Skip to main content

WAHYU DARI SUDUT PANDANG TELESKOP: MENGAPA BIG BANG DAN SAINS BUKAN KEYAKINAN

Halo, sesama primata tak berbulu yang kebetulan masih diberi kesempatan menghirup oksigen. Ada satu kesalahpahaman kosmis yang entah kenapa masih terus bereinkarnasi di kolom-kolom komentar internet.  "Kalau kamu bisa percaya Big Bang, artinya kamu juga punya agama."  Jawabnya: TIDAK!  Kalau ada yang berkata, "Saya percaya bumi mengelilingi Matahari," bukan berarti Matahari resmi menjadi tuhan, karena terselip kata “percaya”. So, yang membedakan antara model ilmiah dengan kepercayaan itu bukan “ada atau tidak adanya keyakinan”, tapi cara keyakinan itu diperoleh, kemudian diteliti, diuji, dan kalau tidak terbukti buang ke tempat sampah.  Big Bang Tidak Punya Kitab Suci  Banyak orang mengira kosmologi adalah agama dengan seragam laboratorium, agama dengan tuhan ilmiah atau menyembah ilmu pengetahuan.  Pertanyaan berikutnya: "Jadi kalian mengimani bahwa alam semesta berasal dari ledakan?"  Jawabnya: TIDAK!  Saya “menerima” bukan “mengimani” model ...

WAHYU DARI SUDUT PANDANG TELESKOP: MENGAPA BIG BANG DAN SAINS BUKAN KEYAKINAN


Halo, sesama primata tak berbulu yang kebetulan masih diberi kesempatan menghirup oksigen. Ada satu kesalahpahaman kosmis yang entah kenapa masih terus bereinkarnasi di kolom-kolom komentar internet. 
"Kalau kamu bisa percaya Big Bang, artinya kamu juga punya agama." 
Jawabnya: TIDAK! 

Kalau ada yang berkata, "Saya percaya bumi mengelilingi Matahari," bukan berarti Matahari resmi menjadi tuhan, karena terselip kata “percaya”. So, yang membedakan antara model ilmiah dengan kepercayaan itu bukan “ada atau tidak adanya keyakinan”, tapi cara keyakinan itu diperoleh, kemudian diteliti, diuji, dan kalau tidak terbukti buang ke tempat sampah. 

Big Bang Tidak Punya Kitab Suci 

Banyak orang mengira kosmologi adalah agama dengan seragam laboratorium, agama dengan tuhan ilmiah atau menyembah ilmu pengetahuan. 

Pertanyaan berikutnya: "Jadi kalian mengimani bahwa alam semesta berasal dari ledakan?" 
Jawabnya: TIDAK! 

Saya “menerima” bukan “mengimani” model Big Bang, sebab sampai hari ini hanya model Big Bang-lah yang punya penjelasan paling sesuai dengan data. Singkatnya logis dan punya bukti ilmiah, sudah diteliti oleh ribuan orang selama berpuluh bahkan hampir seratus tahunan. 

Jika besok, di masa depan, ada teori baru tentang penciptaan yang lebih baik dan lebih mampu menjelaskan seluruh bukti, para astronom tidak akan marah. Tidak tersinggung, malah bahagia ada penemuan baru yang lebih baik. Ada kebenaran baru yang lebih benar dan logis. Bahkan mereka akan menerbitkan jurnal-jurnal pendukung atau malah penyangga. 

Coba bandingkan dengan sistem kepercayaan dan sistem keimanan yang menganggap pertanyaan sebagai dosa. Dalam sains, teori berubah karena bukti. Dalam dogma, bukti sering kali dipaksa berubah agar sesuai dengan kitab suci. Alih-alih ahli kitab itu meneliti. Mereka cuma otak athik gathuk, mencocok-cocokkan kerja keras ilmuwan puluhan tahun dengan sebaris kalimat dalam kitab suci. 
Itulah perbedaannya. Jauh, kan? 

Tidak Ada Ibadah Wajib Hari Jumat untuk Sang Singularitas 

Sekali lagi mari kita bayangkan jika Big Bang benar-benar sebuah agama baru, kehidupan para astronom itu pasti sangat melelahkan. Setiap Jumat atau Minggu mereka berkumpul di observatorium. Menghadap teleskop. Lalu bersama-sama mendaraskan doa:

"Wahai Singularitas Yang Maha Padat, muliakanlah ekspansi-Mu." 

