Skip to main content

WAHYU DARI SUDUT PANDANG TELESKOP: MENGAPA BIG BANG DAN SAINS BUKAN KEYAKINAN

Halo, sesama primata tak berbulu yang kebetulan masih diberi kesempatan menghirup oksigen. Ada satu kesalahpahaman kosmis yang entah kenapa masih terus bereinkarnasi di kolom-kolom komentar internet.  "Kalau kamu bisa percaya Big Bang, artinya kamu juga punya agama."  Jawabnya: TIDAK!  Kalau ada yang berkata, "Saya percaya bumi mengelilingi Matahari," bukan berarti Matahari resmi menjadi tuhan, karena terselip kata “percaya”. So, yang membedakan antara model ilmiah dengan kepercayaan itu bukan “ada atau tidak adanya keyakinan”, tapi cara keyakinan itu diperoleh, kemudian diteliti, diuji, dan kalau tidak terbukti buang ke tempat sampah.  Big Bang Tidak Punya Kitab Suci  Banyak orang mengira kosmologi adalah agama dengan seragam laboratorium, agama dengan tuhan ilmiah atau menyembah ilmu pengetahuan.  Pertanyaan berikutnya: "Jadi kalian mengimani bahwa alam semesta berasal dari ledakan?"  Jawabnya: TIDAK!  Saya “menerima” bukan “mengimani” model ...

KETIKA TUHAN KURANG SUBSIDI

 #tuhantidakbermoral

Bayangkan jika kamu pegang remote control. Jika tidak suka dg satu chanel pasti pindah chanel lain, jika merasa tidak ada lagi chanel yang menarik, kamu tinggal menggantiny ke mode film berlangganan atau karaoke-an di youtube.

Nah, sekarang, bayangkan jika kamu memegang remote control alam semesta. Bisa bikin angin puting beliung buat memporak porandakan jemuran tetangga yg menurutmu cerewat & ngeselin. Atau...

Atau, kamu bikin gunung meletus, dg daya rusak lokal, di tempat tentanggaamu yg lagi bikin pesta. Sekarang, tantangannya adalah: bayangkan jika remote control itu cuma punya dua tombol: "marah" dan "marah parah." Yup, Apa yg kau bayangkan itulah kira2 deskripsi tuhan zaman dulu 

Dewa2 & tuhan zaman dulu, punya kekuatan kosmis, tapi emosi mereka meledak2. Emosinya seperti orang yg patah hati, kayak roller coaster, seperti valas atau kripto yg gampang naik turun. 

Dewa tuhan zaman zadul itu mirip bocah yg dikasih mainan rudal. Bisa meledakkan apa saja semaunya, kapan saja. Kekuatan marahnya nggak bisa ditebak, dari hujan tiba2 badai, dari gempa bumi tiba2 tsunami, seperti perempuan yg PMS, lah. 

Bagi orang zaman dulu, peristiwa alam itu bukan fenomena alam, tapi ulah tuhan dewa allah yg lagi ngambek karena kurang subsidi, atau gak pernah dapat setoran pajak dari pemungut cukainya.

Comments

Popular posts from this blog

MENJELASKAN ATEISME PADA ANAK | MEMAHAMI BEDA ATEISME DAN KOMUNISME

MEMAHAMI BEDA ATEISME DAN KOMUNISME "Ayah, Ayah! Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Dani, anak laki-laki yg berusia 8 tahun, sambil menarik ujung baju ayahnya yang sedang mengetik. Ayahnya tersenyum. "Tentu saja, jagoan. Ada apa?" "Tadi di sekolah, teman-teman ngobrolin kata-kata aneh. Ada ateisme sama komunisme. Itu apa, Yah?" Ayah melipat laptopnya dan berpaling menghadap Dani, "Pertanyaan bagus. Ayah akan jelaskan pelan-pelan ya, biar dirimu mengerti." "Pertama, kita bahas ateisme dulu ya," kata Ayah. "Dani tahu kan, kalau banyak orang percaya sama tuhan? Mereka berdoa, ke gereja, ke masjid, Sinagog, Pura, Wihara, Klenteng, bahkan ada juga yang tidak punya tempat khusus untuk berdoa." Dani mengangguk. "Iya, Ayah. Aku tahu!" "Nah, ateisme itu artinya seseorang yg tidak percaya kalau tuhan itu ada. Bukan berarti seseorang itu jahat atau baik, Ia punya cara pandang sendiri tentang dunia. Menurutnya segala sesuatu y...

TUHAN LUPA MEMANUSIAKAN MANUSIA ATAU TUHAN MEMANG TIDAK BERMORAL

Coba bayangkan hidup di dunia tanpa RT/RW , tanpa KTP , SIM , paspor , atau akta kelahiran . Kedengarannya sepele, kan? Tapi tanpa dokumen dokumen itu, kita “hilang” dari sistem sosial. Anak lahir tanpa akta, bisa dianggap tidak ada; orang mati tanpa surat kematian, bisa dianggap masih hidup, minimal masih ada dalam daftar pemilih tetap. Di dunia modern, eksistensi kita bukan cuma soal bernapas, tapi soal apakah nama kita tercatat rapi dalam arsip negara. Identitas kita bukan sekadar wajah atau suara, tapi juga nomor seri resmi yang dicetak di selembar kertas bercap kota. Selain dokumen, ada yang menjaga kita dari kekacauan, yaitu hukum. Aturan lalu lintas misalnya, kalau semua orang nyupirnya kayak Fast & Furious, jalan raya jadi Hunger Games . Jika hukum gagal, masih ada polisi tak terlihat  yang bernama opini publik . Kita pakai baju aneh, orang menatap; kita buang sampah sembarangan, orang merekam. Malu bisa jadi hukuman lebih tajam daripada denda. Hidup modern pada dasarn...

GENOSIDA BERSAMA TUHAN: DARI AMALEK SAMPAI AT-TAUBAH, KEKERASAN JADI TIKET SURGA

  Kekerasan adalah bagian dari sejarah manusia. Bahkan bisa disebut sebagai “bahasa universal” yang dipahami semua kelompok, jauh sebelum ada alfabet, kitab suci Abrahamik, bahkan ketika emoji sudah dibikin filmnya. Dalam antropologi, kekerasan selalu muncul sebagai mekanisme bertahan hidup sekaligus cara menyelesaikan konflik; dari perebutan wilayah berburu, ritual pengorbanan, sampai penaklukan peradaban. Sosiolog klasik seperti Émile Durkheim melihatnya sebagai bagian dari proses menjaga kohesi kelompok: musuh di luar dipukul dulu, baru kita bisa duduk di dalam rumah dengan tenang. Singkatnya, sejak awal peradaban, manusia lebih percaya pada batu dan tombak daripada meja bundar atau “dialog kebangsaan.” Tapi ada satu “inovasi kekerasan” yang cukup unik: ketika kekerasan dilabeli nama ‘tuhan dewa allah.’ Begitu naik level jadi “perintah dari langit,” kekerasan berubah dari sekadar pembantaian menjadi ritual suci. Kalau ada warga kampung merampok lalu membantai tetangga yang meng...