Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2025

Manusia Lebih Bermoral dari Sang Maha Bermoral

Murid yang Dilarang Memukul, Guru Membakar Atas Perintah Surga Bayangkan sebuah kelas kecil di sudut kampungmu. Seorang guru berdiri di depan kelas, mengangkat jarinya tinggi-tinggi, sambil berkata: “Jangan memukul temanmu. Itu jahat. Itu dosa!” Murid-murid mengangguk. Lalu, pada suatu kesempatan, guru yang sama membakar satu rumah di sebelah sekolah dan menyatakan bahwa perbuatannya adalah wahyu dari surga, yang datang lewat mimpinya. Aneh? Gak juga, sh. Seperti itulah kira-kira hubungan manusia dengan moralitas yang diklaim turun langsung dari tuhan dewa allah, melalui buku yang dianggap suci. Jujur, sebagian besar peradaban ini tumbuh dengan satu narasi besar: “Tanpa Tuhan, manusia akan menjadi liar, semaunya sendiri dan tentu saja tidak punya turan. Tanpa kitab suci, manusia akan saling memangsa & bengis tanpa konsekuensi (surga dan neraka).” Padahal realitas hari ini justru berkata sebaliknya. Manusia modern, menolak perbudakan. Manusia yang tahu kalau dirinya manusia pasti me...

DARI PREMAN MENJELMA TUHAN

Pasti kamu pernah dengar kisah, ada sebuah tindakan kejahatan yang kemudian dibenarkan dengan dalih “demi kebaikan yang lebih besar”! Contoh, Zeus dan Prometeus, Prometeus mencuri api keterampilan mekanik Hephaestus dan kebijaksanaan Athena dan memberikannya kepada manusia agar mereka bisa bertahan hidup dan makmur. Pencurian ini dianggap sebagai pelanggaran besar oleh Zeus. Zeus menghukum Prometeus dengan mengikatnya di gunung dan setiap hari seekor elang memakan hatinya. Namun, tindakan Prometeus ini dianggap sebagai "kebaikan yang lebih besar" karena memberikan manusia pengetahuan dan kemampuan untuk berkembang. Contoh lain, Musa. Tindakan Musa yang membunuh juga ‘dibenarkan’ atas nama ‘kebaikan’ dan tujuan kebenaran yang lebih besar. Dalam sejarah, dongeng keagamaan digunakan sebagai alat melegitimasi kekuasaan dan tindakan-tindakan yang sulit diterima. Dari pengorbanan manusia hingga sumpah perang suci, atau kepercayaan jika mati dalam perang adalah mati dalam keadaan su...

KETIKA TUHAN KURANG SUBSIDI

  #tuhantidakbermoral Bayangkan jika kamu pegang remote control. Jika tidak suka dg satu chanel pasti pindah chanel lain, jika merasa tidak ada lagi chanel yang menarik, kamu tinggal menggantiny ke mode film berlangganan atau karaoke-an di youtube. Nah, sekarang, bayangkan jika kamu memegang remote control alam semesta. Bisa bikin angin puting beliung buat memporak porandakan jemuran tetangga yg menurutmu cerewat & ngeselin. Atau... Atau, kamu bikin gunung meletus, dg daya rusak lokal, di tempat tentanggaamu yg lagi bikin pesta. Sekarang, tantangannya adalah: bayangkan jika remote control itu cuma punya dua tombol: "marah" dan "marah parah." Yup, Apa yg kau bayangkan itulah kira2 deskripsi tuhan zaman dulu  Dewa2 & tuhan zaman dulu, punya kekuatan kosmis, tapi emosi mereka meledak2. Emosinya seperti orang yg patah hati, kayak roller coaster, seperti valas atau kripto yg gampang naik turun.  Dewa tuhan zaman zadul itu mirip bocah yg dikasih mainan rudal. Bisa...

TUHAN HOBI TAWURAN

  Tuhan yang Hobi Tawuran: Dari Dewa-Dewi sampai Allah Dulu, waktu zaman purba, Tuhan dan para dewa itu kayaknya hobi banget bikin drama di panggung kosmis. Zeus, Odin, Horus - mereka itu kayak seleb Hollywood zaman baheula, kerjaannya berantem mulu. Boro-boro mikirin cinta kasih, yang ada malah adegan baku hantam yang bikin kita mikir, "Ini Tuhan apa tukang pukul?" Terus, kalau kita intip agama-agama Abrahamik, Allah juga nggak kalah sangar. Di kitab suci, Tuhan digambarin kayak penguasa negeri antah-berantah yang demen banget bikin onar. Hobi banget ngirim bencana, perang, sama ngehukum manusia. Tuhan kok malah kayak preman pasar yang sukanya bikin rusuh? Kenapa Tuhan Suka Berantem? Kalau kita telaah dari sudut pandang sejarah dan psikologi, Tuhan yang suka tawuran mungkin hanyalah produk dari otak manusia purba yang ketakutan melihat dunia yang keras dan penuh ancaman. Bayangkan, dulu manusia hidup dalam kondisi yang jauh lebih mengerikan daripada yang bisa kita bayangkan ...

TUHAN DI ZAMAN API

Dulu, ketika malam hanya diterangi nyala api yg malu2 sedangkan siang penuh dengan ancaman alam liar, manusia hidup dalam ketidakpastian & ketakutan yg mengintai setiap nafasnya. Bayangkan.. bayangkan jika setiap suara di malam hari adalah pertanda bahwa beberapa tubuh akan direngut & dilenyapkan hewan liar. Bayangkan kilat yg menyambar dari langit bisa menjadi pertanda amarah dewa yg butuh anger management. Bertanyalah manusia... apa penjelasannya?  Api, teman sekaligus musuh, menjadi simbol paling top pada masa itu. Di satu sisi, api menjaga mereka tetap hangat dan memberikan penerangan. Di sisi lain, api bisa mengamuk kapan saja, seperti tuan rumah yg murka karena kedatangan tamu yg tak diundang.  Manusia zaman itu pun mulai mengembangkan pemikiran awal tentang penguasa alam sekitar mereka. "Di mulai dari obrolan api unggun, dan sebuah pertanyaan, mungkinkah ada kekuatan yang lebih besar dari api ini," dan...  Jrenggg —lahirlah kepercayaan pada ...
PRAKATA Bayangkan sejenak: saat asik-asiknya membaca kitab suci, tiba-tiba berhenti. Sesuatu mengganjal mata dan bayanganmu. Cerita yang belum selesai dibaca itu, tiba-tiba terasa tidak pas dengan nilai-nilai kemanusiaan yang ada sekarang. Entah itu cerita tentang banjir besar yang menenggelamkan hampir seluruh umat manusia, tentang exsodus masal suatu suku bangsa, atau perintah tuhan dewa allah untuk melenyapkan suku tertentu hingga ke akar-akarnya. Mungkin saja akan dicari cara memaklumi dan menghibur diri: "Ah, itu kan konteksnya zaman dulu." Tapi tunggu dulu. Bukankah sejak dini kita selalu diajarkan bahwa tuhan itu abadi, tidak terbatas waktu, dan merupakan sumber moralitas tertinggi? Lantas mengapa standar moralnya terasa begitu... kuno? Buku ini lahir dari kegelisahan yang mungkin kamu rasakan, atau jangan jangan oleh banyak orang? Sebuah pertanyaan sederhana namun mengguncang: Apakah benar Tuhan itu bermoral? Jangan-jangan, konsep moralitas tuhan hanyalah cerminan dar...