Setelah itu ada kotak amal. "Donasi untuk pembangunan teleskop baru agar dosa gravitasi diampuni atau amal ibadah kita di terima oleh Sang Maha Singularitas." 

Untungnya kenyataan tidak seaneh itu. Alam semesta memiliki sifat yang sangat tidak religius. Ia sama sekali tidak peduli dengan pendapat kita. Kosmos tidak meminta disembah. Galaksi tidak tersinggung kalau ada animalia ateis. Lubang hitam tidak akan mengurangi pahala. Dan radiasi kosmik tidak akan berhenti hanya karena Sang Maha Singularitas murka atau atau akan berubah menjadi Gamma-Ray Burst sebagai bentuk Azab-nya. 

Bukti Tidak Pernah Minta Dipercaya 

Model Big Bang mengada bukan karena ada orang yg bermimpi di dalam gua lalu bangun dan keluar membawa wahyu. Model Big Bang bertahan karena berkali-kali lolos uji.  Dari ujian, Radiasi latar belakang kosmik; Pergeseran merah galaksi; dan Ekspansi ruang-waktu. 

Semua ujian-ujian itu bukan hasil meditasi, bukan pula bisikan malaikat lewat mimpi. Melainkan hasil menggauli teleskop-teleskop, memandang angkasa, memetakan cahaya, mengitung secara matematika, eksperimen, dan dan peran ribuan ilmuwan yang saling berusaha dan bersaing untuk membuktikan bahwa ada yang salah dengan teori sebelumnya. 

Aneh memang. Dalam dunia sains, cara tercepat menjadi terkenal adalah berhasil membuktikan ilmuwan lain itu keliru. Dalam agama, bertanya adalah cara tercepat mendapat masalah. Dikucilkan, atau dianggap murtad. Dan ujungnya boleh dibunuh! 

Stardust Jauh Lebih Romantis daripada Tanah Liat

Sains tidak menawarkan surga. Tetapi ia menawarkan sesuatu yang sebenarnya lebih menarik. Kemungkinan bahwa atom karbon dalam tubuh kita, juga ada di inti sebuah bintang yang usianya miliaran tahun, bahkan sebelum Matahari kita lahir. Besi dalam darah ditempa oleh ledakan supernova. Oksigen yang dihirup berasal dari generasi bintang yang sudah mati jauh sebelum manusia mengenal roda. 

Artinya... saya adalah debu bintang yang berevolusi cukup lama hingga akhirnya mampu berdebat di internet mengenai Big Bang itu kepercayaan atau bukan. Kalau hal ini bukan ironi kosmik, saya tidak tahu lagi bagaimana saya menyebutnya. 

Dan asiknya lagi…kisah Big Bang ini tidak membutuhkan ular yang bisa berbicara, pohon ajaib, ataupun buah Kuldi yang dijadikan kambing hitam selama ribuan tahun. Jadi, Big Bang bukan agama. Bukan keyakinan. Bukan kepercayaan. Bukan kebenaran mutlak yang abadi. 
Big Bang bukan objek penyembahan, bukan pula doktrin yang kebal kritik. Ia hanyalah model ilmiah terbaik yang kita miliki saat ini untuk menjelaskan bagaimana alam semesta berevolusi sejak milyaran tahun lalu. 

Trus, Kalau besok besok Big Bang terbukti salah?

Para ilmuwan masa depan pasti sudah punya jawaban yang terbaik sebagai pengganti Model Big Bang. Yang pasti bukan pernyataan “Ciptaan tuhan dewa allah”. 

Jika ilmuwan masa depan menemukan Model Baru, maka penemuan mereka TIDAK AKAN dilaporkan dan di jerat dengan Undang Undang Penistaan oleh para ilmuwan lainnya. Tidak akan ada fatwa dari ilmuwan-ilmuwan sebelumnya. Tidak ada perang suci. Paling-paling hanya revisi jurnal, konferensi ilmiah, dan beberapa profesor suka tidak suka harus memperbarui slide materi kuliahnya. Sama persis ketika Planet Pluto kehilangan statusnya sebagai planet utama. 

