SIM , paspor , atau akta kelahiran . Kedengarannya sepele, kan? Tapi tanpa dokumen dokumen itu, kita “hilang” dari sistem sosial. Anak lahir tanpa akta, bisa dianggap tidak ada; orang mati tanpa surat kematian, bisa dianggap masih hidup, minimal masih ada dalam daftar pemilih tetap. Di dunia modern, eksistensi kita bukan cuma soal bernapas, tapi soal apakah nama kita tercatat rapi dalam arsip negara. Identitas kita bukan sekadar wajah atau suara, tapi juga nomor seri resmi yang dicetak di selembar kertas bercap kota. Selain dokumen, ada yang menjaga kita dari kekacauan, yaitu hukum. Aturan lalu lintas misalnya, kalau semua orang nyupirnya kayak Fast & Furious, jalan raya jadi Hunger Games . Jika hukum gagal, masih ada polisi tak terlihat  yang bernama opini publik . Kita pakai baju aneh, orang menatap; kita buang sampah sembarangan, orang merekam. Malu bisa jadi hukuman lebih tajam daripada denda. Hidup modern pada dasarn...

GENOSIDA BERSAMA TUHAN: DARI AMALEK SAMPAI AT-TAUBAH, KEKERASAN JADI TIKET SURGA

  Kekerasan adalah bagian dari sejarah manusia. Bahkan bisa disebut sebagai “bahasa universal” yang dipahami semua kelompok, jauh sebelum ada alfabet, kitab suci Abrahamik, bahkan ketika emoji sudah dibikin filmnya. Dalam antropologi, kekerasan selalu muncul sebagai mekanisme bertahan hidup sekaligus cara menyelesaikan konflik; dari perebutan wilayah berburu, ritual pengorbanan, sampai penaklukan peradaban. Sosiolog klasik seperti Émile Durkheim melihatnya sebagai bagian dari proses menjaga kohesi kelompok: musuh di luar dipukul dulu, baru kita bisa duduk di dalam rumah dengan tenang. Singkatnya, sejak awal peradaban, manusia lebih percaya pada batu dan tombak daripada meja bundar atau “dialog kebangsaan.” Tapi ada satu “inovasi kekerasan” yang cukup unik: ketika kekerasan dilabeli nama ‘tuhan dewa allah.’ Begitu naik level jadi “perintah dari langit,” kekerasan berubah dari sekadar pembantaian menjadi ritual suci. Kalau ada warga kampung merampok lalu membantai tetangga yang meng...