Halo, sesama primata tak berbulu yang kebetulan masih diberi kesempatan menghirup oksigen. Ada satu kesalahpahaman kosmis yang entah kenapa masih terus bereinkarnasi di kolom-kolom komentar internet.
"Kalau kamu bisa percaya Big Bang, artinya kamu juga punya agama."
Jawabnya: TIDAK!
Kalau ada yang berkata, "Saya percaya bumi mengelilingi Matahari," bukan berarti Matahari resmi menjadi tuhan, karena terselip kata “percaya”. So, yang membedakan antara model ilmiah dengan kepercayaan itu bukan “ada atau tidak adanya keyakinan”, tapi cara keyakinan itu diperoleh, kemudian diteliti, diuji, dan kalau tidak terbukti buang ke tempat sampah.
Big Bang Tidak Punya Kitab Suci
Banyak orang mengira kosmologi adalah agama dengan seragam laboratorium, agama dengan tuhan ilmiah atau menyembah ilmu pengetahuan.
Pertanyaan berikutnya:
"Jadi kalian mengimani bahwa alam semesta berasal dari ledakan?"
Jawabnya: TIDAK!
Saya “menerima” bukan “mengimani” model Big Bang, sebab sampai hari ini hanya model Big Bang-lah yang punya penjelasan paling sesuai dengan data. Singkatnya logis dan punya bukti ilmiah, sudah diteliti oleh ribuan orang selama berpuluh bahkan hampir seratus tahunan.
Jika besok, di masa depan, ada teori baru tentang penciptaan yang lebih baik dan lebih mampu menjelaskan seluruh bukti, para astronom tidak akan marah. Tidak tersinggung, malah bahagia ada penemuan baru yang lebih baik. Ada kebenaran baru yang lebih benar dan logis. Bahkan mereka akan menerbitkan jurnal-jurnal pendukung atau malah penyangga.
Coba bandingkan dengan sistem kepercayaan dan sistem keimanan yang menganggap pertanyaan sebagai dosa.
Dalam sains, teori berubah karena bukti.
Dalam dogma, bukti sering kali dipaksa berubah agar sesuai dengan kitab suci. Alih-alih ahli kitab itu meneliti. Mereka cuma otak athik gathuk, mencocok-cocokkan kerja keras ilmuwan puluhan tahun dengan sebaris kalimat dalam kitab suci.
Itulah perbedaannya. Jauh, kan?
Tidak Ada Ibadah Wajib Hari Jumat untuk Sang Singularitas
Sekali lagi mari kita bayangkan jika Big Bang benar-benar sebuah agama baru, kehidupan para astronom itu pasti sangat melelahkan. Setiap Jumat atau Minggu mereka berkumpul di observatorium. Menghadap teleskop. Lalu bersama-sama mendaraskan doa:
"Wahai Singularitas Yang Maha Padat, muliakanlah ekspansi-Mu."
Bukti Tidak Pernah Minta Dipercaya
Model Big Bang mengada bukan karena ada orang yg bermimpi di dalam gua lalu bangun dan keluar membawa wahyu. Model Big Bang bertahan karena berkali-kali lolos uji. Dari ujian, Radiasi latar belakang kosmik; Pergeseran merah galaksi; dan Ekspansi ruang-waktu.
Stardust Jauh Lebih Romantis daripada Tanah Liat
Sains tidak menawarkan surga. Tetapi ia menawarkan sesuatu yang sebenarnya lebih menarik. Kemungkinan bahwa atom karbon dalam tubuh kita, juga ada di inti sebuah bintang yang usianya miliaran tahun, bahkan sebelum Matahari kita lahir. Besi dalam darah ditempa oleh ledakan supernova. Oksigen yang dihirup berasal dari generasi bintang yang sudah mati jauh sebelum manusia mengenal roda.
Artinya... saya adalah debu bintang yang berevolusi cukup lama hingga akhirnya mampu berdebat di internet mengenai Big Bang itu kepercayaan atau bukan. Kalau hal ini bukan ironi kosmik, saya tidak tahu lagi bagaimana saya menyebutnya.
Dan asiknya lagi…kisah Big Bang ini tidak membutuhkan ular yang bisa berbicara, pohon ajaib, ataupun buah Kuldi yang dijadikan kambing hitam selama ribuan tahun.
Jadi, Big Bang bukan agama. Bukan keyakinan. Bukan kepercayaan. Bukan kebenaran mutlak yang abadi.
Big Bang bukan objek penyembahan, bukan pula doktrin yang kebal kritik. Ia hanyalah model ilmiah terbaik yang kita miliki saat ini untuk menjelaskan bagaimana alam semesta berevolusi sejak milyaran tahun lalu.
Trus, Kalau besok besok Big Bang terbukti salah?
Para ilmuwan masa depan pasti sudah punya jawaban yang terbaik sebagai pengganti Model Big Bang. Yang pasti bukan pernyataan “Ciptaan tuhan dewa allah”.
Jika ilmuwan masa depan menemukan Model Baru, maka penemuan mereka TIDAK AKAN dilaporkan dan di jerat dengan Undang Undang Penistaan oleh para ilmuwan lainnya. Tidak akan ada fatwa dari ilmuwan-ilmuwan sebelumnya. Tidak ada perang suci. Paling-paling hanya revisi jurnal, konferensi ilmiah, dan beberapa profesor suka tidak suka harus memperbarui slide materi kuliahnya. Sama persis ketika Planet Pluto kehilangan statusnya sebagai planet utama.
Begitulah bedanya ilmu pengetahuan dengan dogma. Agama, dogma, dan tuhan dewa allah lewat wakil-wakilnya sibuk mencari cara agar bisa terus benar. Sementara ilmuwan dan peneliti mencari cara agar penemuan yang sudah benar menjadi salah dan diperbaharui. Karena itu mereka tidak takut salah.
.png)
Comments
Post a Comment