Murid yang Dilarang Memukul, Guru Membakar Atas Perintah Surga Bayangkan sebuah kelas kecil di sudut kampungmu. Seorang guru berdiri di depan kelas, mengangkat jarinya tinggi-tinggi, sambil berkata: “Jangan memukul temanmu. Itu jahat. Itu dosa!” Murid-murid mengangguk. Lalu, pada suatu kesempatan, guru yang sama membakar satu rumah di sebelah sekolah dan menyatakan bahwa perbuatannya adalah wahyu dari surga, yang datang lewat mimpinya. Aneh? Gak juga, sh. Seperti itulah kira-kira hubungan manusia dengan moralitas yang diklaim turun langsung dari tuhan dewa allah, melalui buku yang dianggap suci. Jujur, sebagian besar peradaban ini tumbuh dengan satu narasi besar: “Tanpa Tuhan, manusia akan menjadi liar, semaunya sendiri dan tentu saja tidak punya turan. Tanpa kitab suci, manusia akan saling memangsa & bengis tanpa konsekuensi (surga dan neraka).” Padahal realitas hari ini justru berkata sebaliknya. Manusia modern, menolak perbudakan. Manusia yang tahu kalau dirinya manusia pasti me...
Pasti kamu pernah dengar kisah, ada sebuah tindakan kejahatan yang kemudian dibenarkan dengan dalih “demi kebaikan yang lebih besar”!
Contoh, Zeus dan Prometeus, Prometeus mencuri api keterampilan mekanik Hephaestus dan kebijaksanaan Athena dan memberikannya kepada manusia agar mereka bisa bertahan hidup dan makmur. Pencurian ini dianggap sebagai pelanggaran besar oleh Zeus. Zeus menghukum Prometeus dengan mengikatnya di gunung dan setiap hari seekor elang memakan hatinya. Namun, tindakan Prometeus ini dianggap sebagai "kebaikan yang lebih besar" karena memberikan manusia pengetahuan dan kemampuan untuk berkembang.
Contoh lain, Musa. Tindakan Musa yang membunuh juga ‘dibenarkan’ atas nama ‘kebaikan’ dan tujuan kebenaran yang lebih besar.
Dalam sejarah, dongeng keagamaan digunakan sebagai alat melegitimasi kekuasaan dan tindakan-tindakan yang sulit diterima. Dari pengorbanan manusia hingga sumpah perang suci, atau kepercayaan jika mati dalam perang adalah mati dalam keadaan suci (Viking, Seppuku, Perang Salip, Jihad, dll) semuanya kerap dibungkus dalam narasi ilahi dan hadiah surga. Kok, bisa sih konsep dewa dan ritual digunakan sebagai alat politik dan sosial dari masa lalu hingga sekarang?
Awal Mula: Kepercayaan dan Kekuasaan dalam Peradaban Kuno
Dahulu kala, ketika manusia masih sulit membedakan mana batu dan telur, saat itu mereka juga berpikir keras tentang fenomena alam. Setiap hujan badai yang diiringi Guntur dan halilintar datang, mereka lari tunggang langgang sambil berteriak, "Awas, Dewa langit marah!"
Alam yang super tidak terprediksi ini, seperti banjir bandang membuat mereka berpikir bahwa pasti ada yang membuka bendungan, atau menyiram mereka dengan seember air raksasa, padahal tidak ada. Jika terjadi bencana mereka berpikir bahwa ada kekuatan maha besar di balik semua ini. Maka, lahirlah ide tentang dewa-dewa yang punya hobi lempar lemparan petir atau sedang mengayak bumi sehingga terjadi gempa bumi.
Kepercayaan ini awalnya sederhana, seperti anak kecil yang takut pada gelap atau percaya ada Monster Inc, monster yang mengumpulkan energi ketakutan. Akan tetapi, lama-kelamaan, kepercayaan kok malah berkembang menjadi alat yang sangat ampuh untuk mengontrol manusia. Persisi seperti monster dan tempat gelap sangat ampuh untuk mengontrol anak-anak supaya tidak nakal. Para penguasa kuno, yang mungkin dulunya hanya jagoan kampung, mulai berpikir, "Hmm, kalau aku bilang aku ini titisan dewa, pasti semua orang akan nurut!". Itu sebab, tak sedikit cerita seorang preman jadi raja. Seorang pemberontak dan perampok menjadi utusan dewa (termasuk dewa allah).
Maka, dimulailah era raja-raja narsis yang mengaku sebagai wakil para dewa di bumi. Mereka membangun kuil-kuil super mewah, yang mungkin sebenarnya hanya ingin pamer kekayaan, dan mengadakan ritual-ritual aneh yang mungkin sebenarnya hanya ajang joget-joget tidak jelas.
Contoh, Firaun Mesir. Bayangkan saja, setiap pagi dia bangun dan berkata kepada dirinya sendiri, "Aku ini dewa Horus! Semua orang harus menyembahku!" Lalu, dia keluar istana dengan gaya sok keren, padahal mungkin semalam begadang main game atau mabuk.
Rakyat yang polos pun percaya. Mereka juga berpikir, "Wah, Firaun ini pasti sakti banget! Dia bisa ngobrol sama dewa-dewa di langit!” Mereka juga berfikir, tidak mungkin bisa punya kekuasaan yang begitu hebat kalau bukan karena tuhan dewa. Padahal, mungkin saja para pendahulu Firaun cuma punya imajinasi yang liar.
Dengan mengaku sebagai dewa atau wakil dewa, para penguasa ini bisa melakukan apa saja tanpa takut ditentang. Mereka bisa seenaknya dan semau gue, seperti bayi yang mainan lilin kemudian membakar kasur, tapi gak ada yang bisa memarahi. Tak ada yang berani protes, sebab kalau protes, sama saja dengan menantang dewa. Bisa-bisa, mereka dikutuk jadi patung atau malah jadi miskin abadi!
So, begitulah awal mula kepercayaan dan kekuasaan di peradaban kuno. Sebuah kisah tentang bagaimana manusia yang bingung mencari jawaban atas misteri alam, dan para penguasa yang memanfaatkan kebingungan itu untuk berkuasa. Sungguh, dunia ini memang penuh dengan kejutan!

Comments
Post a Comment