PRAKATA
Bayangkan sejenak: saat asik-asiknya membaca kitab suci, tiba-tiba berhenti. Sesuatu mengganjal mata dan bayanganmu. Cerita yang belum selesai dibaca itu, tiba-tiba terasa tidak pas dengan nilai-nilai kemanusiaan yang ada sekarang.
Entah itu cerita tentang banjir besar yang menenggelamkan hampir seluruh umat manusia, tentang exsodus masal suatu suku bangsa, atau perintah tuhan dewa allah untuk melenyapkan suku tertentu hingga ke akar-akarnya.
Mungkin saja akan dicari cara memaklumi dan menghibur diri: "Ah, itu kan konteksnya zaman dulu." Tapi tunggu dulu. Bukankah sejak dini kita selalu diajarkan bahwa tuhan itu abadi, tidak terbatas waktu, dan merupakan sumber moralitas tertinggi? Lantas mengapa standar moralnya terasa begitu... kuno?
Buku ini lahir dari kegelisahan yang mungkin kamu rasakan, atau jangan jangan oleh banyak orang? Sebuah pertanyaan sederhana namun mengguncang: Apakah benar Tuhan itu bermoral?Jangan-jangan, konsep moralitas tuhan hanyalah cerminan dari pemahaman moral manusia di masa lampau?
Sedangkan di era hak asasi manusia menjadi standar universal, di zaman kesetaraan gender bukan lagi sekadar wacana, dan ketika kebebasan beragama (atau tidak beragama) dianggap fundamental - kita masih membaca buku yang diyakini jatuh dari langit. Buku yang mengandung narasi-narasi yang, jika diterapkan hari ini, bisa membuat pelakunya dijebloskan ke penjara atas tuduhan kejahatan kemanusiaan.
Ironis memang. Standar moral masyarakat modern telah berkembang jauh melampaui apa yang tertulis dalam kitab-kitab kuno. Perbudakan tidak dianggap lagi sebagai hal yang wajar. Perempuan tidak lagi dipandang sebagai 'hanya' properti. Menghukum mati orang yang berbeda keyakinan atau yang logout tidak ada dalam kitab hukum pidana. Namun ironisnya, kita masih menganggap bahwa moralitas tertinggi bersumber dari teks-teks yang justru memakai praktik-praktik yang tidak manusiawi zaman dulu.
Buku ini bukan sekadar kritik atau sindiran. Ini adalah sebuah undangan untuk melakukan refleksi: Sudah waktunya kita mempertanyakan kembali hubungan antara konsep ketuhanan dan moralitas. Mungkin sudah saatnya kita mengakui bahwa moralitas bukanlah sesuatu yang turun dari langit, melainkan hasil dari evolusi pemikiran manusia yang terus berkembang.
Jika Anda merasa tersinggung membaca buku ini, ingatlah: tuhan - jika memang ada - pastilah cukup dewasa untuk menerima kritik. Dan jika tidak, well, mungkin itu justru membuktikan poin utama buku ini.
Selamat membaca, dan mari berpikir kritis tentang hal-hal yang selama ini kita anggap sakral.
Jakarta, Februari 2025
.png)
Comments
Post a Comment