Begitulah bedanya ilmu pengetahuan dengan dogma. Agama, dogma, dan tuhan dewa allah lewat wakil-wakilnya sibuk mencari cara agar bisa terus benar. Sementara ilmuwan dan peneliti mencari cara agar penemuan yang sudah benar menjadi salah dan diperbaharui. Karena itu mereka tidak takut salah.

Comments

Popular posts from this blog

MENJELASKAN ATEISME PADA ANAK | MEMAHAMI BEDA ATEISME DAN KOMUNISME

MEMAHAMI BEDA ATEISME DAN KOMUNISME "Ayah, Ayah! Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Dani, anak laki-laki yg berusia 8 tahun, sambil menarik ujung baju ayahnya yang sedang mengetik. Ayahnya tersenyum. "Tentu saja, jagoan. Ada apa?" "Tadi di sekolah, teman-teman ngobrolin kata-kata aneh. Ada ateisme sama komunisme. Itu apa, Yah?" Ayah melipat laptopnya dan berpaling menghadap Dani, "Pertanyaan bagus. Ayah akan jelaskan pelan-pelan ya, biar dirimu mengerti." "Pertama, kita bahas ateisme dulu ya," kata Ayah. "Dani tahu kan, kalau banyak orang percaya sama tuhan? Mereka berdoa, ke gereja, ke masjid, Sinagog, Pura, Wihara, Klenteng, bahkan ada juga yang tidak punya tempat khusus untuk berdoa." Dani mengangguk. "Iya, Ayah. Aku tahu!" "Nah, ateisme itu artinya seseorang yg tidak percaya kalau tuhan itu ada. Bukan berarti seseorang itu jahat atau baik, Ia punya cara pandang sendiri tentang dunia. Menurutnya segala sesuatu y...

TUHAN LUPA MEMANUSIAKAN MANUSIA ATAU TUHAN MEMANG TIDAK BERMORAL

Coba bayangkan hidup di dunia tanpa RT/RW , tanpa KTP , SIM , paspor , atau akta kelahiran . Kedengarannya sepele, kan? Tapi tanpa dokumen dokumen itu, kita “hilang” dari sistem sosial. Anak lahir tanpa akta, bisa dianggap tidak ada; orang mati tanpa surat kematian, bisa dianggap masih hidup, minimal masih ada dalam daftar pemilih tetap. Di dunia modern, eksistensi kita bukan cuma soal bernapas, tapi soal apakah nama kita tercatat rapi dalam arsip negara. Identitas kita bukan sekadar wajah atau suara, tapi juga nomor seri resmi yang dicetak di selembar kertas bercap kota. Selain dokumen, ada yang menjaga kita dari kekacauan, yaitu hukum. Aturan lalu lintas misalnya, kalau semua orang nyupirnya kayak Fast & Furious, jalan raya jadi Hunger Games . Jika hukum gagal, masih ada polisi tak terlihat  yang bernama opini publik . Kita pakai baju aneh, orang menatap; kita buang sampah sembarangan, orang merekam. Malu bisa jadi hukuman lebih tajam daripada denda. Hidup modern pada dasarn...

GENOSIDA BERSAMA TUHAN: DARI AMALEK SAMPAI AT-TAUBAH, KEKERASAN JADI TIKET SURGA

  Kekerasan adalah bagian dari sejarah manusia. Bahkan bisa disebut sebagai “bahasa universal” yang dipahami semua kelompok, jauh sebelum ada alfabet, kitab suci Abrahamik, bahkan ketika emoji sudah dibikin filmnya. Dalam antropologi, kekerasan selalu muncul sebagai mekanisme bertahan hidup sekaligus cara menyelesaikan konflik; dari perebutan wilayah berburu, ritual pengorbanan, sampai penaklukan peradaban. Sosiolog klasik seperti Émile Durkheim melihatnya sebagai bagian dari proses menjaga kohesi kelompok: musuh di luar dipukul dulu, baru kita bisa duduk di dalam rumah dengan tenang. Singkatnya, sejak awal peradaban, manusia lebih percaya pada batu dan tombak daripada meja bundar atau “dialog kebangsaan.” Tapi ada satu “inovasi kekerasan” yang cukup unik: ketika kekerasan dilabeli nama ‘tuhan dewa allah.’ Begitu naik level jadi “perintah dari langit,” kekerasan berubah dari sekadar pembantaian menjadi ritual suci. Kalau ada warga kampung merampok lalu membantai tetangga yang meng...